Pesisir
merupakan wilayah peralihan dan interaksi antara ekosistem darat dan laut.
Kawasan Pesisir kearah darat secara ekologis merupakan kawasan yang masih
dipengaruhi oleh proses-proses kelautan,
seperti pasang surut, intrusi air laut. Ke arah lautan kawasanan ini secara
ekologis adalah kawasan laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alamiah
di darat (aliran air sungai, run off,
aliran air tanah) atau dampak kegiatan manusia di darat seperti polutan dan
sedimen.
Kawasan
pesisir kaya akan berbagai sumberdaya alam
sehingga banyak aktivitas manusia berada di kawasan ini. Dalam
sejarahnya, kawasan pesisir cenderung lebih maju dibandingkan dengan kawasan
pegunungan. Karena konturnya yang relatif datar, kota-kota besar umumnya terletak di kawasan
pesisir.
Fungsi
penting lainnya, bahwa kawasan pesisir berperan sebagai Disaster Prevention atau Pencegah Bencana. Bencana
alam yang terjadi di lautan, kecenderungannya semakin meningkat. Perubahan
iklim merupakan salah satu penyebab bertambahnya kejadian bencana. Kenaikan muka air laut (sea level rise) menyebabkan pasang air semakin jauh ke daratan,
bahkan menyebabkan pulau-pulau kecil
tenggelam. Badai di lautan semakin sering terjadi, gejolak alam ini kemudian
akan sampai di kawasan pesisir. Sifat pesisir
yang open access, menyebabkan kawasan
pesisir rawan terhadap terjadinya
bencana alam.
Pesisir
sebagai muara sungai, akan membawa
berbagai material termasuk polutan dan sedimentasi yang berasal dari daratan.
Sungai dengan kualitas air yang buruk, berakhir dan terkumpul di kawasan
pesisir-laut berdampak terhadap kerusakan lingkungan.
Bencana di Kawasan
Pesisir
Kawasan
pesisir memiliki potensi bencana yang beragam, berikut ini adalah bencana yang
terjadi;
Tsunami , merupakan bencana ‘khas’
wilayah pesisir laut. Kejadian bencana ini sulit diprediksi, waktu kejadiannya yang cepat dan masif
menyebabkan kerusakan akibat tsunami sering kali sangat parah. Kejadian tsunami
yang dahsyat ketika terjadi di negara Jepang. Negara yang memiliki 1001 macam
cara mengatasi bencana ternyata ‘gagal’ dalam melawan bencana Tsunami.
Jawa
Barat mengalami Tsunami pada tahun 2006, menyebabkan kerusakan di beberapa
kawasan pesisir selatan dan sempat
melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Gelombang Badai, walaupun belum ada data yang
pasti, kejadian bencana ini menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini
diyakini karena perubahan iklim yang berpengaruh terhadap ‘keseimbangan alam’.
Dibandingkan dengan Tsunami, gelombang badai lebih bisa diatasi. Deteksi dini
dapat dilakukan untuk mengetahui kejadian badai dan kawasan mana yang akan
terkena dampaknya. Namun sayangnya, memerlukan peralatan canggih sebagai
alat peringatan dini untuk mengurangi resiko bencana dengan harga yanga cukup mahal.
Pemanasan Global, Indonesia mengalami kenaikan
muka air laut sekitar 0,5 setiap tahunnya. Pemanasan global menyebabkan volume
air meningkat, memicu terjadinya bencana di laut semakin banyak baik jenis
maupun frekwensinya. Hal ini tentu menyebabkan kawasan pesisir termasuk
pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kenaikan muka air
laut menyebabkan berubahnya garis
pantai.
Bencana
pesisir lainnya yang perlahan tapi pasti, diantaranya abrasi, pencemaran dan sedimentasi. Abrasi menyebabkan kerusakan
dalam jangka waktu yang lama dan
perubahannya tidak terasa, namun memberikan dampak yang besar terhadap
lingkungan. Kerusakan ifrastruktur seperti permukiman penduduk. penggerusan jalan, fasilitas
pariwisata adalah dampak dari abrasi yang terjadi
Pencemaran
yang terbawa sepanjang aliran sungai akan bermuara di laut, berpengaruh
terhadap ekosistem laut dan dapat mematikan keanekaragaman hayati di kawasan
pesisir dan laut.
Fungsi pesisir
sebagai Disaster Prevention
Ekosistem
pesisir memiliki karekteristik yang kompleks dimana terjadinya hubungan timbal
balik antara komponen penyusun ekosistem. Ekosistem pesisir diantarnya mangrove,
hutan pantai, hutan rawa pantai, estuaria, terumbu karang, padang lamun, pantai
lumpur, pantai berbatu dan ekosistem pelagis dangkal. Secara keseluruhan
ekosistem pesisir menyimpan sumberdaya hayati dan non hayati yang berlimpah.
Ekosistem
alamiah kawasan pesisir, diantaranya;
1. Ekosistem
Mangrove, merupakan tempat berkembangbiaknya
berbagai fauna. Mangrove berfungsi sebagai filter polusi dan sampah yang
terbawa arus sungai, mengurangi abrasi dengan memecahkan ombak. Ekosistem
mangrove juga dipercaya dapat menimalisasi resiko tsunami dan gelombang badai
yang terjadi.
Karakteristik
Wilayah Pesisir Jawa Barat yang dibentuk oleh endapan alluvial menjadi daya
dukung bagi berkembangnya ekosistem mangrove. Di pesisir utara, tegakan
mangrove teridentifikasi di Muara Gembong Kabupaten Bekasi, Pakis Jaya
Kabupaten Karawang, Pamanukan Kabupaten Subang,
Losarang di Kabupaten Indramayu, Astanajapura di kabupaten Cirebon,
serta Kejaksaan di Kota Cirebon.
Sementara di pesisir selatan, tegakan mangrove berada dalam koloni yang
terbatas.
Karangsong
di Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kawasan Mangrove yang baik dan
dikembangkan sebagai Mangrove Centrenya Jawa Barat. Contoh lainnya adalah Bali
yang memiliki Mangrove Information Centre (MIC) menjadi pusat pembelajaran tidak
hanya bagi masyarakat Bali tetapi skala nasional bahkan Internasional.
2. Ekosistem
terumbu karang
Fungsinya
sebagai tempat hidup berbagai tumbuhan dan hewan laut, terumbu karang juga
dapat memecah ombak sehingga mengurangi abrasi yang terjadi.
Tampak fauna di terumbu karang (Rancabuaya, Pansela, akhir 2015)
Dengan
perairan yang bersifat tropis, perairan laut Jawa Barat memiliki ekosistem
terumbu karang yang keberadaanya tersebar di pesisir utara maupun selatan. Di pesisir utara, ekosistem terumbu karang
tersebar di gugusan karang sedulang Kecamatan Cilamaya Kabupaten Karawang,
serta gugusan karang Pulau Biyawak. Sementara di pesisir selatan, terumbu
karang berada di perairan pesisir Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi, perairan
pesisir Pameungpeuk dan Rancabuaya
Kabupaten Garut, serta perairan pesisir
Parigi dan Pangandaran. Selain sebagai habitat dari ikan hias, terumbu karang
juga menjadi bagian dari objek wisata
bahari dan penahan gelombang alamiah.
Terumbu
Karang di Rancabuaya, terekspose sempurna menjadi tempat wisata favorit
3. Ekosistem
Padang Lamun
Seperti
ekosistem lainnya, padang lamun pun berfungsi sebagai pemecah gelombang laut. Di
pesisir utara, padang lamun terdapat di perairan pulau Biawak. Padang lamun
diduga merupakan tempat mencari makan (feeding
ground) bagi ikan duyung. Sementara di pesisir selatan Jawa Barat,
ekosistem padang lamun terdapat di pesisir Pangandaran, Batukaras dan Madasari
Kab. Ciamis serta pantai Ujung Genteng Kec. Surade Kabupaten Sukabumi.
Ekosistem
lamun berfungsi sebagai tempat perkembangbiakan berbagai jenis biota laut.
Tumbuhan yang biasa hidup di daerah pesisir laut dangkal dan berkadar garam
tinggi ini memiliki peran penting bagi ekosistem laut, antara lain memelihara
produktivitas dan stabilitas pantai di pesisir dan ekosistem estuaria.
4. Ekosistem Hutan Pantai
Wilayah
pesisir Jawa Barat memiliki ekosistem hutan pantai yang berfungsi sebagai
kawasan perlindungan setempat. Di pesisir selatan, keberadaan hutan pantai
telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri kehutanan sesuai dengan fungsi yang
dimiliki, antara lain sebagai Suaka Margasatwa (SM) dan Cagar Alam (C.A).
5. Ekosistem
Estuaria
Estuaria
adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut,
sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar.
Estuaria pada umumnya dibentuk oleh lembah-lembah sungai yang tergenang air
laut, baik karena permukaan laut yang naik, atau pun karena turunnya sebagian
daratan oleh sebab-sebab tektonik. Estuaria juga dapat terbentuk pada
muara-muara sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.
Ekosistem
estuari pada umumnya banyak terdapat tegakan bakau dan nipah yang tumbuh
disepanjang tepi sungai. Biota yang
hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang hidup
endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari
laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai
kemampuan osmoregulasi yang tinggi.
KEMBALI KE ALAM
Peran
ekosistem pesisir sangat penting baik bagi kehidupan manusia maupun makhluk
lainnya. Tata ruang alamiah memberikan fungsi untuk keberlanjutan kehidupan,
minimalisasi bencana sebelum sampai ke daratan, serta mengurangi kerusakan
infrastruktur lainnya. Sayangnya, manusia
sering merasa lebih pintar dan egois. Ekosistem pesisir kemudian dirubah,
menjadi kawasan permukiman, industri dan aktivitas ekonomi lainnya tanpa
mempertimbangkan kaidah-kaidah alam.
Sudah
saatnya kita mempelajari dan memahami ekosistem pesisir sebagai bagian penting
dari pencegahan kerusakan dan pencemaran termasuk meminimalisasi bencana yang
terjadi. Pesisir bukan merupakan akhir pencemaran dan kerusakan tetapi
merupakan benteng keselamatan manusia.
Pemahaman
akan fungsi pesisir perlu dilakukan bagi semua aspek masyarakat, pemerintah dan
dunia usaha. Semoga kerusakan dan pencemaran pesisir
akan terus berkurang…Aamiin….
DAFTAR
PUSTAKA
Surajis,
2009. Departemen Kelautan dan Perikanan Tetapkan 8 Kawasan Konervasi Laut
Nasional .
http://surajis.multiply.com/journal/item/102.
Cric
Mangkep. 2008 -. Fasilitasi Pembentukan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).
Jakarta
Muliarta-Indomarin.com.
2009. Indonesia Target Bangun 10 juta hektar konservasi laut daerah.
Isobe,
Masahiko. 1998.Toward Integrated Coastal Sone Management in Japan. ESENA
Workshop : Energy-Related Marine Issues in The Sea of Japan, Tokyo, Japan.

No comments:
Post a Comment