Tuesday, September 4, 2018

Perjuangan Kaum Ibu, Menghantarkan Kota Kitakyushu menjadi Kota Pintar dan Cerdas


Langit yang biru cerah, pemandangan indah dengan suasana kota yang bersih adalah ciri Kota Kitakyusu. Tak tampak sebagai pusat berbagai industri berat termasuk pabrik baja dari Nippon Steel yang menjadi produsen baja terbesar di Jepang.

Sebelum tahun 1960an kota Kitakyusu yang berada di pulau Kyushu mengalami  masa-masa terburuk.  Polusi, debu dan gas-gas beracun terbang bebas ke alam, menimbulkan berbagai penyakit dan ketidaknyamanan bagi kehidupan warganya.

Hal menarik yang bisa dipelajari dari Kota Kitakyusu, bagaimana peran perempuan terutama para ibu yang sangat khawatir terhadap kesehatan dan masa depan anak-anaknya. Siapa sangka, berkat perjuangan yang diawali para ibu yang sebagian besar ibu rumah tangga, dapat menghantarkan Kota Kitakyusu menjadi Kota yang cerdas,sehat, nyaman dan  menjadi salah satu kota di dunia yang menerapkan pembangunan berkelanjutan.

BERAWAL DARI KEKHAWATIRAN PARA IBU
Setelah berakhirnya peran dunia kedua dan terjadinya perang Korea berdampak terhadap membaiknya perekonomian Jepang,  memacu pembangunan dan pengembangan industri-industri di Jepang. Salah satunya kota Kitakyusu tumbuh menjadi kota industri berat seperti industri baja. Untuk memenuhi kebutuhan energinya, banyak dibangun pembangkit listrik bersumber batu bara. 

Konsekuensi dari aktivitas industri yang tinggi menyebabkan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan yang hebat. Langit berwarna warni dengan debu tebal yang sering kali menghalangi pemandangan, bau busuk yang menyengat, air sungai dan laut berwarna pekat menjadi pemandangan masyarakat dalam kesehariannya. Masyarakat tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat pencemaran tersebut. Masyarakat berfikir, bahwa semua itu adalah hal yang lumrah, apa yang terjadi di lingkungannya menandakan negara sedang 'membangun' sebagai aktivitas pembangunan.
Pencemaran terus berlangsung sehingga dampak yang terjadi semakin nampak jelas. Asap yang dikeluarkan dari ratusan pabrik di bagian barat Jepang, menempel pada pakain-pakaian yang mereka cuci, menjadi kotor kembali. Penyakit pernafasan akibat udara kotor menjadi sesuatu yang lumrah. Tingginya pencemaran di sungai dan laut menyebabkan sumber makanan tercemar termasuk ikan-ikan yang menjadi makanan pokok orang-orang Jepang. Semakin banyak anak-anak yang sakit menyebakan biaya kesehatan membengkak yang pada akhirnya mempengaruhi keuangan keluarga.


KOLABORASI MASYARAKAT, PEMERINTAH DAN INDUSTRI
Kesamaan permasalahan yang dialami akibat dampak negatif pencemaran, mendorong para ibu rumah tangga untuk  membentuk asosiasi-asosiasi wanita. Uniknya, para ibu yang tergerak berasal dari keluarga yang bekerja di pabrik-pabrik pencemar baik sebagai pegawai biasa maupun sebagai eksekutif. Salah satunya adalah Yoichi Kaminaga, seorang ibu yang bekerja di pabrik batu bata. Hal ini mengakibatkan ‘ketidaknyamanan’ untuk melakukan perlawanan terhadap pabrik-pabrik yang memberikan penghasilan bagi keluarga mereka. 

Sebagai solusinya, para ibu tidak melakukan demonstrasi  dengan turun ke jalan. Cara yang mereka lakukan sangat ‘elegan’. Pembuktian secara ilmiah menjadi pilihan untuk meyakinkan dampak pencemaran yang terjadi. Para ibu mulai mengumpulkan bukti secara hati-hati, dengan bantuan profesor/para pengajar/peneliti dari lembaga pendidikan yang simpati terhadap gerakan kaum ibu.  Para ibu yang dibantu oleh pendidik dan peneliti, menghabiskan beberapa bulan untuk menghitung seberapa besar polusi yang terjadi. Mereka melakukan eksperimen sederhana seperti mengukur seberapa banyak debu yang menempel pada pakaian yang dijemur, mencatat berapa kali anak-anak tidak masuk sekolah karena gangguan pernafasan. Meneliti ikan yang dimasukkan ke dalam wadah berisi air yang diambil dari Teluk Dokai di sekitar Industri Kitakyushu. Teluk Dokai dikenal dengan Sea of Death karena ikan-ikan mati dan tidak bisa berkembang akibat tingginya pencemaran dari buangan limbah cair pabrik-pabrik di sekitarnya.
  
Dengan perjuangan yang keras, asosiasi para ibu yang dipimpin oleh seorang guru bernama Akiko Mori menyampaikan hasil penelitian mereka dengan mengajukan petisi kepada pejabat kota dan eksekutif industri untuk segera menuntut tindakan. Beberapa manager pabrik menolak gerakan tersebut dan menyatakan bahwa warga harus dapat bertahan ditingkat polusi tertentu. Namun para ibu lebih tahu dan mereka membentuk opini publik. Pada tahun 1960an, mereka menyadarkan masyakat bahwa lingkungan merupakan kepentingan semua orang dan semua harus melakukan sesuatu. Hal ini semakin kuat karena didukung oleh data-data ilmiah hasil penelitian mereka dengan bimbingan dari para peneliti/pengajar di perguruan tinggi. 

Bertepatan dengan masa pemilu, para ibu membawa masalah lingkungan ke ranah politik sehingga isu lingkungan menjadi isu utama yang mendapatkan respon dengan cepat. Akhirnya pada tahun 1967 pemerintah pusat mengeluarkan undang-undang pencemaran pertama kemudian diikuti dengan penetapan peraturan yang lebih ketat untuk Kota Kitakyushu. Pemerintah bersama para pengusaha memperbaharui pabrik dengan membangun lebih dari 1.000 pembersih udara antara tahun 1967 dan 1978. Penggunaan bahan bakar rendah sulfur di awal tahun 1970an sehingga secara drastis mengurangi emisi sulfur dioksida penyebab kabut asap (SO2). Pada tahun 1971 mengharuskan perusahaan segera memangkas emisi SO2 sebanyak 20-40% pada hari-hari ketika kondisi cuaca memproses zat asam lebih banyak. Dimulai tahun 1972, sebanyak 350.000 m3 tanah yang tercemar merkuri dikeruk dari dasar Dokai Bay. Pengerukan ini dengan biaya dari industri sekitar 70%  dan sisanya dari pemerintah.  Meskipun tidak banyak kota-kota di jepang melakukan hal yang sama dengan Kitakyushu, namun di Kota Kitakyusu saja terjadi pengurangan debu sekitar 75%  selama tahun 1970-1975, sungguh hasil yang sangat fantastis!

PERKEMBANGAN KEBIJAKAN LINGKUNGAN KOTA KITAKYUSHU
Kota Kitakyushu tidak berhenti sampai disitu, perjuangan yang diawali oleh para ibu terus berlanjut. Kebijakan pembangunan kota terus melakukan pengembangan menjadi kota hijau dan pintar, dengan tingkat pelepasan karbon yang rendah untuk seluruh aktivitas kota
Empat fase kebijakan yang diterapkan oleh Kota Kitakyushu dalam penerapan pembangunan berwawasan lingkungan tergambarkan pada bagan di bawah ini.
 
Pembangunan berwawasan lingkungan diaplikasikan dalam kebijakan yang lebih teknis di berbagai sektor. Untuk mengatasi limbah pabrik dan rumah tangga, setiap pabrik memiliki proses pengolahan limbah sendiri sebelum dibuang ke sungai atau laut. Demikian pula dengan limbah rumah tangga, dikumpulkan dalam satu fasilitas pengolahan limbah yang dikelola swasta sehingga effluen yang dibuang memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan.
Pada awalnya, sumber energi yang digunakan adalah Batu bara  kemudian berubah menjadi sumber energi LNG (untuk pembangkit listrik), yang dulunya 100% dipasok dari Indonesia dan sumber energi dari solar panel. Penerpakan efisiensi energi menjadi fokus utama industri sehingga pada saat ini Jepang merupakan negara dengan pengguna energi yang paling efisien termasuk kota Kitakyushu.
Penggunaan energi terbarukan diaplikasikan pula pada bangunan-bangunan kantor, seperti


PEMBELAJARAN BAGI JAWA BARAT
Jika melihat tahapan yang dilakukan oleh kota Kitakyusu, masalah yang diselesaikan pertama adalah kasus pencemaran dan kerusakan yang terjadi. Pemerintah dan industri bersama-sama melakukan treatment terhadap lingkungan yang tercemar dengan pembiayaan terbesar dari industri (70% industri dan 30% pemerintah). Bersamaan dengan itu, menyusun dan menetapkan pranata dengan terus melakukan penurunan pencemaran melalui perbaikan proses produksi termasuk mengganti sumber energi dengan menggunakan energi ramah lingkungan, penerapan peralatan pengolahan limbah dan penggunaan energi yang efisien.

Beruntung, Indonesia termasuk Jawa Barat tidak mengalami kondisi pencemaran lingkungan yang hebat dan massif seperti Kota Kitakyushu. Namun potensi ini tetap ada jika cara-cara  dan perlakuan kita terhadap lingkungan masih seperti saat ini. Jawa Barat perlu segera merancang dan menerapkan kebijakan terobosan, melibatkan semua pihak termasuk masyarakat, industri lembaga pendidikan dan stakeholders pembangunan lainnya. 

Penyadaran lingkungan dan pembuktian lingkungan dilakukan dengan cara-cara ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, peran perguruan tinggi dan lembaga pendidikan/penelitian lainnya sangat besar. Permasalahan lingkungan serta aturan lingkungan perlu mendapatkan support dari  lembaga-lembaga ilmiah. 

Pemerintah daerah dalam hal ini kabupaten/kota memegang peran penting dalam menegakkan hukum dan melaksanakan hukum lingkungannya. Untuk itu, menyusun dan menetapkan produk hukum yang mengatur buangan/pencemaran yang dihasilkan oleh industri/pabrik sangat penting. Pemerintah pusat dan provinsi mendukung kabupaten/kota dengan mempersiapkan sarana/prasarana termasuk tenaga ahli dalam menyiapkan pranata hukum dan aturan-aturan terkait lingkungan.

Industri merupakan pemeran utama dalam pengendalian pencemaran. Saat ini, apapun alasannya, banyak sekali industri yang berkelit bahwa perbaikan lingkungan akan membutuhkan biaya besar sehingga menjadi persoalan klasik yang menyebabkan permasalahan lingkungan sulit untuk diselesaikan. Tentu saja harus ada niat baik dari industri sebagi rasa tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat.

Yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran lingkungan harus dibangun bersama baik di lingkungan pemerintahan dan lembaga legislatif, masyarakat juga industri. Menjadikan masyarakat yang peka teradap lingkungan merupakan hal yang penting. Proses ini tentunya akan memerlukan waktu lama dan perlu dilaksanakan terus menerus dan dapat dibuktikan masyarakat kota Kitakyushu,  berkat keberhasilan penduduknya dapat menyelamatkan kota yang pada awalnya kota tercemar di dunia.

Kita yakin, bahwa pada dasarnya semua menginginkan lingkungan yang baik, lingkungan yang sehat. Kerjasama dan tidak adanya ‘kepentingan pribadi’ adalah kunci utama dalam memperbaiki lingkungan, Transformasi Kota Kitakyushu membuktikan bahwa penerapan pembangunan berwawasan lingkungan MENINGKATKAN perekonomian negara dan mewujudkan masyarakatnya yang sejahtera bukan sebaliknya. Semoga......

*dari berbagai sumber, ditulis tahun 2013




No comments:

Post a Comment