Seperti juga Wukuf di Arafah, melempar
Jumrah hanya dilakukan pada saat berhaji. Melempar Jumrah merupakan salah satu wajib
haji yang dilaksanakan selepas Wukuf di Arafah dan malam sebelumnya mabit di Muzdalifah, yaitu pada tangganl 11, 12 dan 13 Dzulhijah.
Pada saat pelaksanaan haji di
tahun 2017, rombongan KBIH kami mendapatkan tenda di Mina yang sekaligus sebagai Muzdalifah. Lokasi
tenda penginapan cukup jauh dari tempat lempar Jumroh. Menurut panitia berjarak
sekitar 5-7 km, sehingga pelaksanaan
lempar Jumrah memberikan kesan yang mendalam bagi kami.
Suasana sekitar Jamarot, tempat melempar jumrah
Pada hari pertama lempar Jumroh
semua ingin melaksanakan pada waktu yang
afdol seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Namun tidak memungkinkan,
sarana prasarana yang ada tidak bisa menampung seluruh jamaah haji dari seluruh
dunia secara bersamaan. Untuk itu, disepakati waktu pelaksanaan lempar jumroh dari setiap rombongan haji dari
setiap negara. Hal ini untuk menghindari
kecelakaan yang mungkin dapat terjadi akibat jamaah yang berdesak-desakan.
Hari pertama melempar Jumrah merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.
Perjuangan luar biasa, karena jarak yang jauh dan waktu pelaksanaan tepat
tengah hari. Rombongan kami, melaksanakan lempar Jumroh di tanggal 11
Dzulhijah pada siang hari, tepat jam 13
siang waktu Arab Saudi. Sedangkan hari
ke 2, dilaksanakan pada malam hari dengan jarak yang lebih dekat dan relative lebih
nyaman. Pelaksanan yang ke tiga dilaksanakan pada sore hari dengan jarak yang
lebih dekat dan lebih nyaman. Kami berjalan bersamaan dengan membawa bekal
makanan secukupnya.
Sepanjang jalan yang kami lewati,
banyak sekali jamaah yang tergeletak di pinggir jalan, terutama para orang tua.
Sebagian besar karena kelelahan. Pegawai medis berseliweran, ambulance hilir
mudik. Namun karena banyaknya jamaah yang kelelahan atau sakit, sebagian
ditangani oleh keluarganya sendiri.
Dibawah terik matahari, kami
berjalan sambil terus berdzikir dan mengucapkan talbiah. Saya sendiri cukup
kepayahan, mengatur langkah dan nafas agar tidak tertinggal rombongan dan yang
paling utama adalah ingin segera menghindar dari teriknya matahari.
Di beberapa lokasi, pemerintah saudi memasang semprotan air yang diarahkan kepada jamaah.
Semprotan air di beberapa tempat sepanjang jalur menuju Jamarot
Kami menemukan beberapa jamaah
yang tersesat dari rombongannya dan tidak tahu lokasi kemah tempat rombongannya.
Walaupun informasi sudah ditempatkan di mana-mana dengan petugas yang tersebar,
tidak selalu menolong karena kendala bahasa. Untuk itu, identitas diri,
identitas tenda selama mabit harus selalu dibawa. Termasuk saya dan suami dan
beberapa teman satu KBIH, juga kesulitan mencapai kemah kami sendiri.
Dari pengalaman inilah, ada baiknya
ketika akan melaksanakan Lempar Jumrah dipersiakan dengan matang, dibawah ini
adalah catatan saya ketika melaksanakan lempar Jumrah
1. Niatkan dengan yakin, bahwa kita akan
melaksanakan perintah Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad
Saw. Setiap langkah menuju lokasi,
selalu diiringi dengan dzikir, talbiah dan jangan sampai terputus,
2. Waktu pelaksanaan pelemparan Jumrah, dilakukan
tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal
11, 12 dan 13 Dzulhijjah yang sebelumnya melaksankan Mabit di
Muzdalifah. Kerikil sudah disiapkan oleh panitia haji. Kita tinggal memastikan
kerikil yang disiapkan sebanyak 7 pada hari pertama dan masing-masing 21 kerikil pada hari kedua dan
ke tiga. melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
3. Selain baju yang nyaman, topi, payung, anduk
kecil (sebagian jamaah membasahi dan ditempelkan di kepala) juga sepatu. Sepatu
yang disarankan, nyaman untuk digunakan untuk berjalan jarak jauh dan pada
kondisi yang panas.
Sebagian teman, telapak kakinya sampai melepuh padahal
sudah menggunakan sepatu, jadi pilihlah sepatu yang nyaman dan kuat ketika
berjalan jauh di bawah terik matahari.
4. Mengingat dengan jelas, apa yang akan kita
lakukan ketika sudah sampai di lokasi,
ini sangat penting karena pelaksanaan lempar jumrah adalah rukun haji
yang tidak boleh ditinggalkan tetapi boleh diwakilkan. Ingatlah prosesi Lempar
Jumrah; melempar kerikil, tahalul
kemudian berdoa. Bersama-sama rombongan akan lebih baik, agar saling
mengingatkan satu sama lain.
5.
Bawa makanan secukupnya, buah-buahan dan minuman
lebih diperlukan. Namun tidak usah khawatir karena sepanjang jalur, banyak
terdapat kran-kran air yang bisa langsung diminum. Sesekali mobil datang dan
menyebarkan minuman secara gratis, belum lagi para dermawan yang menyediakan
minuman gratis di beberapa tempat yang dilewati jamaah.
6.
Semprotan air, adalah senjata penting yang
selalu dibawa. Semprotkan ke muka, kebagian tubuh yang terpapar matahari secara
langsung sesering mungkin selain minum yang juga perlu perhatian untuk
menghindari dehidrasi.
7. Tidak perlu tergesa-gesa untuk mencapai dan
tidak memaksakan diri, namun ingat selalu akan kemampuan diri,
8.
Uang, diperlukan terutama ketika kita memerlukan
jasa ‘mendorong’ kursi roda bagi jamaah yang tidak kuat berjalan. Apalagi
ketika jaraknya cukup jauh dengan cuaca panas. Pada saat pelaksanaan Lempar
Jumrah, sebagian besar jamaah merasa mampu berjalan dan akhirnya tidak bisa
meneruskan karena kelelahan. Padasaat itu, jasa dorong kursi roda sektiar 200
real. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya tim pendamping haji atau petugas
haji.
Melempar Jumrah adalah pengalama
luar biasa yang selalu saya ingat, selain perjuangan melaksanakan ibadah
tersebut juga makna yang terkandung. Bahwa melawan keburukan,harus dilakukan
dengan sungguh-sungguh dan perlu pengorbanan. Sesunggunya setan adalah musuh yang
nyata, tergambarkan dalam pelaksanaan lempar Jumrah. Semoga bermanfaat….Aamiin

No comments:
Post a Comment