Jawa
Barat bagian selatan (Jabsel) selalu menjadi
primadona, berbagai rencana pengembangan kawasan terus dilakukan untuk
mengurangi disparitas antara Jawa Barat bagian selatan dan utara. Jabsel dianggap
sebagai kawasan yang pengembangannya tidak secepat Jabar Utara. Disisi
lain, Jabsel memiliki potensi sumberdaya
alam yang berlimpah. Potensinya sangat beragam baik sumberdaya alam terbarukan
seperti perkebunan, perikanan, kelautan maupun sumberdaya alam yang tidak terbaharukan
seperti pertambangan. Pariwisata, mulai menjadi andalan dan menjadi daya tarik tersendiri.
Pengembangan
kawasan selatan mempunyai kendala dalam aspek kewilayahan, seperti kondisi
geotektonik dan topografi. Potensi gempa bumi dan tsunami serta kondisi oseanografi sebagai
daerah “open sea”, langsung menghadap Samudera Hindia
relatif memiliki gelombang tinggi dengan arus deras. Sebagian kawasan merupakan daerah bergunung dan lereng perbukitan. Karena
itu, Jabsel memiliki fungsi ruang sebagai
kawasan lindung sehingga dalam pembangunannya tidak merubah fungsi.
Mendorong
pertumbuhan ekonomi yang optimal
Ekonomi
sebagai penggerak pembangunan, merupakan keharusan dalam pengembangan suatu
kawasan. Jabsel memiliki potensi ekonomi
yang besar. Perkebunan merupakan sektor
unggulan yang sudah berkembang sejak jaman Belanda. Peternakan dan perikanan,
terus menggeliat disamping sektor pertambangan sejak ditemukannya beragam
sumberdaya tambang di kawasan ini. Jabsel
juga memiliki potensi wisata alam yang besar. Salah satunya adalah penetapan Ciletuh
sebagai Wisata Geo yang mendunia, tentu menjadi nilai tambah tersendiri bagi
kawasan Jabsel.
Namun demikian, pengembangan ekonomi di kawasan Jabsel dianggap masih parsial. Konsep regional dalam pengembangan komoditas yang menjadi unggulan sangat diperlukan. Menentukan komoditas unggulan merupakan suatu keharusan sebagai cikal bakal penggerak ekonomi. Jika yang dikembangkan adalah komoditas komparatif, maka added value bagi komoditas tersebut mutlak dilakukan. Jika komoditas kompetitif yang akan dikembangkan maka akan menjadi keunggulan tersendiri bagi Jabsel.
Namun demikian, pengembangan ekonomi di kawasan Jabsel dianggap masih parsial. Konsep regional dalam pengembangan komoditas yang menjadi unggulan sangat diperlukan. Menentukan komoditas unggulan merupakan suatu keharusan sebagai cikal bakal penggerak ekonomi. Jika yang dikembangkan adalah komoditas komparatif, maka added value bagi komoditas tersebut mutlak dilakukan. Jika komoditas kompetitif yang akan dikembangkan maka akan menjadi keunggulan tersendiri bagi Jabsel.
Identifikasi
potensi ekonomi dan identifikasi alternatif pengembangan ekonomi dengan
pendekatan rantai nilai perlu dilakukan dalam pengembangan Jabsel. Resource mapping dari supplay side menjadi demand side merupakan langkah awal dalam
menetapkan rantai nilai ekonomi. Selain itu, hal penting yang perlu menjadi
pertimbangan diantaranya potensi besar dan eksklusif, permintaan tinggi dan
berkelanjutan, harga menarik, potensi diversifikasi produk yang memiliki nilai
tambah tinggi, memiliki potensi mendorong aktivitas sektor lain dan sesuai
dengan karakteristik lokal (fisik dan sosial).
Bisnis kelautan memiliki potensi yang besar. Sayangnya, saat ini bisnis perikanan dan kelautan masih konvensional. Kondisi laut di wilayah Jabsel lebih bergejolak karena pengaruh Samudera Hindia Dengan kondisi tersebut, maka pengembangan teknologi kelautan dan perikanan menjadi suatu keharusan.
Pantai Sayang Heulang, awal 2016
Menjadikan Limitasi sebagai Potensi
Menjadikan Limitasi sebagai Potensi
Topografi
Jabsel yang curam/bergunung/berbukit,
keberadaan dataran rendah relative terbatas (untuk pesawahan), muara sungai
lebih sedikit dengan debit kecil, kecuali S. Citanduy. Kondisi ini, menjadi
limitasi pembangunan perkotaan ukuran
besar (bangunan gedung), pembangunan infrastruktur wilayah dan kota,
pembangunan real estate , pembangunan perumahan skala besar.
Pendekatan
hidrologi bagi pembangunan saluran irigasi skala besar relative sulit. Demikian
pula pembangunan pembangkit listrik tenaga air, karena keberadaan aliran-aliran
sungai yang tidak menopang optimal. Pembangunan jaringan jalan-jalan regional
dan jalan-jalan lokal/jalan kabupaten akan mahal karena topografi, termasuk konstruksi drainase dan jembatan penghubung
antara kawasan/antar wilayah. Pembangunan pembangkit listrik, distribusi energy
listrik tegangan tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah relatif akan
mahal untuk wilayah-wilayah yang berbukit-bukit, begitu pula dengan pembangunan
infrastruktur telekomunikasi/telematika.
Catatan penting lainnya, potensi
kebencanaan yang tinggi dan kondisi
alamnya, menyebakan Jabsel memilifi fungsi kawasan lindung lebih luas
dibandingkan dengan daerah lainnya. Untuk itu, keterbatasan lahan menjadi point utama dalam
pengembangan Jabsel.
Jabsel
memiliki potensi energy terbarukan yang cukup besar. Bagi daerah yang
terisolasi, maka pemenuhan kebutuhan energy melalui potensi lokal dapat
dikembangkan, misalnya mikrohydro, solar sell atau pemanfaatan tenaga angin.
Panas bumi merupakan energy ramah lingkungan yang saat ini terus dikembangkan,
termasuk di Jabsel. Pengembangan energy terbarukan dapat menjadi sektor andalan.
Pembangunan
infrastruktur jalan harus dapat membatasi pergerakan penduduk apalagi
perpindahan penduduk. Kereta api dan transportasi udara dapat menjadi pilihan
yang tepat. Pembangunan jalur bebas hambatan ternyata memicu pengembangan
sepanjang jalur lintasan. Seperti jalan tol Jakarta-Bandung, berdampak terhadap
pertumbuhan perumahan-permukiman dan sentral-sentral bisnis disekitarnya
dan rest area yang menjadi tempat rekreasi. Jika ini terjadi, selain akan
berdampak terhadap perusakan lingkungan juga meningkatkan resiko bencana. Konsep yang dikembangkan adalah
mempermudah dan memperlancar pergerakan komoditas tapi tidak untuk penduduk.
Peningkatan sumberdaya
manusia menjadi catatan penting. Sebagian besar, penduduk Jabsel masih
berpendidikan rendah. Secara keseluruhan di Jawa Barat, rata-rata lama sekolah sekitar 8 tahun untuk penduduk berusia 15 tahun ke
atas. Tentu saja, pengembangan Jabsel harus perlu menjadikan masyarakat
lokal sebagai pemeran utama. Perencanaan yang jelas dan terinci perlu disusun
dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia Jabsel. Saat ini, yang
paling memungkinkan adalah mencetak manusia-manusia yang siap bekerja yang
mendukung perekonomian. Sekolah kejuruan adalah pilihan yang
tepat. Menyiapkan tenaga terdidik dengan keahlian khusus akan menjadi andalan
dan sangat dibutuhkan dari pada ‘memaksakan’ untuk belajar di universitaspada tingkat yang lebih tinggi.
Politeknik akan lebih menjadi pilihan utama.
Brand Image dan Komitmen Bersama
Sebagai Kawasan rawan
becana, maka perlu adanya integrasi kawasan rawan bencana ke dalam nilai
ekonomi dan sosial. Limitiasi di kawasan Jabsel menjadikan penerapan teknologi
merupakan suatu keharusan. Integrasi masyarakat dengan mempertimbangkan
kearifan lokal merupakan hal penting. Perspektif capacity building
dengan wawasan SDM yang sesuai untuk pembangunan Jabsel. Berbagai upaya
dalam pengembangan Jabsel harus memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal.
Pencitraan
khusus atau Brand Image perlu ditetapkan. Brand Image akan
memancing perhatian dan keseriusaan dalam pengembangan Jabsel. Tentu saja,
harapannya bahwa semua pihak dapat berperan.
Kita dapat "mengklain" produk Jabsel adalah
produk yang ramah lingkungan; menggunakan energy terbarukan, proses produksi yang
meminimalisas limbah bahkan zero waste,
produk yang dihasilkan menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan, misalnya
penggunaan pupuk kandang untuk pertanian/perkebunan, penggunaan air seminimal mungkin dan sebagainya. Band Image ini lah yang akan
menjadikan produk Jabsel berbeda dan tentu saja harganya akan jauh lebih mahal.
Menjadikan wilayah Jabsel sebagai kawasan unggulan
dengan karakteristik khususnya, memerlukan keseriusan dan kerjasama semua pihak
. Untuk itu, komitmen bersama yang bersifat jangka panjang
sangat penting dalam memajukan Jabar selatan.
Sumber
: Disarikan dari berbagai sumber/bahan paparan/diskusi tentang Jawa Barat
Selatan.


No comments:
Post a Comment