Friday, April 14, 2017

Industri Tekstil dan Produksi Tekstil; Antara Ekonomi dan Lingkungan


Indonesia sudah sejak lama memiliki peran penting dalam perkembangan industri pertekstilan. Menjadi  10 negara yang memproduksi tekstil terbesar di dunia. Tekstil dan Produksti Tekstil atau dikenal dengan TPT merupakan salah satu industri yang perkembangannya terus meningkat. Industri TPT terbesar di dunia adalah Cina sedangkan ditingkat Asean, Vietnam menduduki posisi pertama. Kecenderungan industri TPT akan terus berkembang, seiring dengan semakin manisnya industri mode di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Sebagian besar indsutri TPT masih menggunakan teknologi lama dan membutuhkan jumlah air bersih yang banyak selama proses produksinya. Inilah yang menyebabkan industri Tekstil termasuk polluted Industry, industri yang memiliki potensi besar mencemarai lingkungan karena menghasilkan limbah (terutama limbah cair) yang banyak pula. Sebagian industri sudah melakukan pengolahan limbah cair dan sebagian lainnya membuang dengan bebasnya ke badan sungai atau selokan. Tak jarang ditemukan, aliran air yang berwarna warni nampak jelas  secara kasat mata.

Salah satu industri, membuang limbahnya ke sungai (tim patroli sungai provinsi Jabar)

Bagaimana kemudian memerankan industri TPT menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan? Tentu akan memerlukan kerja keras, kerjasama dan komitmen yang kuat teruma dari industri itu sendiri.  

Perkembangan Industri Tekstil di Indonesia.
Konsumsi TPT diperkirakan dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Selain sebagi produsen TPT, Indonesia juga merupakan pasar TPT yang cukup besar. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi incaran dari negara lain sebagai pasar produk TPT.

Meningkatnya industri kreatif fesyen, produk-produk Distro serta busana muslimah Indonesia yang saat ini menjadi kiblat industri busana muslim dunia, tentunya memberikan catatan tersendiri. Perkembangan industri ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk terus meningkatkan dan mengembangkan industri TPT, terutama di Jawa Barat sebagai sentra industri tekstil yang terpusat di Cekungan Bandung, yaitu Kabupaten Bandung,Cimahi, Sumedang, Bandung Barat dan kabupaten lainnya.

Sebaran industri TPT terbanyak berada di Jawa Barat yaitu sekitar 57%, Jawa Tengah 14%, Jakarta 12% dan sisanya tersebar yang sebagian besar berada di Jawa.

Industri TPT terbagi menjadi Garmen yang merupakan produksi terbesar sekitar 55%, kemudian pemintalan dan penenun sekitar 15,6%.  Walaupun demikian,  ternyata industri TPT masih banyak menggunakan mesin tua yaitu hampir  80%  yang telah berusia 20 tahun sehingga produktivitasnya berkurang menjadi 50%. Untuk itu, melalui Kementerian perindustrian,  telah meluncurkan program restrukturisasi mesin tekstil dan TPT. Tahun 2011 alokasi restrukturisasi TPT  Rp. 151 M untuk membiayai 66 perusahaan dari 230 perusahaan yang mengajukan permohonan. Menurut asosiasi pertekstilan, Tahun 2012 membutuhkan restrukturisasi mesin TPT sebesar Rp.250 M.

Selain itu, produk tekstil juga merupakan salah satu penghasil devisa terbesar untuk Indonesia, sekitar US$13,5 miliar sampai US$14 miliar per tahun . Namun Vietnam sudah mencapai US$22 miliar sampai US$23 miliar. Hampir dua kali lipat Indonesia.

Jejak Limbah Cair Tekstil
Industri tekstil termasuk industri yang berpotensi  mencemari lingkungan karena dalam prosesnya menghasilkan berbagai limbah cair. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka dibutuhkan kualitas air yang bagus. Karena itu, industri tekstil khususnya di Jawa Barat masih menggunakan air tanah dalam memenuhi produksi tekstilnya. Hal ini juga karena ketersediaan sumber air permukaan untuk proses produskti tekstil tidak tersedia dan tentu saja, akan membutuhkan biaya yang besar untuk treatment sebelum air itu digunakan.

Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sintesis.

Serat buatan dan serat alam (kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil dengan menggunakan serangkaian proses. Serat kapas dibersihkan sebelum disatukan menjadi benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum proses penenunan atau perajutan, benang buatan maupun kapas dikanji agar serat menjadi kuat dan kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat gelatin, getah, polivinil alkohol (PVA) dan karboksimetil selulosa (CMC).

Penenunan, perajutan, pengikatan dan laminasi merupakan proses kering. Sesudah penenunan serat dihilangkan kanjinya dengan asam (untuk pati) atau hanya air (untuk PVA atau CMC). Penghilangan kanji pada kapas dapat memakai enzim. Sering pada waktu yang sama dengan pengkanjian, digunakan pengikisan (pemasakan) dengan larutan alkali panas untuk menghilangkan kotoran dari kain kapas. Kapas juga dapat dimerserisasi dengan perendaman dalam natrium hidroksida, dilanjutkan pembilasan dengan air atau asam untuk meningkatkan kekuatannya. Penggelantangan dengan natrium hipoklorit, peroksida atau asam perasetat dan asam borat akan memutihkan kain yang dipersiapkan untuk pewarnaan. Kapas memerlukan pengelantangan yang lebih ekstensif daripada kain buatan (seperti pendidihan dengan soda abu dan peroksida). Di Indonesia denim biru (kapas) dicat dengan zat warna. Kain dibilas diantara kegiatan pemberian warna.


Salah satu instalasi pengolahan di industri TPT


Uraian di atas menggambarkan bahwa proses dalam menghasilkan satu benang menjadi sehelai kain dan akhirnya menjadi baju yang kita kenakan harus melalui proses panjang. Selain kapas yang menjadi bahan baku, air yang digunakan selama proses tersebut dan penggunaan berbagai bahan kimia, pada akhirnya akan terbawa bersama sisa-sisa limbah lainnya. 


 IPAL pada salah satu Kawasan Industri, luas dan teknologinya lebih baik


Mewujudkan Industri Ramah Lingkungan
Seiring dengan perkembangan jaman, isu lingkungan akan menjadi syarat bagi produksi TPT untuk dapat bersaing di dunia internasional. Bagaimana kemudian Industri TPT Indonesia menjadi industri ramah lingkungan? Bagaimana industri TPT bisa menjadi pelopor bagi industri lain dalam mengelola lingkungan?

Pemerintah Jawa Barat telah berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri TPT. Namun, degradasi lingkungan yang terjadi jauh lebih cepat dibandingkan upaya perbaikan yang dilakukan. Disamping itu, permasalahan yang sudah lama menjadi sangat kompleks.

PROPERDA merupakan salah satu program prioritas pemerintah Jabar dalam meningkatkan kepedulian industri untuk mengelola lingkungannya. Program lainnya adalah EPCM (Environmental Pollution Control Manager) yaitu sertifikasi kepada manager-manager lingkungan yang harus dimiliki oleh perusahaan.

Provinsi Jawa Barat juga memiliki program Patroli sungai, tim yang dibentuk dari masyarakat sekitar. Bertugas memantau aktivitas industri (terutama dalam aktivitas pembuangan limbahnya). Hasilnya cukup mengejutkan, sebagian besar industri masih banyak yang membuang limbahnya tanpa pengolahan terlebih dahulu. Saat ini, provinsi sudah bekerjasama dengan kabupaten/kota untuk menutup out fall (saluran pembuangan limbah dari industri ke alam) yang tidak sesuai dengan aturan. 

Penerapan program lingkungan lebih banyak folunter, tidak ada keharusan bagi industri dan tidak ada punishment yang bisa diberikan jika industri tidak terlibat. Sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan, maka program di bawah ini diharapkan bisa lebih meningkatkan upaya perbaikan,

1)    Kebijakan yang terintegrasi; Jawa Barat dengan potensi industri tekstil yang besar perlu merumuskan kebijakan/program terintegrasi antara pihak yang berkepentingan dalam industri termasuk perindustrian, perburuhan, peningkatan keterampilan dan program lainnya. Saat ini, Kementerian perindustrian terus berupaya meningkatkan kinerja dari industri TPT. Sebaiknya, program ini juga berbarengan dengan penerapaan kebijakan Lingkungan. Jika akan memberikan bantuan teknologi, pilihlah teknologi yang ramah lingkungan, hemat air dan energi. Pelatihan tenaga terampil harus diimbangi dengan pengetahuan dan pelatihan tentang proses industri yang ramah lingkungan. Hal yang terpenting, adalah memberikan bantuan bagi industri yang memang berkomitmen melaksanakan aturan-aturan lingkungan.

2)    Penerapan Produksi Bersih atau Cleaner Production, mengurangi limbah sejak awal proses. Lebih kepada ‘sistem kerja’,yang baik dan rapih, mengurangi ceceran limbah, mengurangi penggunaan bahan kimia yang berlebih atau penggunaan air yang tida efisien. Produksi bersih sering kali dianggap sepele, padahal dengan menerapkan metode ini, akan banyak mengurangi limbah dari awal dan proses produksi akan lebih efisien dan efektif.

3)  Pelibatan Buruh; Seyogyanya perburuhan yang merupakan komunitas buruh dalam meningkatkan kesejahteraan, bisa menjadi pionir untuk ikut meningkatkan kualitas lingkungan terutama selama proses yang menghasilkan limbah. Kekuatan buruh bisa dimanfaatkan sebagai pengawas lingkungan sekitar industri dan turut bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar industri.

4)    Penggunaan kembali air limbah, dikenal dengan recycle. Mengolah limbah yang dihasilkan untuk dimanfaatkan kembali pada proses produksi. Recycle akan berpengaruh besar terhadap konservasi air tanah dan lingkungan. Saat ini, industri masih merasa keberatan melakukan recycle dengan alasan pembiayaan yang besar. Beberapa industri (biasa industri besar) sudah melakukan sistem ini.

5)    Menangkap air hujan, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan sebagai  upaya mengurangi penggunaan air tanah. Walaupun sebagain industri sudah melakukan tetapi tidak banyak.  

6)    Monitoring On line; Jawa Barat bisa memulai untuk membangun sistem monitoring on line yang dimulai oleh industri-industri besar. Industri memberikan laporan perkembangan limbah hasil proses produksinya secara on line.

7)    Lokasi di kawasan Industri, pengelolaan limbah yang terpusat akan lebih mudah dan lebih murah jika dilakukkan terpusat. Kawasan industri juga akan mempermudah pengawasan oleh pemerintah

8)    Pengolahan Limbah sistem Off Site,  ketidak mampuan industri untuk mengolah limbahnya sendiri-sendiri bisa difasilitasi dengan pembangunan IPAL (instalasi Pengolahan Air Limbah ) Komunal. Pembangunan IPAL bisa dilakukan oleh pemerintah dengan membentu perusahaan daerah atau oleh pihak swasta. Limbah cair diangkut dengan transportasi (untuk limbahnya yang sedikit) atau dengan sistem perpipaan untuk limbah yang banyak dan kontinyu.

Besarnya kontribusi Industri TPT terhadap perekonomian Indonesia, termasuk Jawa Barat tidak diragukan lagi. Namun, bagaimana agar perkembangan industri TPT juga bisa sejalan dengan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan di Jawa Barat.

Saat ini, sering kali Bidang Lingkungan Hidup dianggap berbenturan dengan kebijakan pembangunan, dianggap menghambat pembangunan ekonomi suatu negara.  Padahal jika dianalisa lebih jauh, industri yang ramah lingkungan akan memberikan dampak positif ganda terhadap kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang dan memberikan nilai lebih terhadap produk yang dihasilkan.

Sudah menjadi tugas kita bersama bagaimana meningkatkan industri tekstil ini tanpa memberikan  dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Harapannya, bahwa antara perkembangan ekonomi (industri, tenaga kerja) bisa seiring sejalan dengan kebijakan Lingkungan.

Bagi kita sendiri, Mulailahi bijak membeli pakaian dan menggunakannya, satu helai pakaian berasal dari sehelai kain, berasal dari satu benang, menempuh proses panjang,  menggunakan air dan energy yang banyak,  tentu saja berkonsekuensi terhadap limbah yang berlimpah pula. Selama industri tidak berkomitmen terhadap lingkungan, selama itupula pencemaran akan terus berlangsung, berdampak pada kita sekarang dan anak cucu kita mendatang.

No comments:

Post a Comment