Sunday, February 18, 2018

The Beautiful Book

Tahun 2015, saya berkesempatan mengikuti short course tentang Pembangunan Berkelanjutan di Korea Selatan .  Kesempatan yang langka untuk  belajar bagaimana Korsel membangun lingkungannya dan pencapaiannya seperti sekarang ini. Korsel merupakan salah satu negara maju di Asia, sejajar dengan Jepang dan Cina.

Pada sekitar tahun 1960-an, kondisi Korsel tidak berbeda dengan Indonesia pada saat ini. Kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. Seoul sebagi ibu kota negara, mengalami polusi lingkungan yang berat . Selain itu,  pada musim hujan sering terjadi banjir yang merugikan . Namun semua itu sudah menjadi cerita lama, saat ini Korea Selatan menjadi negara maju dengan keindahan alam serta lingkungan yang bersih dan sehat.


                                      Suasana malam hari di kota Seoul. dokpri

Sore itu, sepulang mendapatkan pembelajaran materi, saya dan rekan-rekan (sesama peserta dari Indonesia) kembali ke hotel. Seperti biasa, kami  berjalan-jalan sekitar hotel, menikmati suasana Seoul di malam hari. Kebetulan hotel di mana tempat kami menginap berada di lingkungan pendidikan setidaknya ada dua perguruan tinggi di daerah tersebut. Seperti suasana malam sebelumnya, suasana malam itu juga dipenuhi kaum muda  yang sekedar jalan-jalan, makan atau nongkrong.

Di beberapa taman, nampak sekelompok remaja memamerkan keahliannya,  memainkan alat musik seperti gitar ataupun bernyanyi bahkan ada yang pantomin. Mungkin seperti ‘pengamen jalanan’’tetapi dari tampilannya sangat professional terlihat dari kelengkapan peralatan dan cara memainkannya dan baju yang dikenakan sangat modis.

Setelah puas berjalan-jalan, kami memutuskan kembali ke hotel. Saya mampir ke sebuah mini market untuk membeli air mineral. Seperti  biasa, saya tidak langsung mengambil barang  yang akan dibeli, tetapi berkeliling melihat-lihat barang yang lain. Ini kebiasaan sejak dulu, jika berkesempatan ke toko, saya akan menyempatkan melihat barang-barang menarik dan jika harganya masuk akal maka saya akan beli.

Teringat pesan seorang guide sewaktu di Thailand. Dia bilang begini, kalau kita pergi ke suatu tempat  dan melihat barang yang kita inginkan segeralah beli karena belum tentu kita bisa ke tempat yang sama dan mendapatkan barang yang sama. Betul juga….

Ketika sedang melihat barang yang dipajang, sekilas nampak seorang bapak muda memperhatikan saya, dia tersenyum. Namun saya sedang asik melihat pernak-pernik yang ada, saya mengabaikannya. Setelah memilih pernak pernik menarik dan air mineral yang dibutuhkan,  saya kemudian bergegas ke kasir untuk membayar.

Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ada yang menyodorkan buku kepada saya,  ternyata bapak muda yang sempat memperhatikan saya  dan dia  memberikan sebuah buku.

 ‘It is for you”, kata dia dengan logat Korea.

“Really?”, jawabku…Is it for me?saya menegaskan kembali.

“Yes, for you. Only for you.”  Si bapak tadi menegaskan kembali.

“Ooh..Thank you…Thank you very much”… jawab  saya dengan penuh bahagia dan si bapak muda itu pun keluar mini market terlebih dahulu .

Masih dalam keadaan kebingungan, saya perhatikan bukunya. Buku bagus, tebal dengan cover menarik dan mewah, seperti majalah-majalah yang biasa dipajang di toko-toko buku

Saya lihat sekeliling,  memperhatikan teman-teman yang lain,  ternyata hanya saya yang mendapatkan buku itu. Masih dalam keadaan kaget campur bahagia saya merasa menang karena hanya saya yang mendapatkan buku itu dan teman-teman saya tidak mendapatkannya...hehehe..

Sambil menyusuri jalan setapak menuju hotel, saya bercerita pada teman-teman tentang kejadian tadi, seorang bapak memberikan buku yang bagus hanya kepada saya. Saya sendiri masih keheranan, kenapa saya yang dipilih? Because I am so special…. Apa yang membuat saya berbeda dengan teman-temanku sehinga hanya saya yang diberikan buku itu? Only me! Gitu loh!

 “Coba lihat,” kata salah satu temanku.

 Kami berhenti sesaat, untuk membuka buku indah itu. Teman saya yang membuka buku terlebih dahulu,  tiba-tiba  tertawa terbahak-bahak….diikuti oleh teman-teman yang lain…….ternyata isi buku indah itu  adalah "berbagai rekomendasi tempat/dokter untuk operasi plastik" (buku dalam bahasa Inggris).

Saya ikut tertawa sekaligus  pedih dan perih…….hhmm…..jadi menurut si bapak itu, cuma saya yang pantas untuk operasi plastik?? atau…saya mau dijadikan contoh operasi plastik? Biar jadi kaya artis korea gitu?? Huh!!!

Dalam hati, makanya Eva…. jangan suka ke-ge-er-an kalau jadi orang yaaa…….


*rindushortcoursediluarnegeri*

No comments:

Post a Comment