Dalam tulisan sebelumnya, http://efandora.blogspot.com/2018/09/revolusi-industri-abad-21.html,
dibahas bagaimana orientasi masyarakat terhadap
produk memaksa industri untuk menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan.
Selera pasar sedikit demi sedikit
akan mulai mengarah untuk kembali ke alam (back
to nature). Konsumen tipe ini tidak menuntut industri untuk menerapkan
konsep yang ramah lingkungan tetapi perilaku mereka yang mencoba mendorong industri
memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan. Green consumen tidak akan mengkonsumsi produk yang dianggap tidak
ramah lingkungan dan memiliki reputasi buruk terhadap lingkungan. Industri yang
tidak mengikuti konsumen ini, akan ditinggalkan dan merugi.
Jawa Barat sebagai provinsi termaju,
saat ini sangat direpotkan oleh berbagai permasalahan lingkungan termasuk
pencemaran dan kerusanakan lingkungan. Data menunjukan, sungai-sungai besar
seperti Citarum sebagain besar sudah tercemar berat. Padahal fungsi sungai Citarum
sangat strategis untuk berbagai aktivitas manusia, termasuk sumber energy hydro
dan sumber air baku tidak hanya wilayah Jawa Barat tetapi juga DKI Jakarta.
Upaya yang telah dilakukan pemerintah
pusat dan daerah, maupun oleh masyarakat seolah-olah tidak ada hasilnya.
Pencemaran masih terus berlanjut, sebagian industri masih membuang limbahnya begitu
saja. Degradasi lingkungan yang teradi jauh lebih cepat dari upaya yang telah
dilakukan. Limbah industri walau tak sebanyak limbah domestik, namun karena
kandungan kimianya menyebakan limbah industri perlu mendapat perhatian khusus. Kandungan berbagai bahan kimia pada limbah
akibat proses industri, berakibat buruk terhadap lingkungan jika tidak diolah
dengan benar sebelum dibuang ke lingkungan.
Berbagai upaya dilakukan untuk
meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Negara maju sudah meninggalkan industri
yang berproses secara linier. Salah satu upaya minimalisasi limbah adalah membangun
atau menjadikan kawasan industri yang ramah lingkungan, yaitu Eco Industrial Park atau EIP.
Berikut ini adalah contoh dua kawasan
industri berbeda, yang sudah menerapkan EIP dan diakui dunia sebagai kawasan
industri yang direkomensasikan. EIP Kalundborg terbentuk dari yang sudah ada,
sedangkan EIP Guitang merupakan kawasan industri baru, namun memiliki konsep
yang sama yaitu minimalisasi limbah bahkan zero waste.
1.
Eco Industrial Park di Kalundborg
Sebuah ekosistem industri yang
berkembang di Kalundorg, Denmark menjadi contoh paling favorite dari penerapan
konsep EIP. Kalundorg merupakan suatu kawasan industri yang berlokasi sekitar
75 mil bagian timur Kopenhagen. Simbiosis yang berkembang di mulai pada tahun
1970an sebagai suatu kemitraan industri yang mencoba untuk mengurangi biaya dan mencoba memenuhi bersama peraturan lingkungan yang berlaku pada saat itu,
seperti menemukan cara yang inovatif dalam manajemen limbah dan pengunaan air bersih yang efisien.
Industri yang terlibat dalam kawasan
Kalundborg adalah :
NO
|
Perusahaan
|
Diskripsi
|
1.
|
Anaes
Power System
|
berdiri
pada tahun 1959 merupakan pembangkit listrik terbesar di Denmark, memiliki
kapasitas 1500 Mwe. Perusahaan ini juga mengelola pertaniaan dan perikanan
|
2.
|
Kilang
minyak Statoil
|
Merupakan
salah satu kilang minyak terbesar di Denmark dengan kapasitas 4.8 juta ton/th
|
3.
|
Gyproc,
|
sebuah pabrik papan partikel
membuat 14 juta meter kubik papan partikel
|
4.
|
Nova
Nordick,
|
sebuah perusahaan bioteknologi
internasional dengan penjualan lebih dari $ 2M, penghasil produk-produk
farmasi (penghasil insulin 40% dari suplai insulin dunia).
|
5.
|
Kota
Kalundborgh
|
penyedia
pelayanan utama bagi penduduk kota yang berjumlah 20.000jiwa yang juga
menyuplai air bagi rumah tangga dan industri
|
6.
|
Petani
local,
|
Melibatkan petani-petani lokal yang
menghasilkan berbagai hasil panen
|
Lebih dari 2 dekade, kerjasama yang
bersifat spontan antar perusahaan di atas berkembang sebagai bilateral exchanges yang juga melibatkan
sejumlah perusahaan-perusahaan lain. Kerjasama timbul tanpa ada yang
merencanakan sebelumnya. Kerjasama ini berkembang sebagai sebuah Collection of on to one ideals yang
membentuk economic sense satu sama
lain.
Simbiosis
muncul ketika Gypoc didirikan di Kalundborg yang mencoba mengambil keuntungan
untuk memperolah bahan bakar gas dari Statoil.
1.
Aliran
energy.
-
Kilang
minyak menjual gas kepada Gyproc.
-
Asnes,
pada awalnya hanya menyuplai steam untuk kebutuhan system pemanas kota
(district heating system dan kemudian juga menyuplai kebutuhan Nova Nordisk dan
Statoil.
-
Stasiun
pembangkit menggunakan air garam yang diperoleh dari Fjord sebagai pendingin.
Hasil produk sampingnya yang berupa air garam panas disuplai untuk kebutuhan
perikanan sebanyak 57 kolam
-
Pembangki,
mulai mensubstitusikan bahan bakar
dengan menggunakan sulfur dari kilang gas sebagai pengganti batu bara. Hasil
gas yang dihasilkan lebih bersih dan cukup memenuhi persyaratan untuk digunakan
station pembangkit
2.
Aliran
Material
-
Lumpur
dari NN dan water treatmen dari perikanan digunakan sebagai pupuk bagi
pertanian setempat. Merupakan pertukaran material terbesar , mencapai lebih
dari 1 juta ton pertahun.
-
Industri
semen menggunakan desulfirized fly ash
dari Asnaes
-
Proses
operasi refeneridesulfurization
menghasilan surfit, untuk industri asam
sulfirik di Federica Yetland-Denmark
3.
Keuntungan
yang diperoleh.
Proses recycling dan reuse yang
dilakukan di Kalundborg ini telah memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan
yang terlibat. Selain lebih menghemat biaya, mereka juga telah mengurangi
polusi udara, air dan tanah
-
Terjadinya
pengurangan energy secara signifikan, yaitu batu bara, minyak, dan penggunaan
air
-
Dampak
negative lingkungan berkurang cukup signifikan melalui penggunaan emisi SO2
dan CO2 dan memperbaikai kualitas air buangan
-
Produksi
limbah-limbah tradisional seperti fly ash sulfur, lumpur biologis dan gympsum menjadi bahan baku untuk produksi
Dengan adanya simbiosis industri di Kalundborg
telah memberikan image positif tersendiri bagi kawasan tersebut sebagai sebuah kota
industri yang bersih dan menjadi contoh terbaik penerapan konsep ekologi
industri.
lanjut : Menciptakan Kawasan Industri Ramah Lingkungan di Jawa Barat di Tahun 2022 (bag.2)
No comments:
Post a Comment