Tahun
2012, pertama kali saya mendapat kesempatan untuk melaksanakan ibadah umroh
bersama suami. Banyak kejadian luar biasa yang sebelumnya tidak pernah saya
bayangkan.
Setelah
melalui perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di Madinah. Kamipun bersih-bersih diri
dan beristirahat sejenak, kemudian kami bersiap-siap menuju masjid Nabawi untuk
melaksanakan shalat dhuha bersama.
1. Kesempatan Tak Terduga
Sebelum
menuju masjid, pembimbing menyarankan untuk tidak ke Rhaudhah karena untuk yang pertama kali akan sangat
kesulitan. Jadwal yang ketat dan ruang yang terbatas menyebabkan jama’ah akan
berdesakan dan bersaing dengan orang-orang dari berbagai negara. Maklumlah
Indonesia termasuk negara Asia yang
proporsi badannya kecil dibandingkan saudara-saudara kita dari negara Arab dan
Afrika.
Sebelum
masuk masjid Nabawi, ada penjaga wanita yang kesemuanya menggunakan cadar (biasa
dipanggir laskar) berdiri tepat didepan pintu, memeriksa setiap kantong yang
akan masuk ke dalam mesjid. Mereka meminta untuk tidak membawa HP atau kamera
(walaupun banyak juga yang tidak diperiksa dan banyak juga yang tetap membawa
kamera atau HP canggih dan bisa bebas dari pemeriksaan para ‘laskar’). Saya duduk,
mengambil tempat yang tidak terlalu depan, bersama teman-teman satu rombongan
dari Indonesia. Kami melaksanakan shalat dhuha, suasana yang luar biasa
merasuki raga ini. MasyaAllah, Ya Rahman Ya Rahiim, Engkau berikan kenikmatan
luar biasa.
Setelah
shalat dhuha, sambil berzikir saya amati dan melihat sekeliling mesjid. Banyak
aktivitas yang dilakukan oleh para jamaah, walaupun belum terlalu banyak karena
waktu dhuhur yang masih lama. Teman-teman satu rombongan memutuskan untuk
kembali ke hotel dan saya memutuskan untuk tinggal di masjid sambil menunggu shalat
Dzuhur.
Saya
terus mengamati sekeliling, sambil berjalan menuju kedepan, sampai batas terdepan
ruang perempuan. Ada pilar-pilar kokoh dari kayu, dengan rasa penasaran saya
coba intip, ada apakah di balik tirai tadi? Sulit mengamati, tapi tampak
ruangan yang sama dengan ruangan di mana saya berada, ternyata itu adalah ruang
umat laki-laki. Akhirnya saya mendapatkan tempat tepat dibagian yang paling
cocok dan saya pun duduk. Tiba-tiba tepat di sebelah saya, seseorang mengucapkan
salam dan saya langsung menjawab, Waalaikumussalam. Oh, ternyata orang
Indonesia. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa
berkomunikasi dan bertanya berbagai hal kepada ibu ini.
Saya
memberanikan diri untuk memulai perbincangan, “Bu, sudah berapa kali ke mari?” dengan
lembut, ibu ini menjawab sudah tiga kali. Wah, saya sangat kagum, “ibu seneng
banget ya, bisa bulak balik ke sini” dan beliau tersenyum. Kemudian saya
bertanya lagi, apakah ibu pernah ke Rhaudhah?dan ternyata ibu ini sudah
beberapa kali ke Rhaudhah. Beliau menawarkan apakah saya juga mau ke Rhaudhah?
Tanpa berfikir panjang, saya langsung mengiyakan. Beliau kemudian bercerita,
kalau waktu untuk perempuan ke Rhaudhah terbatas, biasanya setelah dzuhur dan
waktunya sempit. Akhirnya kami bercerita panjang lebar sampai beliau
menceritakan bahwa beliau mengidap penyakit kangker sambil berkaca, dia
berharap dengan kepergiannnya ke tanah suci secara rutin bisa mendapat
keridhoaan Allah SWT. Aamiin, semoga beliau diberikan kesehatan kembali. .
Tidak
terasa, Adzan berkumandan, masjid semakin rame, orang berdatangan mencari
tempat yang baik utuk melakukan shalat sambil tak henti-hentinya para laskar
mengatur jamaah agar rapih. Suasana hiruk pikuk dan teriakan laskar akhrinya
terhenti saat khomat dan kami melaksanakan shalat berjamaah. Alhamdulillah.
Setelah
melakukan shalat sunnah dan wirid, laskar berteriak-teriak lagi (saya tidak
mengerti karena dalam bahasa Arab). Ibu ini menerangkan, waktunya untuk kaum
perempuan memasuki Rhaudah. Kita dikumpulkan berdasarkan kesukuan/kebenuaan.
Kami mengikuti laskar yang meneriakkan, “malay-malay”. Saya, ibu ini bersama
orang indonesia dan asia lainnya, kami berkelompok. Cukup banyak juga orang
Indonesia, wah ternyata serasa di tanah air ya. Akhirnya giliran kami masuk Rhaudhah. Tempatnya sangat sesak dan orang-orang
berusaha shalat paling depan. Ibu
menarik saya untuk sampai di jajaran depan, tapi hanya satu tempat yang ada.
Saya mempersilahkan beliau karna saya masih ada kesempatan nanti malam, akan
datang bersama rombongan. Setalah melakukan shalat dua rakaat, laskar kembali
berteriak, agar yang sudah shalat untuk
segera keluar, karena rombongan selanjutnya akan datang. Saya pun keluar dan
terpisah dari ibu, belum sempat saya mengucapkan terimakasih, belum sempat saya
menanyakan nama dan alamat di Indonesia. Terimakasih ibu, pengalaman yang
sangat luar biasa dan semoga ibu selalu mendapatkan kebaikan dari Allah SWT,
Aamiin.
Malamnya,
setelah shalat Isya, saya dan rombongan menuju Rhaudhah. Seperti tadi siang,
kami dikumpulkan bersama orang-orang Asia lainnya. Pada kesempatan ke dua ini, dengan
sigap dan shalat sunnah tepat di jajaran paling depan. Saya pun bisa
melaksanakan shalat sunnah beberapa rakaat. Alhamdulillah, terima kasih Ya
Allah SWT, saya mendapat kesempatan ke Rhaudhah lebih awal dan bertemu ibu ini,
terimakasih ibu sudah
memperkenalkan Rhaudhah kepada saya. Semoga amal kebaikan ibu mendapat
keberkahan dari Allah SWT. Aamiin
2.
Kurma
dan Kacang Turki
Waktu
shalat tiba, sembari menikmati situasi dalam mesjid, saya duduk di tempat yang
tidak terlalu depan. Rombongan perempuan Turki (terlihat dari cara
berpakaiannya yang modis) duduk di sebelah saya. Kemudian salah seorangnya
mengucapkan salam, saya jawab Wassalamualaikum warahmatullohi wa barakatuh. Ibu Turki ini memberi saya beberapa butir
korma dan kacang. Ibu ini mengusap kepala saya dari ujung kepala sampai ke
bagian belakang kepala, sambil mengucapkan kata-kata yang saya yakin itu adalah
doa untuk saya (karena saya tidak faham apa yang beliau sampaikan) saya hanya
tersenyum dan sekali lagi mengucapkan thank
you. Sembari menunggu adzan, ibu tadi melihat sajadah kecil yang saya bawa
dari Indonesia. Kemudian beliau mengatakan sesuatu (mungkin maksudnya, bagus
ya, boleh saya lihat?) kemudian beliau mengambilnya dan memperhatikannya dan
diperlihatkan kepada teman-temannya dan bercerita (sekali lagi, saya terdiam,
tidak mengerti apa yang diucapkan) dan beliau mengembalikan sejadah tersebut
pada tempat semula. Adzan berkumandan dan kamipun siap untuk Shalat berjamaah.
Allohu Akbar, setalah puas berdoa dan shalat, saya mengucapkan salam kepada ibu
tadi dan saya katakan this is for you,
sembari memberikan sajadah kecil itu kepadanya. Beliau sempet kaget dan berkata Alhamdulillah, kemudian
beliau mengusap-ngusap kepala saya kembali sembari berkata-kata dan saya yakin,
bahwa ibu ini mendoakan yang terbaik buat saya . Satu kantong kurma dan makanan
ala Turki diberikan kepada saya (saya tidak tau namanya, setelah ditanyakan ke
pembimbing katanya kacang itu khas dari Turki sebagai bekal yang memberikan
tenaga dan rasa kenyang yang lebih lama), Alhamdulilah.
No comments:
Post a Comment