Saturday, July 6, 2019

Apa yang Harus Disiapkan Ketika Melempar Jumroh?


Seperti juga Wukuf di Arafah, melempar Jumrah hanya dilakukan pada saat berhaji. Melempar Jumrah merupakan salah satu wajib haji yang dilaksanakan selepas Wukuf di Arafah dan malam sebelumnya  mabit di Muzdalifah, yaitu pada tangganl  11, 12 dan 13 Dzulhijah.
Pada saat pelaksanaan haji di tahun 2017, rombongan KBIH kami mendapatkan tenda  di Mina yang sekaligus sebagai Muzdalifah. Lokasi tenda penginapan cukup jauh dari tempat lempar Jumroh. Menurut panitia berjarak sekitar  5-7 km, sehingga pelaksanaan lempar Jumrah memberikan kesan yang mendalam bagi kami.
Suasana sekitar Jamarot, tempat melempar jumrah 

Pada hari pertama lempar Jumroh semua ingin melaksanakan  pada waktu yang afdol seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Namun tidak memungkinkan, sarana prasarana yang ada tidak bisa menampung seluruh jamaah haji dari seluruh dunia secara bersamaan. Untuk itu, disepakati waktu pelaksanaan  lempar jumroh dari setiap rombongan haji dari setiap negara.  Hal ini untuk menghindari kecelakaan yang mungkin dapat terjadi akibat jamaah yang berdesak-desakan.
Hari pertama melempar Jumrah  merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Perjuangan luar biasa, karena jarak yang jauh dan waktu pelaksanaan tepat tengah hari. Rombongan kami, melaksanakan lempar Jumroh di tanggal 11 Dzulhijah  pada siang hari, tepat jam 13 siang waktu Arab Saudi.  Sedangkan hari ke 2, dilaksanakan pada malam hari dengan jarak yang lebih dekat dan relative lebih nyaman. Pelaksanan yang ke tiga dilaksanakan pada sore hari dengan jarak yang lebih dekat dan lebih nyaman. Kami berjalan bersamaan dengan membawa bekal makanan secukupnya.
Sepanjang jalan yang kami lewati, banyak sekali jamaah yang tergeletak di pinggir jalan, terutama para orang tua. Sebagian besar karena kelelahan. Pegawai medis berseliweran, ambulance hilir mudik. Namun karena banyaknya jamaah yang kelelahan atau sakit, sebagian ditangani  oleh keluarganya sendiri.

Dibawah terik matahari, kami berjalan sambil terus berdzikir dan mengucapkan talbiah. Saya sendiri cukup kepayahan, mengatur langkah dan nafas agar tidak tertinggal rombongan dan yang paling utama adalah ingin segera menghindar dari teriknya matahari.

Di beberapa lokasi, pemerintah saudi memasang semprotan air yang diarahkan kepada jamaah.

 Semprotan air di beberapa tempat sepanjang jalur menuju Jamarot

Kami menemukan beberapa jamaah yang tersesat dari rombongannya dan tidak tahu lokasi kemah tempat rombongannya. Walaupun informasi sudah ditempatkan di mana-mana dengan petugas yang tersebar, tidak selalu menolong karena kendala bahasa. Untuk itu, identitas diri, identitas tenda selama mabit harus selalu dibawa. Termasuk saya dan suami dan beberapa teman satu KBIH, juga kesulitan mencapai kemah kami sendiri.
Dari pengalaman inilah, ada baiknya ketika akan melaksanakan Lempar Jumrah dipersiakan dengan matang, dibawah ini adalah catatan saya ketika melaksanakan lempar Jumrah


1.    Niatkan dengan yakin, bahwa kita akan melaksanakan perintah Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Setiap langkah menuju lokasi,  selalu diiringi dengan dzikir, talbiah dan jangan sampai terputus,
2.    Waktu pelaksanaan pelemparan Jumrah, dilakukan tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal  11, 12 dan 13 Dzulhijjah yang sebelumnya melaksankan Mabit di Muzdalifah. Kerikil sudah disiapkan oleh panitia haji. Kita tinggal memastikan kerikil yang disiapkan sebanyak 7 pada hari pertama dan  masing-masing 21 kerikil pada hari kedua dan ke tiga. melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
3.   Selain baju yang nyaman, topi, payung, anduk kecil (sebagian jamaah membasahi dan ditempelkan di kepala) juga sepatu. Sepatu yang disarankan, nyaman untuk digunakan untuk berjalan jarak jauh dan pada kondisi yang panas.
Sebagian teman, telapak kakinya sampai melepuh padahal sudah menggunakan sepatu, jadi pilihlah sepatu yang nyaman dan kuat ketika berjalan jauh di bawah terik matahari.
4.     Mengingat dengan jelas, apa yang akan kita lakukan ketika sudah sampai di lokasi,  ini sangat penting karena pelaksanaan lempar jumrah adalah rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan tetapi boleh diwakilkan. Ingatlah prosesi Lempar Jumrah;  melempar kerikil, tahalul kemudian berdoa. Bersama-sama rombongan akan lebih baik, agar saling mengingatkan satu sama lain.
5.      Bawa makanan secukupnya, buah-buahan dan minuman lebih diperlukan. Namun tidak usah khawatir karena sepanjang jalur, banyak terdapat kran-kran air yang bisa langsung diminum. Sesekali mobil datang dan menyebarkan minuman secara gratis, belum lagi para dermawan yang menyediakan minuman gratis di beberapa tempat yang dilewati jamaah.
6.     Semprotan air, adalah senjata penting yang selalu dibawa. Semprotkan ke muka, kebagian tubuh yang terpapar matahari secara langsung sesering mungkin selain minum yang juga perlu perhatian untuk menghindari dehidrasi.
7.    Tidak perlu tergesa-gesa untuk mencapai dan tidak memaksakan diri, namun ingat selalu akan kemampuan diri,
8.    Uang, diperlukan terutama ketika kita memerlukan jasa ‘mendorong’ kursi roda bagi jamaah yang tidak kuat berjalan. Apalagi ketika jaraknya cukup jauh dengan cuaca panas. Pada saat pelaksanaan Lempar Jumrah, sebagian besar jamaah merasa mampu berjalan dan akhirnya tidak bisa meneruskan karena kelelahan. Padasaat itu, jasa dorong kursi roda sektiar 200 real. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya tim pendamping haji atau petugas haji.




Melempar Jumrah adalah pengalama luar biasa yang selalu saya ingat, selain perjuangan melaksanakan ibadah tersebut juga makna yang terkandung. Bahwa melawan keburukan,harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan perlu pengorbanan. Sesunggunya setan adalah musuh yang nyata, tergambarkan dalam pelaksanaan lempar Jumrah. Semoga bermanfaat….Aamiin

No comments:

Post a Comment