Sunday, March 19, 2017

WAJAH di FOTO



Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi tumpukan pekerjaan di mejaku terus melambai-lambai seolah sudah bosan sejak beberapa hari ini dibiarkan tergeletak. Aku sudah niatkan, hari ini harus selesai! 

Satu-satuku baca. Ada undangan dari instansi lain, aku masukkan dalam agenda sebagai pengingat. Sebagian didisposisikan kepada staf karena sering kali 2 atau 3 undangan berbarengan waktunya. Sisanya berupa laporan atau informasi dari beberapa instansi tentang hasil pekerjaannya, terutama terkait aspek lingkungan yang disampaikan kepada  Pak Gubernur. Ya, karena bagian pekerjaanku terkait dengan urusan-urusan lingkungan. 

Tinggal satu lagi yang belum selesai, membuat surat resmi. Walaupun hasil pekerjaanku baru ditunggu lusa tetapi akan aku selesaikan sekarang. Hari ini memang aku lebih semangat, mungkin karena kemarin sudah week end atau efek kafein yang sudah mulai beraksi memberi tambahan semangat.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima. Aku melirik ke ruang sebelah, tampak teman-teman masih bercanda. Walaupun tidak terlalu jelas perbincangan mereka tetapi tawa mereka menjadikan suasana lebih meriah.
Alhamdulillah, berarti diruangan aku tidak sendirian.

Kuteruskan pekerjaanku. Aku coba berfikir keras, memilih kata-kata yang tepat dan sebaik mungkin. Membuat surat resmi, apalagi untuk pimpinan tertinggi tidaklah mudah.  Selain tata bahasanya, penggunaan  kata yang tepat harus menggambarkan makna yang jelas.

Akhirnya, selesai juga surat yang aku tulis. Dua lembar,  terlalu panjang untuk surat resmi. Tak apalah, besok bisa diedit setelah ada koreksi dari atasanku. 

Aku melirik lagi jam dinding, sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi adzan magrib. Lebih baik aku shalat dulu saja. Di ruangan sebelah, ternyata anak buahku tinggal satu orang.

 “kok belum pulang?”, sapaku.

“Ya bu, ini sambil nunggu magrib, soalnya macet”. Jawabnya. Oh, ternyata alasan yang sama denganku.

Sayup-sayup terdengan adzan Magrib. Aku segera bergegas membereskan barang-barangku   dan menuju mushola di Gedung Sate. Aku bisa langsung pulang setelah shalat dan tak perlu balik lagi ke ruanganku, jadi kubawa serta tas dan temannya. Untuk mencapai mushola, aku harus keluar gedung, melewati taman. Ruang kerjaku berada di gedung baru (gedung disamping Gedung Sate) tetapi masih dalam komplek Gedung Sate.

Sesampai di Mushola, sudah ada beberapa orang yang siap-siap akan melaksanakan shalat berjamaah. Aku suka berlama-lama di mushola, rasanya tenang sekali. Mushola yang berada di basment memang dibuat agar kita nyaman . Karpet merah yang tebal serta ornamen sederhana menjadikan Mushola ini tampak cantik.

Setelah mengucapkan salam dan berzikir, aku kemudian menuju tempat parkir. Karena hari ini penuh acara, tempat parkir yang biasa aku gunakan sudah terisi, sehingga aku parkir di sisi timur gedung sate. Untuk sampai di sana, tentu saja aku harus melewati lorong sampai ujung. Sebenarnya bisa saja berputar,  melewati taman. Tetapi sore ini hujan masih inging turun, dari pada kehujanan, ya sudah aku lewat lorong basement menuju halaman parkir timur.


Lorong di basement Gedung Sate, sepanjang dinding kiri dan kanan dipajang foto aktivitas para pejabat. Sebelah kanan, dulu merupakan mushala dan sekarang sudah menjadi ruang tunggu tamu.

Seperti biasa, aku mengamati foto yang tertera di dinding tembok megah basement Gedung Sate . Tampak foto Gubernur berserta istri, Wakil Gubernur beserta istri dan para pejabat lainnya dengan moment-moment penting. Fotonya berderet sepanjang lorong. Sampai melewati persimpangan, aku lihat jam ditanganku, jam tujuh lebih sepuluh, pantas tampak sepi sekali. Aku meneruskan langkahku menyusuri lorong dan tentu  saja sambil melihat deretan foto.

Setelah beberapa langkah menjauh dari persimpangan,  aku  tertarik dengan pajangan foto dideretan ketiga. Tampak para pejabat sedang mengangkat tropi, orang-orang disektiarnya bertepuk tangan dan menatap pejabat ini. Kemudian mataku tertuju pada satu wajah, perempuan muda, cantik  alami dan berwajah asli Indonesia.

Aku sangat terpesona melihat wajahnya, aku mendekat dan lebih dekat!
Wajah wanita ini berbeda dengan wajah orang-orang sekitarnya dengan gaya berbeda. Dia menggunakan kebaya brokat warna hijau. Senyum manisnya menambah keanggunannya.

Kutatap wajah cantik itu, semakin ku tatap dengan tajam.
Ternyata dia  tidak memperhatikan pejabat disampingnya, dia melihat lurus ke depan! Tepat menatap wajahku! Senyumnya semakin lebar!
Aku terhentak! aku segera mundur, menjauh dari foto itu!
Astaghfirullah.

Aku bergegas meninggalkan lorong, aku tak mau lagi melihat foto-foto lain walupun masih banyak foto terpanjang di sekitarnya. 
TIDAK! Aku harus segera sampai di tempat parkir.

“Baru pulang bu?”suara yang membuyarkan fikiranku.  Pak satpam menyapa,  tepat  sebelum keluar dari lorong basement.

“Iya pa, mangga, saya pulang duluan”. Jawabku.

Menuju halaman parkir, gerimis menerpa wajahku dengan lembutnya. Sambil terus membaca doa, aku coba tenangkan diriku. Aku harus konsentrasi. Perjalanan meuju rumah masih cukup panjang. 

Bismilllahahirrohmanirrohim.