Pengalaman terpapar Covid-19 membuat kami sekeluarga mendapatkan banyak sekali pembelajaran. Suport dan dukungan dari saudara, teman, tetangga menjadi obat mujabar bagi kami.
Ketika dinyatakan positif dan harus karantina selama 14 hari menyebabkan kami tidak bisa bebas beraktivitas di luar rumah. Selain karena tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar juga berkurangnya energi untuk beraktivitas.
Alhamdulillah, bantuan yang terus berdatangan baik dari saudara, tetangga, teman-teman, rekan kantor saya, suami dan anak. Bahkan teman yang baru kenal dalam satu komunitas, banyak memberikan bantuan, padahal bertemu pun belum pernah.
Pada tulisan awal, saya menyampaikan pengalaman terinfeksi Covid-19. Kali ini pengalaman bagaimana bantuan dari saudara, teman, rekan kerja yang menyadarkan saya, betapa saya tidak pernah terlibat dan ikut membantu saudara/teman yang terkena musibah apalagi pada saat pandemi seperti sekarang ini.
Pengalaman ini adalah pengalaman saya secara pribadi. Saya, suami dan tiga anak dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 dengan gejala yang berbeda-beda. Kebutuhan setiap orang, kebutuhan setiap keluarga akan berbeda. Semoga dapat memberikan informasi kebutuhan saudara/teman atau tetangga kita yang sakit.
Apa yang bisa dibantu?
Berbagai kebutuhan pokok adalah yang utama diperlukan selain itu, keperluan prokes menjadi penting bagi kami,
1. Makanan siap konsumsi adalah yang paling menolong pada saat puncak sakit. Saya mulai merasakan sakit yang sangat berat pada hari ke 4 atau 5 setelah gejala pertama (demam, sakit kepala dan sakit badan), selama sekitar 5 hari. Suami dan anak pertama disarankan makananan lembek, sehingga salama beberapa hari makan dengan nasi tim.
Beban akan lebih berat ketika si ibu juga sakit. Bagi saya sendiri, menyiapkan makanan untuk keluarga, tiga kali sehari dengan kondisi sama-sama sakit menjadi pekerjaan berat. Walaupun kami tidak berselera makan namun makan tetap kami paksakan agar mendapat energy yang cukup.
Walaupun bisa memesan go food, tapi karena kami tidak berselera dan tidak terfikir untuk makan apa, sehingga go food belum menjadi pilihan. Namun ketika keadaan sudah membaik, kami sesekali pesan makanan siap saji.
2. Makanan froozen, bagi saya, sangat membantu karena mudah untuk dimasak dan disajikan.
3. Masker, minyak kayu putih dan obat kumur. Ketika kami sekeluarga dinyatakan positif, dalam berkativitas di rumah pun menggunakan masker. Minyak kayu putih sangat membantu untuk pernafasan (dihisap) dan obat kumur untuk memberishkan area mulut
Menurut saya, tiga hal ini yang paling diperlukan ketika salah satu keluarga terpapar apalagi jika satu keluarga yang terpapar.
4. Air minum, karena kami harus mengkonsumsi ari minum yang banyak. Kami menyiapkan air kemasan yang dibuthkan untuk 5 orang.
5. Beras dan minyak sayur, adalah kebutuhan utama. Sebagian orang biasanya sudah menyediakan ini untuk jangka waktu satu bulan. Tetapi diantara saudara kita mungkin tidak, atau tidak sempat menyiapkan.
6. Supplement, vitamin dan madu; dianjurkan untuk dikonsumsi pada masa sakit dan masa pemulihan.
Saya mendapatkan berbagai vitamin, madu dan supplement dari saudara dan teman. Bahkan ada yang memberikan obat kumur, empon-empon, minyak kayu putih dan berbagai keperluan lainnya.
7. Peralatan mandi dan cuci; karena waktu dua minggu di rumah saja tanpa persiapan yang lengkap ternyata ini juga menjadi kebutuhan.
8. Cemilan; juga menjadi makanan penting bagi kami. Salah satu anak saya dengan keseharian sulit makan nasi/berat. Dia lebih suka ringan/kue/keripik.
Saya mendapatkan banyak kiriman cemilan dan sangat membantu , terutama untuk anak-anak.
Bagaimana sebaiknya bertanya?
Menanyakan kabar kepada kami menjadi penyemangat. Beberapa teman hampir setiap hari menanyakan kondisi kami dan memberikan support.
Yang harus dihindari adalah pertanyaan yang tidak ada relevannya dengan kita, misalnya Kok bisa kena? Emang dari mana? Abis ngapain? Dan bertanya detail seperti ‘menginvestigasi’.
Hindari menanyakan, berapa CT nya? kapan di swab? Kapan akan di swab lagi? Urusan swab atau CT adalah urusan pendertia dengan dokter atau tim medis. Lebih baik menanyakan kabar hari ini dengan memberikan semangat.
Bagi saya, saat sakit membaca wa apalagi membalas wa juga membutuhkan energy. Tetapi ketika sedang istirahat, membaca wa atau media social lainnya menjadi hiburan.
Dampak Covid-19 bukan hanya pada kesehatan fisik tetapi mental juga. Saya merasakan lebih sensitif dan ketika fisik sudah membaik pun kesensitifan masih tinggi. Mungkin kondisi ini akan berbeda untuk setiap orang, tetapi pengalaman ini menyadarkan saya bahwa simpati dalam berkomunikasipun sangat diperlukan.
Bagaimana kerjasama antar keluarga?
Sebagai ibu, kita tetap harus melaksanakan pekerjaan rumah. Namun kita perlu mengukur kekuatan diri, jangan dipaksakan. Pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci dan yang lainnya lakukan sesempatnya saja. Buat prioritas , jangan berharap semua bisa dikerjakan dan selesai.
Menyiapkan makanan adalah prioritas utama. Bagi saya, mengecek kondisi keluarga lebih penting dari pada menyapu atau mencuci. Saat kondisi suami dan anak yang sedang sakit-saktinya tentu akan membutuhkan perhatian yang lebih.
Kami bekerjasama dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Anak yang kecil, dengan gejala yang ringan membantu saya mencuci pakaian dari sejak awal. Suami dan anak yang lain, membantu setelah kondisi mereka cukup baik. Intinya, jangan memaksakan diri dan jangan pula memaksakan pekerjaan kepada yang lain.
Saling memahami sangat penting artinya. Suami dan anak-anak tidak pernah protes atau menggerutu ketika saya istirahat atau tidur. Masing-masing perlu ada waktu untuk istirahan yang cukup untuk memberikan energi bagi diri sendiri. Bagi saya, tidur adalah me time yang penting.
Berterimakasih kepada adik ipar, yang hampir setiap hari mengirimkan makanan dan menggantungnya di pagar rumah. Adik yang memberikan banyak makanan, begitu pula dengan tetangga sekitar rumah. Teman saat kuliah, teman sekolah, rekan kerja mengirimkan berbagai kebutuhan. Ada paman kami yang selalu sedia untuk dimintakan tolong, mengambil obat, membeli gallon air dan berbagai kebutuhan lainnya. Alhamdulillah….
Silih Tulungan,
Tidak semua lingkungan menerima ketika tetangga atau temanya terpapar Covid-19. Banyak dari teman kita yang mendapatkan reaksi negatif. Padahal mengurus diri sendiri saja sudah kepayahan. Terpapar Covid-19 tidak hanya berdampak pada fisik saja, tetapi dampak psikologis juga terjadi.
Jika kita tidak bisa memberi, setidaknya tidak memperberat beban. Mengucapkan simpati terhadap yang sakit atau keluarga, sudah memberikan pertolongan yang teramat banyak. Jika kita memiliki dana lebih, bisa membantu dengan membelikan kebutuhan yang sakit. Pengalaman kami, walaupun bisa membeli sendiri tetapi karena ruang gerak kita terbatas (karantina) dan kondisi yang lelah, bantuan-bantuan yang diberikan sangat berarti.
Pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran kepada kita. Bagaimana kita bersikap, bagaimana membantu sesama, bagaimana bersimpati dan upaya-upaya lainnya yang bisa membantu penderita. Bagian pentingnya adalah bagaimana kita berperan ketika menjadi tetangga, menjadi teman, menjadi saudara, rekan kerja bagi yang terpapar Covid-19. Apa yang bisa kita bantu? Terutama bagi saudara kita yang pendapatannya pas pasan.
Lebih penting lagi, MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN dalam keseharian kita adalah SILIH TULUNGAN YANG TERAMAT PENTING. Menolong tidak memaparkan kepada yang lain, menolong tidak menambah yang sakit, menolong tenaga kesehatan yang semakin kepayahan, menolong orang tetap produktif, menolong perekonomian keluarga karena tetap bisa mencari nafkah dan tidak perlu mengeluarkan biaya kesehatan, menolong anak bisa tetap belajar karena tidak sakit.
Dampak baik ini akan bermanfaat besar jika dilakukan bersama-sama secara masif. Maka jadilah bagian penting dari SILIH TULUNGAN dangan MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN.