Monday, December 31, 2018

Emangnya Pemda ngapain aja?



Ah, berkali-kali saya mendapatkan pertanyaan itu. 

Dari sekian orang yang bertemu, dari sekian orang yang kemudian berbicara urusan lingkungan, bertanya sinis dengan nada…gitu deh…. Rasanya pengen jitak! tapi dipikir-pikir…iya ya, ngapain aja sih? Kok lingkungan masih kotor, kok polusi masih ada di mana-mana? Kok airnya masih berwarna warni atau hitam pekat? Kok sampahnya masih numpuk di banyak tempat atau mengapung di sungai yang kita lalui…..dan berbagai komentar yang sering kita dengar dari masyarakat.

Disatu sisi kita patut merasa senang, ternyata masyarakat sudah mulai memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ini menjadi modal penting bagi upaya perbaikan lingkungan. Ketika sudah memperhatikan lingkungan, diharapkan peduli sehingga mulai bertindak jika ada sesuatu yang salah dengan lingkungan, mau berpartisipasi secara aktif.

Pencemaran dan kerusakan lingkungan sebetulnya bukan tanggung jawab institusi bidang lingkungan. Namanyanya aja keren Dinas Lingkungan Hidup, tetapi kewenangannyan ya segitu-gitunya, anggarannya juga segitu-gitunya, SDM? Ya segitu-gitunya juga….perlu perbaikan? Tentu saja…perlu duit banyak? Tentu banget..perlu orang-orang yang profesional? Eta pisaaaannn… tapi apakah bisa dilakukan hanya oleh dinas terkait  lingkungan hidup? tentu saja tidak.

Menjaga atau memperbaiki lingkungan adalah upaya bersama, bukan hanya pemerintah tetapi masyarakat, individu memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Seenggaknya mengurangi sampah yang dihasilkan. 

Menjaga atau memperbaiki lingkungan, bukan hanya tanggung jawab dinas lingkungan, tetapi peran berbagai institusi lainnya sangat diperlukan. Contoh, perindustrian sangat berperan karena lebih mengetahui proses produksi dan produk yang dihasilkan,  sampai keuntungan dan kerugian yang dihasilkan. Dinas peternakan, sangat berperan untuk mengetahui potensi pencemaran yang bersumber dari peternakan.

Jangan salah, lingkungan sangat terkait dengan science dan teknologi. Bagaimana bisa menyebutkan sesuatu tercemar tanpa bukti senyatanya? Sampel harus diambil dan mengambilnya pun tak bisa sembarang orang, bagaimana memperlakukan sampel sehingga bisa dinyatakan valid? Teknologi, diperlukan untuk mengolah limbah, untuk memproses produksi sehingga efisien dalam menggunakan sumberdaya, energy dan air. Teknologi sederhana sampai yang rumit dapat diterapkan. Pemerintah tidak mempermasalahkan teknologi  pengolahan apa yang akan digunakan, yang penting bahwa limbah memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan. 

Rumit ah!....eemmmmaaannnnggg….

Belum lagi ketika terjadi peradilan, pemerintah sering dihadapkan pada pengacara kondang pihak tergugat. Seringnya vonis bebas, atau vonis ringan dan malah balik menggugat pemerintah…belum lagi demo dari berbagai elemen masyarakat yang katanya pemda, DLH gak becus mengatasi berbagai masalah lingkungan……… Capedeh!

Kemampuan SDM pemda di bidang lingkungan pun dituntut professional. Menghadapi permasalahan lingkungan yang semakin kompleks dan berat, perlu analisis tajam dan tepat dan ini bisa didapatkan dengan memberikan pendidikan secara rutin. Tentu saja pegawai teknis yang terkait permasalahan juga menjadi modal utama.

Lingkungan sering kali dihadapkan pada persoalan ekonomi. Katanya, lingkungan itu membatasi pembangunan, menghambat pendapatan daerah, yang menyebabkan daerah tidak bisa berkembang dan kesejahteraan masyarakat tak akan tercapai. Ini yang sering menjadi senjata. Membenturkan masalah lingkungan dengan urusan kesejahteraan.
Katanya, kalau masyarakat sudah sejahtera, maka akan lebih mudah menerapkan pembangunan yang berwawasan lingkungan…... Ah kamu, ngarang!

Liat sejarah Jepang, ketika perbaikan lingkungan dilakukan, ketika sedang gencar-gencarnya pembangunan. Petumbuhan industri, disertai terjadinya polusi di man-mana. Masyarakat lah yang kemudian mendesak pemerintah untuk melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Berbagai elemen masyarakat mengambil bagian dalam perbaikan lingkungan. Tak saling sikut, tak saling menjatuhkan, tetapi semua bekerja dengan kapasitasnya masing-masing. Perguruan Tinggi  membantu komplain masyarakat untuk pembuktian secara ilmiah  dengan data- data yang representative. Analisis didasari keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan dan  diterima secara hukum.

Industri pencemar, ditindak tegas dan harus membayar ganti rugi bagi masyarakat yang tekena dampak dan kewajiban memulihkan lingkungan sekitarnya. Pembiyaan sebagian kecil dari pemerintah dan sebagian besar dari industri-industri pencemar.
Semua memerankan dengan baik tugas dan fungsinya, tak tertinggal media massa. Memberikan informasi tepat dan akurat, berita membangun menuju perbaikan. Bukan saling menyalahkan tanpa memberikan solusi.

*catatandiridiakhir2018*

No comments:

Post a Comment