Wednesday, December 30, 2020

Silih Tulungan (Saling Menolong) saat Pandemi Covid-19

Pengalaman terpapar Covid-19 membuat kami sekeluarga mendapatkan banyak sekali pembelajaran. Suport dan dukungan dari saudara, teman, tetangga menjadi obat mujabar bagi kami.

Ketika dinyatakan positif dan harus karantina  selama 14 hari menyebabkan kami tidak bisa bebas beraktivitas di luar rumah. Selain karena tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar juga berkurangnya energi untuk beraktivitas.

Alhamdulillah, bantuan yang terus berdatangan baik dari saudara, tetangga, teman-teman,   rekan kantor saya, suami dan anak. Bahkan teman yang baru kenal dalam satu komunitas, banyak memberikan bantuan, padahal bertemu pun belum pernah.

Pada tulisan awal, saya menyampaikan pengalaman terinfeksi Covid-19. Kali ini pengalaman bagaimana bantuan dari saudara, teman, rekan kerja yang menyadarkan saya, betapa saya tidak pernah terlibat dan ikut membantu saudara/teman yang terkena musibah apalagi pada saat pandemi seperti sekarang ini.

Pengalaman ini adalah pengalaman saya secara pribadi. Saya, suami dan tiga anak dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 dengan gejala yang berbeda-beda. Kebutuhan setiap orang, kebutuhan setiap keluarga akan berbeda. Semoga dapat memberikan informasi kebutuhan saudara/teman atau tetangga kita yang sakit.

Apa yang bisa dibantu?

Berbagai kebutuhan pokok adalah yang utama diperlukan selain itu, keperluan prokes menjadi penting bagi kami,  

1.   Makanan siap konsumsi adalah yang paling menolong pada saat puncak sakit. Saya mulai merasakan sakit yang sangat berat pada hari ke 4 atau 5 setelah gejala pertama (demam, sakit kepala dan sakit badan), selama sekitar 5 hari. Suami dan anak pertama disarankan makananan lembek, sehingga salama beberapa hari makan dengan nasi tim.

Beban akan lebih berat ketika si ibu juga sakit. Bagi saya sendiri, menyiapkan makanan untuk keluarga, tiga kali sehari dengan kondisi sama-sama sakit menjadi pekerjaan berat. Walaupun kami tidak berselera makan namun makan tetap kami paksakan agar mendapat energy yang cukup.

Walaupun bisa memesan go food, tapi karena kami tidak berselera dan tidak terfikir untuk makan apa, sehingga go food belum menjadi pilihan. Namun ketika keadaan sudah membaik, kami sesekali pesan makanan siap saji.

2.   Makanan froozen, bagi saya, sangat membantu karena mudah untuk dimasak dan disajikan.

3.   Masker, minyak kayu putih dan obat kumur. Ketika kami sekeluarga dinyatakan positif, dalam berkativitas di rumah pun menggunakan masker. Minyak kayu putih sangat membantu untuk pernafasan (dihisap) dan obat kumur untuk memberishkan area mulut

Menurut saya, tiga hal ini yang paling diperlukan ketika salah satu keluarga terpapar apalagi jika satu keluarga yang terpapar.

4.   Air minum, karena kami harus mengkonsumsi ari minum yang banyak. Kami menyiapkan air kemasan yang dibuthkan untuk 5 orang.

5.   Beras dan minyak sayur, adalah kebutuhan utama. Sebagian orang biasanya sudah menyediakan ini untuk jangka waktu satu bulan. Tetapi diantara saudara kita mungkin tidak, atau tidak sempat menyiapkan.

6.   Supplement, vitamin dan madu;  dianjurkan untuk dikonsumsi pada masa sakit dan masa pemulihan.

Saya mendapatkan berbagai vitamin, madu dan supplement dari saudara dan teman. Bahkan ada yang memberikan obat kumur, empon-empon, minyak kayu putih dan berbagai keperluan lainnya.

7.   Peralatan mandi dan cuci;  karena waktu dua minggu di rumah saja tanpa persiapan yang lengkap ternyata ini juga menjadi kebutuhan.

8.   Cemilan; juga menjadi makanan penting bagi kami. Salah satu anak saya dengan keseharian sulit makan nasi/berat. Dia lebih suka ringan/kue/keripik.

Saya mendapatkan banyak kiriman cemilan dan sangat membantu , terutama untuk anak-anak.

 

Bagaimana sebaiknya bertanya?

Menanyakan kabar kepada kami menjadi penyemangat. Beberapa teman hampir setiap hari menanyakan kondisi kami dan memberikan support.

Yang harus dihindari adalah pertanyaan yang tidak ada relevannya dengan kita, misalnya Kok bisa kena? Emang dari mana? Abis ngapain? Dan bertanya detail seperti  ‘menginvestigasi’.

Hindari  menanyakan, berapa CT nya? kapan di swab? Kapan akan di swab lagi? Urusan swab atau CT adalah urusan pendertia dengan dokter atau tim medis. Lebih baik menanyakan kabar hari ini dengan memberikan semangat.

Bagi saya, saat sakit membaca wa apalagi membalas wa juga membutuhkan energy. Tetapi ketika sedang istirahat, membaca wa atau media social lainnya menjadi hiburan.

Dampak Covid-19 bukan hanya pada kesehatan fisik tetapi mental juga. Saya merasakan lebih sensitif dan ketika fisik sudah membaik pun kesensitifan masih tinggi. Mungkin kondisi ini akan berbeda untuk setiap orang, tetapi pengalaman ini menyadarkan saya bahwa simpati dalam berkomunikasipun sangat diperlukan.

Bagaimana kerjasama antar keluarga?

Sebagai ibu, kita tetap harus melaksanakan pekerjaan rumah. Namun kita perlu mengukur kekuatan diri, jangan dipaksakan. Pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci dan yang lainnya lakukan sesempatnya saja. Buat prioritas , jangan berharap semua bisa dikerjakan dan selesai.

Menyiapkan makanan adalah prioritas utama. Bagi saya, mengecek kondisi keluarga lebih penting dari pada menyapu atau mencuci. Saat kondisi suami dan anak yang sedang sakit-saktinya tentu akan membutuhkan perhatian yang lebih.

Kami bekerjasama dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Anak yang kecil, dengan gejala yang ringan membantu saya mencuci pakaian dari sejak awal.  Suami dan anak yang lain, membantu setelah kondisi mereka cukup baik. Intinya, jangan memaksakan diri dan jangan pula memaksakan pekerjaan kepada yang lain.

Saling memahami sangat penting artinya. Suami dan anak-anak tidak pernah protes atau menggerutu ketika saya istirahat atau tidur. Masing-masing perlu ada waktu untuk istirahan yang cukup untuk memberikan energi bagi diri sendiri. Bagi saya, tidur adalah me time  yang penting.

Berterimakasih kepada adik ipar, yang hampir setiap hari mengirimkan makanan dan menggantungnya di pagar rumah. Adik yang memberikan banyak makanan, begitu pula dengan tetangga sekitar rumah. Teman saat kuliah, teman sekolah, rekan kerja mengirimkan berbagai kebutuhan.  Ada paman kami yang selalu sedia untuk dimintakan tolong, mengambil obat, membeli gallon air  dan berbagai kebutuhan lainnya. Alhamdulillah….

Silih Tulungan,

Tidak semua lingkungan menerima ketika tetangga atau temanya terpapar Covid-19. Banyak dari teman kita yang mendapatkan reaksi negatif.  Padahal mengurus diri sendiri saja sudah kepayahan. Terpapar Covid-19 tidak hanya berdampak pada fisik saja, tetapi dampak psikologis juga terjadi.

Jika kita tidak bisa memberi, setidaknya tidak memperberat beban. Mengucapkan simpati terhadap yang sakit atau keluarga, sudah memberikan pertolongan yang teramat banyak. Jika kita memiliki dana lebih, bisa membantu dengan membelikan kebutuhan yang sakit. Pengalaman kami, walaupun bisa membeli sendiri tetapi karena ruang gerak kita terbatas (karantina) dan kondisi yang lelah, bantuan-bantuan yang diberikan sangat berarti.

Pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran kepada kita. Bagaimana kita bersikap, bagaimana membantu sesama, bagaimana bersimpati dan upaya-upaya lainnya yang bisa membantu penderita. Bagian pentingnya adalah bagaimana kita berperan ketika menjadi tetangga, menjadi teman, menjadi saudara, rekan kerja bagi yang terpapar Covid-19. Apa yang bisa kita bantu? Terutama bagi saudara kita yang pendapatannya pas pasan.

Lebih penting lagi, MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN dalam keseharian kita adalah SILIH TULUNGAN YANG TERAMAT PENTING. Menolong tidak memaparkan kepada yang lain, menolong tidak menambah yang sakit,  menolong tenaga kesehatan yang semakin kepayahan,  menolong orang tetap produktif, menolong perekonomian keluarga karena tetap bisa mencari nafkah dan tidak perlu mengeluarkan biaya kesehatan, menolong anak bisa tetap belajar karena tidak sakit.

Dampak baik ini akan bermanfaat besar jika dilakukan bersama-sama secara masif. Maka jadilah bagian penting dari SILIH TULUNGAN dangan MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN.

Saturday, December 26, 2020

Covid-19 yang ‘’hinggap“ dikeluarga kami

 

Sudah lama saya tidak menulis, kejadian ini membuat saya memaksakan diri kembali untuk menulis karena banyak sekali yang bertanya bagaimana pengalaman ketika terkena dan saat terinfeksi Covid-19.  Pesannya, jangan malu untuk menyampaikan bahwa kita terinfeksi dan bagi kita yang tidak terinfeksi harus sangat memahami bagaimana seharusnya kita bertindak kepada teman atau saudara kita yang terinfeksi Covid-19.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Saya, suami dan anak-anak juga memilik gejala yang berbeda. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan bagi kita yang tetap harus waspada bahwa Covid-19 bisa ‘hinggap’ dimana saja, kepada siapa saja, kapan saja dan memberikan dampak yang berbeda-beda.

Selasa, 8 Desember; sepulang bekerja sore hari, badan terasa tidak nyaman. Selepas magrib terasa demam, setelah minum obat flu kemudian saya memaksakan tidur.  Malam itu tidur gelisah, badan terasa sakit. Saya bangun untuk minum obat flu yang kedua, kemudian berusaha tidur kembali.   

Rabu, tanggal 9 Desember ; Bangun pagi, badan masih terasa tidak enak, masih terasa demam tetapi tidak separah tadi malam. Saya lebih banyak tidur, makan sudah mulai tidak berselera tetapi saya paksakan. Tenggorokan mulai terasa sakit tetapi tidak ada batuk dan hidung tidak meler.

Kamis, 10 Desember; badan masih tidak nyaman,  ujung hidung sudah mulai terasa aga beku seperti lama diudara dingin (kalau orang sunda bilang baal),  tetapi penciuman masih normal. Sakit tenggorokan lebih dari hari kemarin. Saya memutuskan untuk pergi ke dokter praktek di sekitar rumah.

Hari selasa sebelumnya suami  berobat ke dokter yang sama.  Dokter mengatakan bahwa saya terkena radang tenggorokan, diagnosa yang sama dengan suami. Saya diberikan obat flu dan antibiotik.  Dokter berpesan, jika indera penciuman berkurang atau hilang untuk segera kontrol.

Jumat, 11 Desember: badan terasa panas dingin namun lebih baik dari hari sebelumnya. Tenggorokan mulai terasa lebih sakit dari hari kemarin seperti terbakar dan meluas. Hidung terasa tambah kaku, penciuman dan indera perasa masih berfungsi. 

Hari ini, saya kembali ke dokter untuk memeriksakan ke dua anak saya. Anak pertama semalaman panas tinggi dan meler. Menurut hasil pemeriksaan, anak pertama terkena virus tetapi belum pasti virusnya apa, jika tiga hari masih panas maka harus uji lab atau jika hilang indera penciuman maka untuk segera kontrol. Anak ke tiga, hanya mengeluh tidak enak badan dengan ciri-ciri akan terkena flu dan mencret. Kedua anak saya diberika obat flu dan antibiotik.

Sepulang dari dokter, panas badan anak pertama tidak turun, tetap diangka 38-39 lebih. Malam hari saya sengaja pasang alarm setiap dua jam untuk mengecek kondisi anak saya. Benar saja, pada jam 12 malam panasnya lebih dari 39 padahal obat sudah diberikan sesuai aturan dan saya berikan lagi obat panas. Dua jam kemudian saya cek lagi, dan suhunya sudah turun. Sampai pagi hari sudah tidak panas lagi.Alhamdulillah.

Sabtu, 12 Desember; bangun pagi, hidung terasa tambah kaku, saya coba ambil kayu putih dan dioleskan dibawah hidung, dan tidak terbau apapun tapi panas kayu putih bisa dirasakan. Saya masih ragu, apakah ini yang dikatakan dokter? Saat itu, bibir bertambah  kaku seperti ujung hidung tetapi indera perasa masih berfungsi walau sudah berkurang. Tidak ada meler sedikitpun, cenderung kering.

Pagi hari, suami mengambil hasil pemeriksaan swab yang dilakukan dua hari yang lalu dan dinyatakan positif. Innalillah wa innailaihi roojiun……

Sorenya saya kontrol ke dokter yang sama, betul saja, dokter mengatakan kemungkinan besar saya dan anak-anak juga terinfeksi. Dokter kemudian mengontak puskesmas setempat dan menyuruh kami menunggu petugas puskesmas akan datang dan memeriksa keadaan semua. Dokter memberikan vitamin-vitamin.

Saya merasa lemas, pikiran campur aduk, apa yang harus dilakukan? Bagaimana dengan orang-orang sekitar saya? bagaimana anak-anak kalau kondisinya memburuk dan berbagai fikiran buruk lainnya menambah kegalauan.

Sesampai dirumah, kecemarasan semikin bertambah karena suami nampak lemas sekali, raut muka pucatnya nampak kentara. Keluhan suami saat itu diare, lemas, pusing dan ada batuk.

Saya segera mengabarkan ke teman-teman di kantor.  Saya disarankan untuk swab di labkesa milik pemprov Jabar. Tak lama berselang saya dikontak juga oleh Tim Penanganan Covid-19 Pemprov yang menawarkan untuk dijemput dan berobat di Rumah Sakit Al Ikhsan. Suami memutuskan untuk menunggu tim puskesmas saja sesuai dengan anjuran dokter praktek.

Tim Covid-19 Jabar terus menanyakan kabar,termasuk salah satu dokter yang bertugas di BPSDM juga menanyakan kondisi suami yang saat itu CTnya 20. Menurut beliau seharusnya suami dirawat. 

Minggu, 13 Desember; saya masih merasakan hal yang sama, tenggorokan makin terasa sakit seperti terbakar dan semakin meluas , tangan kanan dan jemari semakin kaku dan kemampuan berfikir menjadi berkurang. Kadang saya harus diam dahulu untuk memutuskan atau mengerjakan sesuatu.

Kami memutuskan untuk mengikuti saran tim Covid-19 Pemprov, dijemput menggunakan ambulance ke rumah sakit Al Ihksan (Rumah sakit milik pemerintah provinsi) dengan supir menggunakan APD lengkap. Akhirnya kami mengalami, dijemput ambulance dangan APD lengkap…..

Sesampai di ruang IGD khusus penanganan Covid-19, kami diperiksa darah dan rontgen. Alhamdulillah hasil pemeriksaan semuanya baik. Dokter memperbolehkan kami untuk isolasi mandiri di rumah dan diberikan obat dan vitamin, vitamin C dan vitamin D, antibiotic dan zinc.  Karena hari minggu, rumah sakit tidak bisa memeriksa melakukan swab.

Sepulang dari Al ikhsan suami masih nampak lemas. Alhamdulillah anak-anak sudah tidak panas lagi, anak yang pertama dan ketiga masih diare. Sejak hari itu, kami lebih banyak istirahat. Saya mengerjakan pekerjaan rumah sebisanya, ketika sudah mulai tidak kuat , saya akan istirahat dan tidur untuk beberapa saat.

Malam hari, badan terasa semakin tidak enak, hidung dan mulut semakin kaku dan tenggorokan semakin sakit.

Senin, 14 Desember: berdasarkan saran dari tim pemprov, saya dan keluarga untuk dilakukan swab di labkes pemprov. Namun hari itu, badan terasa lemas, kepala pening dan sebagian jari jemari dan tangan kanan sudah mulai kaku. Indera penciuman saya sudah tidak berfungsi. Saya tidak kuat untuk menyetir sendiri, akhirnya kami putuskan untuk swab di puskesmas lingkungan rumah.

Saya dan anak-anak diswab di puskesmas. Tim swab puskemas, dikoordinasikan oleh seorang bidan namanya bidan Leni. Kami diswab oleh 3 orang ibu-ibu muda dengan pakain APD lengkap. Dan saya sangat kagum dengan mereka, dengan fasilitas minim mereka mempertaruhkan kesehatannya untuk warga yang akan berobat.

Selasa, 15 Desember; kepala masih terasa berat dan badan terasa panas dingin dan linu, tenggorokan terasa terbakar semakin parah. Tiba-tiba lantai seperti bergoyang dan saya harus berpegangan. Setiap dua jam sekali saya minum madu tanpa minum air putih. Perih terasa ditenggorokan tetapi kemudian lebih enak. Saya tidak bisa berpikir jernih, sering tetiba lupa apa yang akan dilakukan. Gerakan dan berfikir semakin lambat. Saya mulai diare, sakit perut seperti melilit dan buang air beberapakali. Maaf, dengan kotoran berlendir dan berbusa. Alhamdulillah diare hanya tiga hari, dan hari Jumat sudah normal kembali.

Ada satu pekerjaan besar  diakhir tahun 2020. Saya memaksakan untuk menjadi moderator diacara Webinar dan meminta teman untuk bersiap jika terjadi sesuatu pada saya. Saat acara, ada waktu saya tidak bisa mengingat nama narsum yang sedang presentasi padahal sebelumnya selalu diucapkan. Lupa sama sekali dan saya harus melihat catatan untuk ingat kembali. Alhamdulillah tugas selesai.

Rabu, 16 dan kamis 17 Desember, kondisi masih sama dengan hari selasa, ini mungkin puncak-puncaknya. Saya lebih sering istirahat, tidur untuk memulihkan kondisi setelah memastikan keperluan suami dan anak sudah selesai.

Anak-anak sudah membaik, anak pertama tidak lagi diaere sejak hari kamis 17 Desember tetapi anak kedua dan ketiga masih mencret tetapi tidak ada panas sejak awal.  

Hari jumat, 18 Desember; kami sudah mulai membaik, suami sudah bisa beraktivitas diluar kamar. Saya sendiri masih merasa pusing tetapi sudah mulai berkurang. Lemas masih sering terasa dan datangnya tiba-tiba.

Hari ini, kami dikabari hasil  hasil swab yang dilakukan di Puskesmas . Hasilnya, saya dan anak-anak dinyatakan positif namun hasilnya tidak melampirkan CT. Saya kemudian konsul ke tim dokter pemprov dan akhirnya kami harus diswab ulang untuk mengetahui nilai CT. Hari itu juga kami berangkat ke labkesda untuk diswab.  

Hari minggu, 20 Desember, kami mendapatkan obat-obatan dari tim dokter BPSDM diantaranya, vitamin dan antivirus. Suami mendapatkan obat lebih awal dengan tambahan obat karena masih ada batuk.

Karena di weekday, hasil swab yang dilakukan di labkesda pemprov,  baru kami terima di hari selasa malam tanggal 23 Desember. Nilai CT saya, 27, suami 26, anak yang kecil dinyatakan negative dan dua anak sy CT nya masih di bawah 25. Saya langsung konsulkan dengan dokter pemprov. Sarannya, anak yang kecil untuk diungsikan dari rumah dan yang lain jika terjadi keluhan segera melapor.

Sampai  hari kamis, 25 Desember Saya masih sering merasa lelah, dan datangnya tiba-tiba, sakit kepala dan pusing sudah tidak ada. Hidung, mulut dan tangan serta jemari sudah tidak kaku. Indera perasa sudah lebih baik dari sebelumnya, indera penciuman sudah bisa mencium bau menyengat tertentu.

Hari ini, sabtu, 26 Desember, kami semakin membaik dan keluhan sudah semakin berkurang. Suami sudah berkativitas biasa. Untuk Saya, indera penciuman belum sempurna tetapi sudah bisa mencium aroma yang menyengat, indera perasa belum kembali sempurna seperti sebelum terinfeksi tapi sudah membaik dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Kejadian ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kami mendapat gejala yang berbeda-beda.  Suami sampai hari ini,  indera penciumannya dan indera perasanya tidak terganggu. Anak saya, indera penciuman terganggu sekitar 5 hari dari sejak turunnya demam, anak kedua saya lemas dan dan tidak seceria biasanya, dan anak ke tiga saya tidak ada perubahan yang signifikan atau keluhan yang berarti .

Menurut saya, pengobatan awal memberikan dampak penting bagi kami,  pemeriksaan ke dokter praktek dengan obat pereda flu, mampu mengurangi sebagian gejala infeksi Covid-19. Sebagai tambahan, saya rutin minum madu, suami saya selain madu rutin menghirup kayu putih yang dimasukkan ke hidung dan menghisap  uap air panas yang ditetesi kayu putih.

Kami mendapatkan berbagai tips bagaimana mengatasi Covid-19. Terus terang, untuk saya sendiri kerepotan, saya lebih banyak menggunakan waktu untuk istirahat. Tidur adalah istirahat yang paling efektif. Madu benar-benar membantu saya menguatkan stamina. Makan sama sekali tidak enak, tapi harus dipaksakan, apapun makanannya yang penting bisa menambah energi.

Semua itu adalah ikhtiar kita untuk kesembuhan dan berdoa adalah kepastian yang harus kita lakukan, InsyaaAlloh menjadi amal kebaikan bagi kita. Aamiin…