Thursday, February 2, 2017

Fungsi Tata Ruang Alami Kawasan Pesisir sebagai Disaster Prevention



Pesisir merupakan wilayah peralihan dan interaksi antara ekosistem darat dan laut. Kawasan Pesisir kearah darat secara ekologis merupakan kawasan yang masih dipengaruhi  oleh proses-proses kelautan, seperti pasang surut, intrusi air laut. Ke arah lautan kawasanan ini secara ekologis adalah kawasan laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alamiah di darat (aliran air sungai, run off, aliran air tanah) atau dampak kegiatan manusia di darat seperti polutan dan sedimen.
Kawasan pesisir kaya akan berbagai sumberdaya alam  sehingga banyak aktivitas manusia berada di kawasan ini. Dalam sejarahnya, kawasan pesisir cenderung lebih maju dibandingkan dengan kawasan pegunungan. Karena konturnya yang relatif datar,  kota-kota besar umumnya terletak di kawasan pesisir.

Fungsi penting lainnya, bahwa kawasan pesisir berperan sebagai Disaster Prevention atau Pencegah Bencana.  Bencana alam yang terjadi di lautan, kecenderungannya semakin meningkat. Perubahan iklim merupakan salah satu penyebab bertambahnya kejadian bencana.  Kenaikan muka air laut (sea level rise) menyebabkan pasang air semakin jauh ke daratan, bahkan menyebabkan  pulau-pulau kecil tenggelam. Badai di lautan semakin sering terjadi, gejolak alam ini kemudian akan sampai di kawasan pesisir.  Sifat pesisir yang open access, menyebabkan kawasan pesisir rawan terhadap terjadinya  bencana alam.

Pesisir sebagai muara sungai, akan membawa berbagai material termasuk polutan dan sedimentasi yang berasal dari daratan. Sungai dengan kualitas air yang buruk, berakhir dan terkumpul di kawasan pesisir-laut berdampak terhadap kerusakan lingkungan.

Bencana di Kawasan Pesisir
Kawasan pesisir memiliki potensi bencana yang beragam, berikut ini adalah bencana yang terjadi;

Tsunami , merupakan bencana ‘khas’ wilayah pesisir laut. Kejadian bencana ini sulit diprediksi,  waktu kejadiannya yang cepat dan masif menyebabkan kerusakan akibat tsunami sering kali sangat parah. Kejadian tsunami yang dahsyat ketika terjadi di negara Jepang. Negara yang memiliki 1001 macam cara mengatasi bencana ternyata ‘gagal’ dalam melawan bencana Tsunami.
Jawa Barat mengalami Tsunami pada tahun 2006, menyebabkan kerusakan di beberapa kawasan  pesisir selatan dan sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi.

Gelombang Badai, walaupun belum ada data yang pasti,  kejadian bencana ini menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.  Hal ini diyakini karena perubahan iklim yang berpengaruh terhadap ‘keseimbangan alam’. Dibandingkan dengan Tsunami, gelombang badai lebih bisa diatasi. Deteksi dini dapat dilakukan untuk mengetahui kejadian badai dan kawasan mana yang akan terkena dampaknya. Namun sayangnya, memerlukan peralatan canggih sebagai alat  peringatan dini untuk mengurangi  resiko bencana dengan harga yanga cukup mahal.

Pemanasan Global, Indonesia mengalami kenaikan muka air laut sekitar 0,5 setiap tahunnya. Pemanasan global menyebabkan volume air meningkat, memicu terjadinya bencana di laut semakin banyak baik jenis maupun frekwensinya. Hal ini tentu menyebabkan kawasan pesisir termasuk pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kenaikan muka air laut menyebabkan berubahnya garis pantai.

Bencana pesisir lainnya yang perlahan tapi pasti, diantaranya abrasi, pencemaran dan sedimentasi. Abrasi menyebabkan kerusakan dalam jangka waktu yang lama  dan perubahannya tidak terasa, namun memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan. Kerusakan ifrastruktur  seperti permukiman penduduk. penggerusan jalan, fasilitas pariwisata adalah dampak dari abrasi yang terjadi
Pencemaran yang terbawa sepanjang aliran sungai akan bermuara di laut, berpengaruh terhadap ekosistem laut dan dapat mematikan keanekaragaman hayati di kawasan pesisir dan laut.

Fungsi pesisir sebagai Disaster Prevention
Ekosistem pesisir memiliki karekteristik yang kompleks dimana terjadinya hubungan timbal balik antara komponen penyusun ekosistem. Ekosistem pesisir diantarnya mangrove, hutan pantai, hutan rawa pantai, estuaria, terumbu karang, padang lamun, pantai lumpur, pantai berbatu dan ekosistem pelagis dangkal. Secara keseluruhan ekosistem pesisir menyimpan sumberdaya hayati dan non hayati yang berlimpah.

Ekosistem alamiah kawasan pesisir, diantaranya;
1. Ekosistem Mangrove,  merupakan tempat berkembangbiaknya berbagai fauna. Mangrove berfungsi sebagai filter polusi dan sampah yang terbawa arus sungai, mengurangi abrasi dengan memecahkan ombak. Ekosistem mangrove juga dipercaya dapat menimalisasi resiko tsunami dan gelombang badai yang terjadi.

Karakteristik Wilayah Pesisir Jawa Barat yang dibentuk oleh endapan alluvial menjadi daya dukung bagi berkembangnya ekosistem mangrove. Di pesisir utara, tegakan mangrove teridentifikasi di Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Pakis Jaya Kabupaten Karawang, Pamanukan Kabupaten Subang,  Losarang di Kabupaten Indramayu, Astanajapura di kabupaten Cirebon, serta  Kejaksaan di Kota Cirebon. Sementara di pesisir selatan, tegakan mangrove berada dalam koloni yang terbatas.
Karangsong di Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kawasan Mangrove yang baik dan dikembangkan sebagai Mangrove Centrenya Jawa Barat. Contoh lainnya adalah Bali yang memiliki Mangrove Information Centre (MIC) menjadi pusat pembelajaran tidak hanya bagi masyarakat Bali tetapi skala nasional bahkan Internasional. 
 

2.  Ekosistem terumbu karang
Fungsinya sebagai tempat hidup berbagai tumbuhan dan hewan laut, terumbu karang juga dapat memecah ombak sehingga mengurangi abrasi yang terjadi.
Tampak fauna di terumbu karang (Rancabuaya, Pansela, akhir 2015)

Dengan perairan yang bersifat tropis, perairan laut Jawa Barat memiliki ekosistem terumbu karang yang keberadaanya tersebar di pesisir utara maupun selatan.  Di pesisir utara, ekosistem terumbu karang tersebar di gugusan karang sedulang Kecamatan Cilamaya Kabupaten Karawang, serta gugusan karang Pulau Biyawak. Sementara di pesisir selatan, terumbu karang berada di perairan pesisir Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi, perairan pesisir Pameungpeuk  dan Rancabuaya Kabupaten Garut,  serta perairan pesisir Parigi dan Pangandaran. Selain sebagai habitat dari ikan hias, terumbu karang juga menjadi bagian dari  objek wisata bahari dan penahan gelombang alamiah. 


 


          Terumbu Karang di Rancabuaya, terekspose sempurna menjadi tempat wisata favorit
 
3.  Ekosistem Padang Lamun
Seperti ekosistem lainnya, padang lamun pun berfungsi sebagai pemecah gelombang laut. Di pesisir utara, padang lamun terdapat di perairan pulau Biawak. Padang lamun diduga merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan duyung. Sementara di pesisir selatan Jawa Barat, ekosistem padang lamun terdapat di pesisir Pangandaran, Batukaras dan Madasari Kab. Ciamis serta pantai Ujung Genteng Kec. Surade Kabupaten Sukabumi.
Ekosistem lamun berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan berbagai jenis biota laut. Tumbuhan yang biasa hidup di daerah pesisir laut dangkal dan berkadar garam tinggi ini memiliki peran penting bagi ekosistem laut, antara lain memelihara produktivitas dan stabilitas pantai di pesisir dan ekosistem estuaria.  

4.  Ekosistem Hutan Pantai
Wilayah pesisir Jawa Barat memiliki ekosistem hutan pantai yang berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat. Di pesisir selatan, keberadaan hutan pantai telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri kehutanan sesuai dengan fungsi yang dimiliki, antara lain sebagai Suaka Margasatwa (SM) dan Cagar Alam (C.A). 

5.  Ekosistem Estuaria
Estuaria adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria pada umumnya dibentuk oleh lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang naik, atau pun karena turunnya sebagian daratan oleh sebab-sebab tektonik. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.

Ekosistem estuari pada umumnya banyak terdapat tegakan bakau dan nipah yang tumbuh disepanjang tepi sungai.  Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang hidup endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai kemampuan osmoregulasi yang tinggi.

KEMBALI KE ALAM
Peran ekosistem pesisir sangat penting baik bagi kehidupan manusia maupun makhluk lainnya. Tata ruang alamiah memberikan fungsi untuk keberlanjutan kehidupan, minimalisasi bencana sebelum sampai ke daratan, serta mengurangi kerusakan infrastruktur lainnya.  Sayangnya, manusia sering merasa lebih pintar dan egois. Ekosistem pesisir kemudian dirubah, menjadi kawasan permukiman, industri dan aktivitas ekonomi lainnya tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah alam.

Sudah saatnya kita mempelajari dan memahami ekosistem pesisir sebagai bagian penting dari pencegahan kerusakan dan pencemaran termasuk meminimalisasi bencana yang terjadi. Pesisir bukan merupakan akhir pencemaran dan kerusakan tetapi merupakan benteng keselamatan manusia.
Pemahaman akan fungsi pesisir perlu dilakukan bagi semua aspek masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Semoga kerusakan dan pencemaran pesisir akan terus berkurang…Aamiin….

DAFTAR PUSTAKA
Surajis, 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan Tetapkan 8 Kawasan Konervasi Laut Nasional .   http://surajis.multiply.com/journal/item/102.
Cric Mangkep. 2008 -. Fasilitasi Pembentukan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Jakarta
Muliarta-Indomarin.com. 2009. Indonesia Target Bangun 10 juta hektar konservasi laut daerah.
Isobe, Masahiko. 1998.Toward Integrated Coastal Sone Management in Japan. ESENA Workshop : Energy-Related Marine Issues in The Sea of Japan, Tokyo, Japan.







No comments:

Post a Comment