Friday, September 16, 2016

KEAJAIBAN BERBAGI dI TANAH SUCI (bagian 1)



Tahun 2012, pertama kali saya mendapat kesempatan untuk melaksanakan ibadah umroh bersama suami. Banyak kejadian luar biasa yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami  sampai di Madinah. Kamipun bersih-bersih diri dan beristirahat sejenak, kemudian kami bersiap-siap menuju masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat dhuha bersama.
1.              Kesempatan Tak Terduga
Sebelum menuju masjid, pembimbing menyarankan untuk tidak ke Rhaudhah  karena untuk yang pertama kali akan sangat kesulitan. Jadwal yang ketat dan ruang yang terbatas menyebabkan jama’ah akan berdesakan dan bersaing dengan orang-orang dari berbagai negara. Maklumlah Indonesia termasuk  negara Asia yang proporsi badannya kecil dibandingkan saudara-saudara kita dari negara Arab dan Afrika.
Sebelum masuk masjid Nabawi, ada penjaga wanita yang kesemuanya menggunakan cadar (biasa dipanggir laskar) berdiri tepat didepan pintu, memeriksa setiap kantong yang akan masuk ke dalam mesjid. Mereka meminta untuk tidak membawa HP atau kamera (walaupun banyak juga yang tidak diperiksa dan banyak juga yang tetap membawa kamera atau HP canggih dan bisa bebas dari pemeriksaan para ‘laskar’). Saya duduk, mengambil tempat yang tidak terlalu depan, bersama teman-teman satu rombongan dari Indonesia. Kami melaksanakan shalat dhuha, suasana yang luar biasa merasuki raga ini. MasyaAllah, Ya Rahman Ya Rahiim, Engkau berikan kenikmatan luar biasa.
Setelah shalat dhuha, sambil berzikir saya amati dan melihat sekeliling mesjid. Banyak aktivitas yang dilakukan oleh para jamaah, walaupun belum terlalu banyak karena waktu dhuhur yang masih lama. Teman-teman satu rombongan memutuskan untuk kembali ke hotel dan saya memutuskan untuk tinggal di masjid sambil menunggu shalat Dzuhur.
Saya terus mengamati sekeliling, sambil berjalan menuju kedepan, sampai batas terdepan ruang perempuan. Ada pilar-pilar kokoh dari kayu, dengan rasa penasaran saya coba intip, ada apakah di balik tirai tadi? Sulit mengamati, tapi tampak ruangan yang sama dengan ruangan di mana saya berada, ternyata itu adalah ruang umat laki-laki. Akhirnya saya mendapatkan tempat tepat dibagian yang paling cocok dan saya pun duduk. Tiba-tiba tepat di sebelah saya, seseorang mengucapkan salam dan saya langsung menjawab, Waalaikumussalam. Oh, ternyata orang Indonesia. Alhamdulillah,  saya akhirnya bisa berkomunikasi dan bertanya berbagai hal kepada ibu ini.
Saya memberanikan diri untuk memulai perbincangan, “Bu, sudah berapa kali ke mari?” dengan lembut, ibu ini menjawab sudah tiga kali. Wah, saya sangat kagum, “ibu seneng banget ya, bisa bulak balik ke sini” dan beliau tersenyum. Kemudian saya bertanya lagi, apakah ibu pernah ke Rhaudhah?dan ternyata ibu ini sudah beberapa kali ke Rhaudhah. Beliau menawarkan apakah saya juga mau ke Rhaudhah? Tanpa berfikir panjang, saya langsung mengiyakan. Beliau kemudian bercerita, kalau waktu untuk perempuan ke Rhaudhah terbatas, biasanya setelah dzuhur dan waktunya sempit. Akhirnya kami bercerita panjang lebar sampai beliau menceritakan bahwa beliau mengidap penyakit kangker sambil berkaca, dia berharap dengan kepergiannnya ke tanah suci secara rutin bisa mendapat keridhoaan Allah SWT. Aamiin, semoga beliau diberikan kesehatan kembali. .
Tidak terasa, Adzan berkumandan, masjid semakin rame, orang berdatangan mencari tempat yang baik utuk melakukan shalat sambil tak henti-hentinya para laskar mengatur jamaah agar rapih. Suasana hiruk pikuk dan teriakan laskar akhrinya terhenti saat khomat dan kami melaksanakan shalat berjamaah. Alhamdulillah.
Setelah melakukan shalat sunnah dan wirid, laskar berteriak-teriak lagi (saya tidak mengerti karena dalam bahasa Arab). Ibu ini menerangkan, waktunya untuk kaum perempuan memasuki Rhaudah. Kita dikumpulkan berdasarkan kesukuan/kebenuaan. Kami mengikuti laskar yang meneriakkan, “malay-malay”. Saya, ibu ini bersama orang indonesia dan asia lainnya, kami berkelompok. Cukup banyak juga orang Indonesia, wah ternyata serasa di tanah air ya. Akhirnya giliran kami masuk Rhaudhah.  Tempatnya sangat sesak dan orang-orang berusaha shalat paling depan.  Ibu menarik saya untuk sampai di jajaran depan, tapi hanya satu tempat yang ada. Saya mempersilahkan beliau karna saya masih ada kesempatan nanti malam, akan datang bersama rombongan. Setalah melakukan shalat dua rakaat, laskar kembali berteriak,  agar yang sudah shalat untuk segera keluar, karena rombongan selanjutnya akan datang. Saya pun keluar dan terpisah dari ibu, belum sempat saya mengucapkan terimakasih, belum sempat saya menanyakan nama dan alamat di Indonesia. Terimakasih ibu, pengalaman yang sangat luar biasa dan semoga ibu selalu mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, Aamiin.
Malamnya, setelah shalat Isya, saya dan rombongan menuju Rhaudhah. Seperti tadi siang, kami dikumpulkan bersama orang-orang Asia lainnya. Pada kesempatan ke dua ini, dengan sigap dan shalat sunnah tepat di jajaran paling depan. Saya pun bisa melaksanakan shalat sunnah beberapa rakaat. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah SWT, saya mendapat kesempatan ke Rhaudhah lebih awal dan bertemu ibu ini,   terimakasih ibu sudah memperkenalkan Rhaudhah kepada saya. Semoga amal kebaikan ibu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin
2.              Kurma dan Kacang Turki
Waktu shalat tiba, sembari menikmati situasi dalam mesjid, saya duduk di tempat yang tidak terlalu depan. Rombongan perempuan Turki (terlihat dari cara berpakaiannya yang modis) duduk di sebelah saya. Kemudian salah seorangnya mengucapkan salam, saya jawab Wassalamualaikum warahmatullohi wa barakatuh.  Ibu Turki ini memberi saya beberapa butir korma dan kacang. Ibu ini mengusap kepala saya dari ujung kepala sampai ke bagian belakang kepala, sambil mengucapkan kata-kata yang saya yakin itu adalah doa untuk saya (karena saya tidak faham apa yang beliau sampaikan) saya hanya tersenyum dan sekali lagi mengucapkan thank you. Sembari menunggu adzan, ibu tadi melihat sajadah kecil yang saya bawa dari Indonesia. Kemudian beliau mengatakan sesuatu (mungkin maksudnya, bagus ya, boleh saya lihat?) kemudian beliau mengambilnya dan memperhatikannya dan diperlihatkan kepada teman-temannya dan bercerita (sekali lagi, saya terdiam, tidak mengerti apa yang diucapkan) dan beliau mengembalikan sejadah tersebut pada tempat semula. Adzan berkumandan dan kamipun siap untuk Shalat berjamaah. Allohu Akbar, setalah puas berdoa dan shalat, saya mengucapkan salam kepada ibu tadi dan saya katakan this is for you, sembari memberikan sajadah kecil itu kepadanya. Beliau  sempet kaget dan berkata Alhamdulillah, kemudian beliau mengusap-ngusap kepala saya kembali sembari berkata-kata dan saya yakin, bahwa ibu ini mendoakan yang terbaik buat saya . Satu kantong kurma dan makanan ala Turki diberikan kepada saya (saya tidak tau namanya, setelah ditanyakan ke pembimbing katanya kacang itu khas dari Turki sebagai bekal yang memberikan tenaga dan rasa kenyang yang lebih lama), Alhamdulilah.
 

No comments:

Post a Comment