Tuesday, February 14, 2017

SINGAPORE; small island with BIG plan and MAKE it REAL (Mengintip Rencana Tata Ruang Negara Singapura)



Anda pernah ke Singapura? Rasanya sebagian besar kita sudah pernah, mungkin diantara kita sudah ada yang berkali-kali datang dan menginap di negara yang luasnya hanya ’seuprit’. Mengapa negara kecil bisa memiliki ’Power Magic’ sehingga membuat penasaran hampir setiap orang  untuk datang dan datang lagi. Mengapa Singapura bisa menjadi seperti sekarang ini? Bagaimana sejarah Singapura yang pada tahun 1960an adalah negara dengan pusat-pusat kekumuhan, pusat kemiskinan, pusat kejahatannya namun semua telah di’sulap’ menjadi ’Mega City’, menjadi kota yang bertaraf internasional. 

Singapura sadar dengan berbagai kekurangannya. Namun kekurangan tersebut kemudian menjadi kekuatan yang luar biasa dan hasilnya telah terbukti! Singapura telah menjadi negara yang diperhitungkan didunia.

Tulisan ini disusun tahun 2010, saat pertama kali saya berkunjung ke Singapura. Tentunya, ada beberapa pojok kota yang susah berubah. Namun sejarah Singapura  dan komitmennya yang sangat menarik. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita. 

From the Slums to the World City:
Sampai tahun 1960an, Singapura merupakan negara kumuh dengan ketidakteraturan.  Perkotaan padat dengan rumah-rumah kumuh, sanitasi yang buruk tanpa pencahanyaan dan ventilasi . Rumah yang dibangun dari barang-barang bekas, dedaunan, kardus bekas. Perumahan kumuh terpusat dipinggiran sungai. Sungai dengan kualitas buruk menjadi pemandangan biasa.

                             Singapore slums in the 1960's  (courtesy urbanphoto.net)
 Area kumuh Singapura pada tahun 1960an, https://singaporeglobal.jimdo.com/slums/

Sampai akhirnya pada tahun 1958, Master Plan disepakati oleh pemerintah kolonia. Untuk pertama kalinya, Singapura memiliki rencana penggunaan lahan. Lahan didesain untuk sekolah, kota baru, ruang hijau dan fasilitas infrastruktur. Setelah Singapura memiliki pemerintahan sendiri tahun 1959, dibentuk Departemen Perencanaan yang mengkoordinasikan pembangunan, pengembangan dan perbaikan lingkungan. Review master plan dilakukan setiap lima tahun  dengan melibatkan public dan sektor swasta. Pengembangan pusat-pusat kawasan, pertama kali dipimpin oleh Alan Choe yang merupakan perencana- arsitek muda pada masanya yang baru kembali belajar di Australia.

URA (The Urban Redevelopment Authority) merupakan Lembaga otorita perencanaan nasional Singapura dibawah Kementrian Pembangunan Nasional. Kementrian ini bertanggung jawab terhadap perencanaan pembangunan land use untuk jangka panjang, public housing, public works, pembangunan kembali daerah urban, infrastruktur, taman dan tempat rekreasi  dan berbagai aspek terkait dengan pengembangan fisik negara Singapura. URA menjadi penting bagi perencanaan nasional, perencanaan jangka panjang, rencana detail, pembangunan fisik dan mengkoordinasikan serta merealisasikan apa yang direncanakan.

Singapura berusaha mengenalkan perencanaan ruang nasionalnya kepada publik. Cara ini merupakan salah satu upaya pembelajaran bagi masyarakat akan pentingnya ruang, kota dan lahan sebagai tempat tinggalnya. Di Singapure Central Galery, setiap orang dapat mengetahui apa yang direncanakan dan dapat berpartisipasi memberikan masukan kepada rencana tersebut.

Ketika kita memasuki kawasan Singapure Central Galery, pertama yang kita lihat adalah tulisan : “My family and I love being part of our city that is full of life, excitement and opportunites. Tentu saja, ungkapan ini akan meyadarkan setiap orang, setiap keluarga merupakan bagian dari kota yang penuh dengan kehidupan, kegembiraan dan kesempatan
Konsep yang direncanakan untuk 40 sampai 50 tahun mendatang berdasarkan perencanaan tahun 2001 (data tahun 2002)
                   
No automatic alt text available.Maket negara Singapura, ada daerah yang sudah terbangun, masih dalam rencana (kotak polos) dan lahan-lahan yang masih dalam penelitian (tanah-tanah kosong). https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1435049327107&set=a.1435041766918.57566.1559171888&type=3&theater


Ruang dibagi menjadi 5 bagian besar;
  • Living space 19%; untuk perumahan.
  • Recreation and Community Space, 20%; sekolah, tempat olah raga, taman, daerah  perlindungan.
  • Infrastructure Space,22% ; jalan, stasiun, bandara dan utilitas lainnya.
  • Work Space, 19%; perkantoran, pertokoan, industri
  • Anothrer Purpose, 20% ; diantaranya military, waduk, perkuburan dan kawasan lindung.

Singapura terus berkembang, kebutuhan lahan terus meningkat. Tantangan untuk para perencana menemukan ”solusi cerdas” untuk selalu menyediakan ruang untuk semua kebutuhan.
Keterbatasan lahan menyebabkan Singapura memerlukan multiply space; Dengan reklamasi, lebih banyak  ruang yang diciptakan  untuk tinggal dan bekerja, diatas dan dibawah tanah serta disekitar kita. 

Going higer; satu atap dengan berbagai fungsi dan kapasitas lebih besar. Memuat lebih banyak keluarga, dan fungsi; rump-up factory, jalan di atas atap memudahkan aktvitas pengangkutan/turun-naik barang setiap pabrik. 

Building more around, dibawah jalur kereta, potensi lahan seluas 60 ha, untuk pengembangan conector taman dan pertokoan.

Going Under, tidak ada lagi penggalian jalan untuk memperbaiki saluran. Saluran untuk listrik, telepon, air, dibangun dan menghemat lahan seluas 1,6 ha; pertokoan dan pusat makanan di bawah tanah yang terkoneksi dengan  station; depp tunnel sistem sepanjang 80 km yang membawa air limbah dari perumahan dan permukiman dengan kedalaman 50km dari perpipaan yang ada sekarang. Tersentralisasi di Chang i dan Juraong. Kan menggantikan enam tempat pengolahan yang ada saat ini dan menghemat lahan sekitar  290 hadan  akan digunakan untuk perumahan dan perkantoran.

Pembelajaran dari Negara Singapura
Tidak ada salahnya jika kita belajar dari negara Singapura. Walaupun dengan perbedaan yang sangat jauh, dengan segala kekurangannya tetapi kita juga memiliki banyak kelebihan. Kelebihan bagi negara kita termasuk Jawa Barat adalah ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah juga ketersediaan lahan yang luas. Jawa Barat tidak memerlukan reklamasi lahan seperti yang dilakukan oleh Singapura. Beberapa catatan pembelajaran dari negara Singapura diantaranya;

·                  Menetapkan Rencana Detail dan Goal yang akan dicapai
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) bisa menjadi awal dalam perencanaan seperti yang dilakukan oleh URA. Rencana detail disusun dan menetapkan kapan rencana akan terwujud. Ada tiga PKN yaitu, PKN Bodebek,  Perkotaan Bandung Raya dan Cirebon yang merupakan given dari pemerintah pusat. Jawa Barat juga mengusulkan dua  wilayah untuk menjadi PKN yaitu PKNp (Pusat Kegiatan Nasional Provinsi) yaitu Pangandaran dan Palabuhan Ratu.

Pembagian kewilayahan yang terbangun seperti PKN Bodebek dan PKN Perkotaan Bandung Raya, maka pengaturannya lebih kepada pengendalian dan memanfaatkan lahan seefisien mungkin tanpa mengabaikan masalah lingkungan. Kawasan berfungsi lindung seperti ruang terbuka hijau atau kawasan konservasi tetap menjadi perhatian seperti negara Singapura. Sedangkan bagi PKN Cirebon ataupun PKNp Palabuhan Ratu dan Pangandaran maka pengaturan ruang akan lebih leluasa. Kita bisa membuat rencana-rencana hebat sehingga bisa mendorong pembangunan diwilayah sekitarnya.

Memegang budaya dan sejarah
Penetapan PKN atau PKW memiliki tema yang disesuaikan dengan adat/budaya yang ada. Singapura dengan kebangsaan yang beragam, pusat-pusat kegiatannya bertema kebudayaan yang ada di negaranya seperti Cina, Melayu atau India. Tentu saja, Jawa Barat dengan kekayaan budayanya bisa menjadi tema bagi pembangunan kewilayahan.

Bagi daerah yang memiliki bangunan sejarah perlu dilestarikan dan ini dilakukan oleh Singapura walaupun beragam fungsi seperti museum, hotel, pusat perbelanjaan tetapi konservasi gedung dengan heritagenya tetap menjadi kebanggaan bagi Singapura

Pelibatan Masyarakat dan Sosialisasi
Mengenalkan perencanaan ruang kepada publik. Cara ini merupakan salah satu upaya pembelajaan bagi masyarakat akan pentingnya ruang sebagai tempat tinggalnya. Gedung Sate adalah tempat yang tepat untuk memamerkan rencan-rencana besar Jawa Barat. Atau cara lainnya melalui media yang ada seperti TV, Radio dan Koran. Saat ini, media jejaring sosial lainnya seperti Facebook atau Twitter sudah menjadi alat sosialisasi yang umum kepada masyarakat. Kemudian menyediakan sarana bagi masyarakat untuk menananggapi rencana ruang. Setelah mengenal, diharapkan masyarakat menjadi tahu, kemudian menjadi peduli dan akhirnya bisa berbuat untuk kebaikan penataan ruang.

Kelembagaan
Pembentukan BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) merupakan awal dari kelembagaan Penataan Ruang. Kedepan, BKPRD akan menjadi kelembagaan seperti URA. Sebagai lembaga penataan ruang yang memiliki otoritas penuh terhadap perencanaan ruang. Bertanggung jawab terhadap perencanaan pembangunan landuse untuk jangka panjang, public housing, public works, pembangunan kembali daerah urban, infrastruktur, pencapaian kawasan lindung  serta berbagai aspek terkait dengan pengembangan fisik. BKPRD menjadi penting bagi perencanaan provinsi, perencanaan jangka panjang, rencana detail, pembangunan fisik dan mengkoordinasikan serta merealisasikan apa yang direncanakan.

Dukungan sumberdaya manusia, sangat penting untuk membaca dan merencanakan ruang untuk jangka panjang. Kita memerlukan orang yang ahli dan memiliki pemikiran besar dan jauh ke depan. Tidak hanya pemerintah tetapi juga mitra kerja pemerintah dalam penyusun ruang (konsultan RTRW) sehingga Rencana Tata Ruang Wilayah bukan dokumen yang memuat hanya “mimpi-mimpi’ tetapi merupakan rencana nyata, hebat dan terealisasi.

Disamping itu, kerjasama dengan pihak swasta tidak bisa diabaikan karena pada umumnya swasta memiliki pendanaan untuk pelaksanaan pembangunan.

Pada akhirnya, komitmen dan kerjasama perlu terus digalang, tentu saja untuk mencapai apa yang sudah direncanakan untuk kepentingan bersama  dan untuk kesejahteraan bersama, bukan kepentingan sesaat, bukan kepentingan seseorang atau golongan……SEMOGA………

Tuesday, February 7, 2017

Added Value dan Brand Image untuk Jawa Barat Selatan



Jawa Barat bagian selatan  (Jabsel) selalu menjadi primadona, berbagai rencana pengembangan kawasan terus dilakukan untuk mengurangi disparitas antara Jawa Barat bagian selatan dan utara. Jabsel dianggap sebagai kawasan yang pengembangannya tidak secepat Jabar Utara. Disisi lain,  Jabsel memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah. Potensinya sangat beragam baik sumberdaya alam terbarukan seperti perkebunan, perikanan, kelautan  maupun sumberdaya alam yang tidak terbaharukan seperti pertambangan. Pariwisata, mulai menjadi andalan dan menjadi daya tarik tersendiri.

Pengembangan kawasan selatan mempunyai kendala dalam aspek kewilayahan, seperti kondisi geotektonik dan topografi. Potensi gempa bumi dan tsunami serta kondisi oseanografi sebagai daerah “open sea”, langsung menghadap Samudera Hindia relatif memiliki gelombang tinggi dengan arus deras. Sebagian kawasan merupakan daerah bergunung dan lereng perbukitan. Karena itu, Jabsel memiliki  fungsi ruang sebagai kawasan lindung sehingga dalam pembangunannya tidak merubah fungsi.


Sugahan pemandangan menuju pantai Jabsel, awal 2016

Mendorong pertumbuhan ekonomi yang optimal
Ekonomi sebagai penggerak pembangunan, merupakan keharusan dalam pengembangan suatu kawasan.  Jabsel memiliki potensi ekonomi yang besar.  Perkebunan merupakan sektor unggulan yang sudah berkembang sejak jaman Belanda. Peternakan dan perikanan, terus menggeliat disamping sektor pertambangan sejak ditemukannya beragam sumberdaya tambang di kawasan ini. Jabsel juga memiliki potensi wisata alam yang besar. Salah satunya adalah penetapan Ciletuh sebagai Wisata Geo yang mendunia, tentu menjadi nilai tambah tersendiri bagi kawasan Jabsel.

Namun demikian,  pengembangan  ekonomi di kawasan Jabsel dianggap masih parsial. Konsep regional dalam pengembangan komoditas yang menjadi unggulan sangat diperlukan. Menentukan komoditas unggulan merupakan suatu keharusan sebagai cikal bakal penggerak ekonomi. Jika yang dikembangkan adalah komoditas komparatif, maka added value bagi komoditas tersebut mutlak dilakukan. Jika komoditas kompetitif  yang akan dikembangkan maka akan menjadi keunggulan tersendiri bagi Jabsel.
Identifikasi potensi ekonomi dan identifikasi alternatif pengembangan ekonomi dengan pendekatan rantai nilai perlu dilakukan dalam pengembangan Jabsel. Resource mapping dari supplay side menjadi demand side merupakan langkah awal dalam menetapkan rantai nilai ekonomi. Selain itu, hal penting yang perlu menjadi pertimbangan diantaranya potensi besar dan eksklusif, permintaan tinggi dan berkelanjutan, harga menarik, potensi diversifikasi produk yang memiliki nilai tambah tinggi, memiliki potensi mendorong aktivitas sektor lain dan sesuai dengan karakteristik lokal (fisik dan sosial).

Bisnis kelautan memiliki potensi yang besar. Sayangnya, saat ini bisnis perikanan dan kelautan masih konvensional. Kondisi laut di wilayah Jabsel lebih bergejolak karena pengaruh Samudera Hindia  Dengan kondisi tersebut, maka pengembangan teknologi kelautan dan perikanan menjadi suatu keharusan.

                                                     Pantai Sayang Heulang, awal 2016


Menjadikan Limitasi sebagai Potensi
Topografi Jabsel  yang curam/bergunung/berbukit, keberadaan dataran rendah relative terbatas (untuk pesawahan), muara sungai lebih sedikit dengan debit kecil, kecuali S. Citanduy. Kondisi ini, menjadi limitasi  pembangunan perkotaan ukuran besar (bangunan gedung), pembangunan infrastruktur wilayah dan kota, pembangunan real estate , pembangunan perumahan skala besar.
Pendekatan hidrologi bagi pembangunan saluran irigasi skala besar relative sulit. Demikian pula pembangunan pembangkit listrik tenaga air, karena keberadaan aliran-aliran sungai yang tidak menopang optimal. Pembangunan jaringan jalan-jalan regional dan jalan-jalan lokal/jalan kabupaten akan mahal karena topografi, termasuk konstruksi drainase dan jembatan penghubung antara kawasan/antar wilayah. Pembangunan pembangkit listrik, distribusi energy listrik tegangan tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah relatif akan mahal untuk wilayah-wilayah yang berbukit-bukit, begitu pula dengan pembangunan infrastruktur telekomunikasi/telematika.
Catatan penting lainnya, potensi kebencanaan yang tinggi  dan kondisi alamnya, menyebakan Jabsel memilifi fungsi kawasan lindung lebih luas dibandingkan dengan daerah lainnya. Untuk itu,  keterbatasan lahan menjadi point utama dalam pengembangan Jabsel.
Jabsel memiliki potensi energy terbarukan yang cukup besar. Bagi daerah yang terisolasi, maka pemenuhan kebutuhan energy melalui potensi lokal dapat dikembangkan, misalnya mikrohydro, solar sell atau pemanfaatan tenaga angin. Panas bumi merupakan energy ramah lingkungan yang saat ini terus dikembangkan, termasuk di Jabsel. Pengembangan energy terbarukan dapat menjadi sektor andalan.
Pembangunan infrastruktur jalan harus dapat membatasi pergerakan penduduk apalagi perpindahan penduduk. Kereta api dan transportasi udara dapat menjadi pilihan yang tepat. Pembangunan jalur bebas hambatan ternyata memicu pengembangan sepanjang jalur lintasan. Seperti jalan tol Jakarta-Bandung, berdampak terhadap pertumbuhan perumahan-permukiman dan sentral-sentral bisnis disekitarnya dan rest area yang menjadi tempat rekreasi. Jika ini terjadi, selain akan berdampak terhadap perusakan lingkungan juga meningkatkan resiko bencana.  Konsep yang dikembangkan adalah mempermudah dan memperlancar pergerakan komoditas tapi tidak untuk penduduk.
Peningkatan sumberdaya manusia menjadi catatan penting. Sebagian besar, penduduk Jabsel masih berpendidikan rendah. Secara keseluruhan di Jawa Barat, rata-rata lama sekolah sekitar 8 tahun untuk penduduk berusia 15 tahun ke atas. Tentu saja, pengembangan Jabsel harus perlu menjadikan masyarakat lokal sebagai pemeran utama. Perencanaan yang jelas dan terinci perlu disusun dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia Jabsel. Saat ini, yang paling memungkinkan adalah mencetak manusia-manusia yang siap bekerja yang mendukung perekonomian. Sekolah kejuruan adalah pilihan yang tepat. Menyiapkan tenaga terdidik dengan keahlian khusus akan menjadi andalan dan sangat dibutuhkan dari pada ‘memaksakan’ untuk belajar di universitaspada tingkat yang lebih tinggi. Politeknik akan lebih menjadi pilihan utama.

Brand Image dan Komitmen Bersama
Sebagai Kawasan rawan becana, maka perlu adanya integrasi kawasan rawan bencana ke dalam nilai ekonomi dan sosial. Limitiasi di kawasan Jabsel menjadikan penerapan teknologi merupakan suatu keharusan. Integrasi masyarakat dengan mempertimbangkan kearifan lokal merupakan hal penting. Perspektif capacity building dengan wawasan SDM yang sesuai untuk pembangunan Jabsel. Berbagai upaya dalam pengembangan Jabsel harus memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal.
Pencitraan khusus atau Brand Image perlu ditetapkan. Brand Image akan memancing perhatian dan keseriusaan dalam pengembangan Jabsel. Tentu saja, harapannya bahwa semua pihak dapat berperan.

Kita dapat "mengklain" produk Jabsel adalah produk yang ramah lingkungan; menggunakan energy terbarukan, proses produksi yang meminimalisas limbah bahkan zero waste, produk yang dihasilkan menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan, misalnya penggunaan pupuk kandang untuk pertanian/perkebunan, penggunaan air seminimal mungkin dan sebagainya. Band Image ini lah yang akan menjadikan produk Jabsel berbeda dan tentu saja harganya akan jauh lebih mahal.
Menjadikan wilayah Jabsel sebagai kawasan unggulan dengan karakteristik khususnya, memerlukan keseriusan dan kerjasama semua pihak . Untuk itu, komitmen bersama yang bersifat jangka panjang  sangat penting dalam memajukan Jabar selatan.
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber/bahan paparan/diskusi tentang Jawa Barat Selatan.

Thursday, February 2, 2017

Fungsi Tata Ruang Alami Kawasan Pesisir sebagai Disaster Prevention



Pesisir merupakan wilayah peralihan dan interaksi antara ekosistem darat dan laut. Kawasan Pesisir kearah darat secara ekologis merupakan kawasan yang masih dipengaruhi  oleh proses-proses kelautan, seperti pasang surut, intrusi air laut. Ke arah lautan kawasanan ini secara ekologis adalah kawasan laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alamiah di darat (aliran air sungai, run off, aliran air tanah) atau dampak kegiatan manusia di darat seperti polutan dan sedimen.
Kawasan pesisir kaya akan berbagai sumberdaya alam  sehingga banyak aktivitas manusia berada di kawasan ini. Dalam sejarahnya, kawasan pesisir cenderung lebih maju dibandingkan dengan kawasan pegunungan. Karena konturnya yang relatif datar,  kota-kota besar umumnya terletak di kawasan pesisir.

Fungsi penting lainnya, bahwa kawasan pesisir berperan sebagai Disaster Prevention atau Pencegah Bencana.  Bencana alam yang terjadi di lautan, kecenderungannya semakin meningkat. Perubahan iklim merupakan salah satu penyebab bertambahnya kejadian bencana.  Kenaikan muka air laut (sea level rise) menyebabkan pasang air semakin jauh ke daratan, bahkan menyebabkan  pulau-pulau kecil tenggelam. Badai di lautan semakin sering terjadi, gejolak alam ini kemudian akan sampai di kawasan pesisir.  Sifat pesisir yang open access, menyebabkan kawasan pesisir rawan terhadap terjadinya  bencana alam.

Pesisir sebagai muara sungai, akan membawa berbagai material termasuk polutan dan sedimentasi yang berasal dari daratan. Sungai dengan kualitas air yang buruk, berakhir dan terkumpul di kawasan pesisir-laut berdampak terhadap kerusakan lingkungan.

Bencana di Kawasan Pesisir
Kawasan pesisir memiliki potensi bencana yang beragam, berikut ini adalah bencana yang terjadi;

Tsunami , merupakan bencana ‘khas’ wilayah pesisir laut. Kejadian bencana ini sulit diprediksi,  waktu kejadiannya yang cepat dan masif menyebabkan kerusakan akibat tsunami sering kali sangat parah. Kejadian tsunami yang dahsyat ketika terjadi di negara Jepang. Negara yang memiliki 1001 macam cara mengatasi bencana ternyata ‘gagal’ dalam melawan bencana Tsunami.
Jawa Barat mengalami Tsunami pada tahun 2006, menyebabkan kerusakan di beberapa kawasan  pesisir selatan dan sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi.

Gelombang Badai, walaupun belum ada data yang pasti,  kejadian bencana ini menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.  Hal ini diyakini karena perubahan iklim yang berpengaruh terhadap ‘keseimbangan alam’. Dibandingkan dengan Tsunami, gelombang badai lebih bisa diatasi. Deteksi dini dapat dilakukan untuk mengetahui kejadian badai dan kawasan mana yang akan terkena dampaknya. Namun sayangnya, memerlukan peralatan canggih sebagai alat  peringatan dini untuk mengurangi  resiko bencana dengan harga yanga cukup mahal.

Pemanasan Global, Indonesia mengalami kenaikan muka air laut sekitar 0,5 setiap tahunnya. Pemanasan global menyebabkan volume air meningkat, memicu terjadinya bencana di laut semakin banyak baik jenis maupun frekwensinya. Hal ini tentu menyebabkan kawasan pesisir termasuk pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kenaikan muka air laut menyebabkan berubahnya garis pantai.

Bencana pesisir lainnya yang perlahan tapi pasti, diantaranya abrasi, pencemaran dan sedimentasi. Abrasi menyebabkan kerusakan dalam jangka waktu yang lama  dan perubahannya tidak terasa, namun memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan. Kerusakan ifrastruktur  seperti permukiman penduduk. penggerusan jalan, fasilitas pariwisata adalah dampak dari abrasi yang terjadi
Pencemaran yang terbawa sepanjang aliran sungai akan bermuara di laut, berpengaruh terhadap ekosistem laut dan dapat mematikan keanekaragaman hayati di kawasan pesisir dan laut.

Fungsi pesisir sebagai Disaster Prevention
Ekosistem pesisir memiliki karekteristik yang kompleks dimana terjadinya hubungan timbal balik antara komponen penyusun ekosistem. Ekosistem pesisir diantarnya mangrove, hutan pantai, hutan rawa pantai, estuaria, terumbu karang, padang lamun, pantai lumpur, pantai berbatu dan ekosistem pelagis dangkal. Secara keseluruhan ekosistem pesisir menyimpan sumberdaya hayati dan non hayati yang berlimpah.

Ekosistem alamiah kawasan pesisir, diantaranya;
1. Ekosistem Mangrove,  merupakan tempat berkembangbiaknya berbagai fauna. Mangrove berfungsi sebagai filter polusi dan sampah yang terbawa arus sungai, mengurangi abrasi dengan memecahkan ombak. Ekosistem mangrove juga dipercaya dapat menimalisasi resiko tsunami dan gelombang badai yang terjadi.

Karakteristik Wilayah Pesisir Jawa Barat yang dibentuk oleh endapan alluvial menjadi daya dukung bagi berkembangnya ekosistem mangrove. Di pesisir utara, tegakan mangrove teridentifikasi di Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Pakis Jaya Kabupaten Karawang, Pamanukan Kabupaten Subang,  Losarang di Kabupaten Indramayu, Astanajapura di kabupaten Cirebon, serta  Kejaksaan di Kota Cirebon. Sementara di pesisir selatan, tegakan mangrove berada dalam koloni yang terbatas.
Karangsong di Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kawasan Mangrove yang baik dan dikembangkan sebagai Mangrove Centrenya Jawa Barat. Contoh lainnya adalah Bali yang memiliki Mangrove Information Centre (MIC) menjadi pusat pembelajaran tidak hanya bagi masyarakat Bali tetapi skala nasional bahkan Internasional. 
 

2.  Ekosistem terumbu karang
Fungsinya sebagai tempat hidup berbagai tumbuhan dan hewan laut, terumbu karang juga dapat memecah ombak sehingga mengurangi abrasi yang terjadi.
Tampak fauna di terumbu karang (Rancabuaya, Pansela, akhir 2015)

Dengan perairan yang bersifat tropis, perairan laut Jawa Barat memiliki ekosistem terumbu karang yang keberadaanya tersebar di pesisir utara maupun selatan.  Di pesisir utara, ekosistem terumbu karang tersebar di gugusan karang sedulang Kecamatan Cilamaya Kabupaten Karawang, serta gugusan karang Pulau Biyawak. Sementara di pesisir selatan, terumbu karang berada di perairan pesisir Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi, perairan pesisir Pameungpeuk  dan Rancabuaya Kabupaten Garut,  serta perairan pesisir Parigi dan Pangandaran. Selain sebagai habitat dari ikan hias, terumbu karang juga menjadi bagian dari  objek wisata bahari dan penahan gelombang alamiah. 


 


          Terumbu Karang di Rancabuaya, terekspose sempurna menjadi tempat wisata favorit
 
3.  Ekosistem Padang Lamun
Seperti ekosistem lainnya, padang lamun pun berfungsi sebagai pemecah gelombang laut. Di pesisir utara, padang lamun terdapat di perairan pulau Biawak. Padang lamun diduga merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan duyung. Sementara di pesisir selatan Jawa Barat, ekosistem padang lamun terdapat di pesisir Pangandaran, Batukaras dan Madasari Kab. Ciamis serta pantai Ujung Genteng Kec. Surade Kabupaten Sukabumi.
Ekosistem lamun berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan berbagai jenis biota laut. Tumbuhan yang biasa hidup di daerah pesisir laut dangkal dan berkadar garam tinggi ini memiliki peran penting bagi ekosistem laut, antara lain memelihara produktivitas dan stabilitas pantai di pesisir dan ekosistem estuaria.  

4.  Ekosistem Hutan Pantai
Wilayah pesisir Jawa Barat memiliki ekosistem hutan pantai yang berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat. Di pesisir selatan, keberadaan hutan pantai telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri kehutanan sesuai dengan fungsi yang dimiliki, antara lain sebagai Suaka Margasatwa (SM) dan Cagar Alam (C.A). 

5.  Ekosistem Estuaria
Estuaria adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria pada umumnya dibentuk oleh lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang naik, atau pun karena turunnya sebagian daratan oleh sebab-sebab tektonik. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.

Ekosistem estuari pada umumnya banyak terdapat tegakan bakau dan nipah yang tumbuh disepanjang tepi sungai.  Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang hidup endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai kemampuan osmoregulasi yang tinggi.

KEMBALI KE ALAM
Peran ekosistem pesisir sangat penting baik bagi kehidupan manusia maupun makhluk lainnya. Tata ruang alamiah memberikan fungsi untuk keberlanjutan kehidupan, minimalisasi bencana sebelum sampai ke daratan, serta mengurangi kerusakan infrastruktur lainnya.  Sayangnya, manusia sering merasa lebih pintar dan egois. Ekosistem pesisir kemudian dirubah, menjadi kawasan permukiman, industri dan aktivitas ekonomi lainnya tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah alam.

Sudah saatnya kita mempelajari dan memahami ekosistem pesisir sebagai bagian penting dari pencegahan kerusakan dan pencemaran termasuk meminimalisasi bencana yang terjadi. Pesisir bukan merupakan akhir pencemaran dan kerusakan tetapi merupakan benteng keselamatan manusia.
Pemahaman akan fungsi pesisir perlu dilakukan bagi semua aspek masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Semoga kerusakan dan pencemaran pesisir akan terus berkurang…Aamiin….

DAFTAR PUSTAKA
Surajis, 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan Tetapkan 8 Kawasan Konervasi Laut Nasional .   http://surajis.multiply.com/journal/item/102.
Cric Mangkep. 2008 -. Fasilitasi Pembentukan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Jakarta
Muliarta-Indomarin.com. 2009. Indonesia Target Bangun 10 juta hektar konservasi laut daerah.
Isobe, Masahiko. 1998.Toward Integrated Coastal Sone Management in Japan. ESENA Workshop : Energy-Related Marine Issues in The Sea of Japan, Tokyo, Japan.