Jam
sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi tumpukan pekerjaan di mejaku terus
melambai-lambai seolah sudah bosan sejak beberapa hari ini dibiarkan tergeletak. Aku sudah niatkan, hari ini harus selesai!
Satu-satuku baca. Ada undangan
dari instansi lain, aku masukkan dalam agenda sebagai pengingat. Sebagian didisposisikan kepada staf karena sering kali 2 atau 3 undangan
berbarengan waktunya. Sisanya berupa laporan atau informasi dari beberapa
instansi tentang hasil pekerjaannya, terutama terkait aspek lingkungan yang
disampaikan kepada Pak Gubernur. Ya, karena bagian pekerjaanku terkait dengan
urusan-urusan lingkungan.
Tinggal
satu lagi yang belum selesai, membuat surat resmi. Walaupun hasil pekerjaanku
baru ditunggu lusa tetapi akan aku selesaikan sekarang. Hari ini memang aku lebih semangat, mungkin karena kemarin sudah week end
atau efek kafein yang sudah mulai beraksi memberi tambahan semangat.
Jam
dinding sudah menunjukkan pukul lima. Aku melirik ke ruang sebelah, tampak teman-teman
masih bercanda. Walaupun tidak terlalu jelas perbincangan mereka tetapi tawa
mereka menjadikan suasana lebih meriah.
Alhamdulillah, berarti diruangan aku
tidak sendirian.
Kuteruskan
pekerjaanku. Aku coba berfikir keras, memilih kata-kata yang tepat dan sebaik
mungkin. Membuat surat resmi, apalagi untuk pimpinan tertinggi tidaklah
mudah. Selain tata bahasanya,
penggunaan kata yang tepat harus
menggambarkan makna yang jelas.
Akhirnya, selesai juga surat yang aku tulis. Dua lembar, terlalu panjang untuk surat resmi. Tak apalah, besok bisa diedit setelah ada koreksi dari atasanku.
Aku melirik lagi jam dinding, sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi adzan magrib. Lebih baik aku
shalat dulu saja. Di ruangan sebelah, ternyata anak buahku tinggal
satu orang.
“kok belum pulang?”, sapaku.
“kok belum pulang?”, sapaku.
“Ya
bu, ini sambil nunggu magrib, soalnya macet”. Jawabnya. Oh, ternyata alasan
yang sama denganku.
Sayup-sayup
terdengan adzan Magrib. Aku segera bergegas membereskan barang-barangku dan
menuju mushola di Gedung Sate. Aku bisa langsung pulang setelah shalat dan tak
perlu balik lagi ke ruanganku, jadi kubawa serta tas dan temannya. Untuk mencapai mushola, aku harus keluar gedung, melewati taman. Ruang kerjaku berada di gedung baru
(gedung disamping Gedung Sate) tetapi masih dalam komplek Gedung Sate.
Sesampai
di Mushola, sudah ada beberapa orang yang siap-siap akan melaksanakan shalat
berjamaah. Aku suka berlama-lama di mushola, rasanya tenang sekali. Mushola
yang berada di basment memang dibuat agar kita nyaman . Karpet merah yang tebal
serta ornamen sederhana menjadikan Mushola ini tampak cantik.
Setelah
mengucapkan salam dan berzikir, aku kemudian menuju tempat parkir. Karena hari
ini penuh acara, tempat parkir yang biasa aku gunakan sudah terisi, sehingga aku parkir di sisi timur gedung sate. Untuk sampai di sana, tentu saja aku harus
melewati lorong sampai ujung. Sebenarnya bisa saja berputar, melewati taman. Tetapi sore ini hujan masih inging
turun, dari pada kehujanan, ya sudah aku lewat lorong basement menuju halaman
parkir timur.
Lorong di basement Gedung Sate, sepanjang dinding kiri dan kanan dipajang foto aktivitas para pejabat. Sebelah kanan, dulu merupakan mushala dan sekarang sudah menjadi ruang tunggu tamu.
Seperti
biasa, aku mengamati foto yang tertera di dinding tembok megah basement
Gedung Sate . Tampak foto Gubernur berserta istri, Wakil Gubernur beserta istri
dan para pejabat lainnya dengan moment-moment penting. Fotonya berderet
sepanjang lorong. Sampai melewati persimpangan, aku lihat jam ditanganku, jam
tujuh lebih sepuluh, pantas tampak sepi sekali. Aku meneruskan langkahku
menyusuri lorong dan tentu saja sambil
melihat deretan foto.
Setelah
beberapa langkah menjauh dari persimpangan,
aku tertarik dengan pajangan foto
dideretan ketiga. Tampak para pejabat sedang mengangkat tropi,
orang-orang disektiarnya bertepuk tangan dan menatap pejabat ini. Kemudian
mataku tertuju pada satu wajah, perempuan muda, cantik alami dan berwajah asli Indonesia.
Aku sangat terpesona melihat wajahnya, aku mendekat dan lebih dekat!
Aku sangat terpesona melihat wajahnya, aku mendekat dan lebih dekat!
Wajah wanita ini berbeda
dengan wajah orang-orang sekitarnya dengan gaya berbeda. Dia menggunakan kebaya
brokat warna hijau. Senyum manisnya menambah keanggunannya.
Kutatap wajah cantik itu, semakin ku tatap dengan tajam.
Ternyata dia tidak memperhatikan pejabat disampingnya, dia melihat lurus ke depan! Tepat menatap wajahku! Senyumnya semakin lebar!
Aku terhentak! aku segera mundur, menjauh dari foto itu!
Kutatap wajah cantik itu, semakin ku tatap dengan tajam.
Ternyata dia tidak memperhatikan pejabat disampingnya, dia melihat lurus ke depan! Tepat menatap wajahku! Senyumnya semakin lebar!
Aku terhentak! aku segera mundur, menjauh dari foto itu!
Astaghfirullah.
Aku bergegas meninggalkan lorong, aku tak mau lagi melihat foto-foto lain walupun masih banyak foto terpanjang di sekitarnya.
Aku bergegas meninggalkan lorong, aku tak mau lagi melihat foto-foto lain walupun masih banyak foto terpanjang di sekitarnya.
TIDAK! Aku harus segera sampai di
tempat parkir.
“Baru
pulang bu?”suara yang membuyarkan fikiranku.
Pak satpam menyapa, tepat
sebelum keluar dari lorong basement.
“Iya
pa, mangga, saya pulang duluan”. Jawabku.
Menuju
halaman parkir, gerimis menerpa wajahku dengan lembutnya. Sambil terus membaca
doa, aku coba tenangkan diriku. Aku harus konsentrasi. Perjalanan meuju rumah
masih cukup panjang.
Bismilllahahirrohmanirrohim.

saat ceu epon bekerja masih di gesat ya... memang kadang2 spt itu sebagai penghu i gedung baru dan pernah beberapa kali tidak pulang dr kantor banyak hal yg membuat rekan2 staf mengatakan "suasana yg berbeda"... mungkin itu yg beda nya..
ReplyDeleteeleuh...horor geuningan.....
DeleteFoto siapa tuh??
ReplyDeleterahasia...heuheu
Delete