Langit yang
biru cerah, pemandangan indah dengan suasana kota yang bersih adalah ciri Kota
Kitakyusu. Tak tampak sebagai pusat
berbagai industri berat termasuk pabrik baja dari Nippon Steel yang menjadi produsen
baja terbesar di Jepang.
Sebelum
tahun 1960an kota Kitakyusu yang berada di pulau Kyushu mengalami masa-masa terburuk. Polusi, debu dan gas-gas beracun terbang bebas
ke alam, menimbulkan berbagai
penyakit dan ketidaknyamanan bagi kehidupan warganya.
Hal menarik
yang bisa dipelajari dari Kota Kitakyusu, bagaimana peran perempuan terutama para ibu yang sangat khawatir terhadap
kesehatan dan masa depan anak-anaknya. Siapa sangka, berkat perjuangan
yang diawali para ibu yang sebagian besar ibu rumah tangga, dapat menghantarkan
Kota Kitakyusu menjadi Kota yang cerdas,sehat, nyaman dan menjadi salah satu kota di dunia yang
menerapkan pembangunan berkelanjutan.
BERAWAL DARI KEKHAWATIRAN PARA IBU
Setelah
berakhirnya peran dunia kedua dan terjadinya perang Korea berdampak terhadap membaiknya perekonomian Jepang, memacu pembangunan dan pengembangan industri-industri di Jepang. Salah satunya kota
Kitakyusu tumbuh menjadi kota industri berat seperti industri baja. Untuk memenuhi
kebutuhan energinya, banyak dibangun pembangkit
listrik bersumber batu bara.
Konsekuensi
dari aktivitas industri yang tinggi menyebabkan terjadinya pencemaran dan
kerusakan lingkungan yang hebat. Langit berwarna warni dengan debu tebal yang
sering kali menghalangi pemandangan, bau busuk yang menyengat, air sungai dan
laut berwarna pekat menjadi pemandangan masyarakat dalam kesehariannya. Masyarakat
tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat pencemaran tersebut. Masyarakat
berfikir, bahwa semua itu adalah hal yang lumrah, apa yang terjadi di
lingkungannya menandakan negara sedang 'membangun' sebagai aktivitas
pembangunan.
Pencemaran
terus berlangsung sehingga dampak yang terjadi semakin nampak jelas. Asap yang
dikeluarkan dari ratusan pabrik di bagian barat Jepang, menempel pada
pakain-pakaian yang mereka cuci, menjadi kotor kembali. Penyakit
pernafasan akibat udara kotor menjadi sesuatu yang lumrah. Tingginya pencemaran
di sungai dan laut menyebabkan sumber makanan tercemar termasuk ikan-ikan yang
menjadi makanan pokok orang-orang Jepang. Semakin banyak anak-anak yang sakit menyebakan biaya kesehatan membengkak yang pada akhirnya mempengaruhi keuangan
keluarga.
KOLABORASI MASYARAKAT, PEMERINTAH DAN
INDUSTRI
Kesamaan
permasalahan yang dialami akibat dampak negatif pencemaran, mendorong para ibu
rumah tangga untuk membentuk
asosiasi-asosiasi wanita. Uniknya, para ibu yang tergerak berasal dari keluarga
yang bekerja di pabrik-pabrik pencemar baik sebagai pegawai biasa maupun
sebagai eksekutif. Salah satunya adalah Yoichi Kaminaga, seorang ibu yang
bekerja di pabrik batu bata. Hal ini mengakibatkan ‘ketidaknyamanan’ untuk melakukan
perlawanan terhadap pabrik-pabrik yang memberikan penghasilan bagi keluarga
mereka.
Dengan perjuangan yang keras, asosiasi para ibu yang
dipimpin oleh seorang guru bernama Akiko Mori menyampaikan hasil penelitian
mereka dengan mengajukan petisi kepada pejabat kota dan eksekutif industri
untuk segera menuntut tindakan. Beberapa manager pabrik menolak gerakan
tersebut dan menyatakan bahwa warga harus dapat bertahan ditingkat polusi
tertentu. Namun para ibu lebih tahu dan mereka membentuk opini publik. Pada
tahun 1960an, mereka menyadarkan masyakat bahwa lingkungan merupakan
kepentingan semua orang dan semua harus melakukan sesuatu. Hal ini semakin kuat
karena didukung oleh data-data ilmiah hasil penelitian mereka dengan bimbingan
dari para peneliti/pengajar di perguruan tinggi.
Bertepatan
dengan masa pemilu, para ibu membawa masalah lingkungan ke ranah politik
sehingga isu lingkungan menjadi isu utama yang mendapatkan respon dengan cepat.
Akhirnya pada tahun 1967 pemerintah pusat mengeluarkan undang-undang pencemaran pertama kemudian diikuti dengan penetapan peraturan
yang lebih ketat untuk Kota Kitakyushu. Pemerintah
bersama para pengusaha memperbaharui pabrik dengan membangun lebih
dari 1.000 pembersih udara antara
tahun 1967 dan 1978. Penggunaan bahan bakar rendah
sulfur di awal tahun 1970an sehingga secara drastis mengurangi
emisi sulfur dioksida penyebab
kabut asap (SO2). Pada
tahun 1971 mengharuskan perusahaan segera
memangkas emisi SO2 sebanyak
20-40% pada hari-hari ketika kondisi cuaca memproses
zat asam lebih banyak. Dimulai tahun 1972, sebanyak
350.000 m3 tanah
yang tercemar merkuri dikeruk dari dasar
Dokai Bay. Pengerukan ini dengan
biaya dari industri sekitar 70% dan sisanya dari pemerintah. Meskipun tidak banyak kota-kota di jepang
melakukan hal yang sama dengan Kitakyushu, namun di Kota Kitakyusu saja terjadi
pengurangan debu sekitar 75% selama
tahun 1970-1975, sungguh hasil yang sangat fantastis!
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN LINGKUNGAN KOTA
KITAKYUSHU
Kota
Kitakyushu tidak berhenti sampai disitu, perjuangan yang diawali oleh para ibu
terus berlanjut. Kebijakan pembangunan kota terus melakukan
pengembangan menjadi kota hijau dan pintar, dengan tingkat pelepasan karbon
yang rendah untuk seluruh aktivitas kota
Empat
fase kebijakan yang diterapkan oleh Kota Kitakyushu dalam penerapan pembangunan
berwawasan lingkungan tergambarkan pada bagan di bawah ini.
Pembangunan
berwawasan lingkungan diaplikasikan dalam kebijakan yang lebih teknis di
berbagai sektor. Untuk mengatasi limbah pabrik dan rumah tangga, setiap
pabrik memiliki proses pengolahan limbah sendiri sebelum dibuang ke sungai atau
laut. Demikian pula dengan limbah rumah tangga, dikumpulkan dalam satu
fasilitas pengolahan limbah yang dikelola swasta sehingga effluen yang dibuang
memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan.
Pada
awalnya, sumber energi yang digunakan adalah Batu bara kemudian berubah menjadi sumber energi LNG
(untuk pembangkit listrik), yang dulunya 100% dipasok dari Indonesia dan sumber
energi dari solar panel. Penerpakan efisiensi energi menjadi fokus utama
industri sehingga pada saat ini Jepang merupakan negara dengan pengguna energi
yang paling efisien termasuk kota Kitakyushu.
Penggunaan
energi terbarukan diaplikasikan pula pada bangunan-bangunan kantor, seperti
PEMBELAJARAN
BAGI JAWA BARAT
Jika melihat tahapan yang dilakukan oleh
kota Kitakyusu, masalah yang diselesaikan pertama adalah kasus pencemaran dan
kerusakan yang terjadi. Pemerintah dan industri bersama-sama melakukan treatment terhadap lingkungan yang
tercemar dengan pembiayaan terbesar dari industri (70% industri dan 30%
pemerintah). Bersamaan dengan itu, menyusun dan menetapkan pranata dengan terus
melakukan penurunan pencemaran melalui perbaikan proses produksi termasuk
mengganti sumber energi dengan menggunakan energi ramah lingkungan, penerapan peralatan
pengolahan limbah dan penggunaan energi yang efisien.
Beruntung, Indonesia termasuk Jawa Barat tidak mengalami
kondisi pencemaran lingkungan yang hebat dan massif seperti Kota Kitakyushu.
Namun potensi ini tetap ada jika cara-cara dan perlakuan kita terhadap lingkungan masih
seperti saat ini. Jawa Barat perlu segera merancang dan menerapkan kebijakan
terobosan, melibatkan semua pihak termasuk masyarakat, industri lembaga
pendidikan dan stakeholders pembangunan lainnya.
Penyadaran lingkungan dan pembuktian lingkungan dilakukan
dengan cara-cara ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, peran
perguruan tinggi dan lembaga pendidikan/penelitian lainnya sangat besar.
Permasalahan lingkungan serta aturan lingkungan perlu mendapatkan support
dari lembaga-lembaga ilmiah.
Pemerintah
daerah dalam hal ini kabupaten/kota memegang peran penting dalam menegakkan
hukum dan melaksanakan hukum lingkungannya. Untuk itu, menyusun dan menetapkan produk
hukum yang mengatur buangan/pencemaran yang dihasilkan oleh industri/pabrik
sangat penting. Pemerintah pusat dan provinsi mendukung kabupaten/kota dengan
mempersiapkan sarana/prasarana termasuk tenaga ahli dalam menyiapkan pranata
hukum dan aturan-aturan terkait lingkungan.
Industri
merupakan pemeran utama dalam pengendalian pencemaran. Saat ini, apapun
alasannya, banyak sekali industri yang berkelit bahwa perbaikan lingkungan akan
membutuhkan biaya besar sehingga menjadi persoalan klasik yang menyebabkan
permasalahan lingkungan sulit untuk diselesaikan. Tentu saja harus ada niat
baik dari industri sebagi rasa tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat.
Yang tidak kalah
pentingnya adalah kesadaran lingkungan harus dibangun bersama baik di
lingkungan pemerintahan dan lembaga legislatif, masyarakat juga industri. Menjadikan
masyarakat yang peka teradap lingkungan merupakan hal yang penting. Proses ini
tentunya akan memerlukan waktu lama dan perlu dilaksanakan terus menerus dan
dapat dibuktikan masyarakat kota Kitakyushu,
berkat keberhasilan penduduknya dapat menyelamatkan kota yang pada
awalnya kota tercemar di dunia.
Kita yakin, bahwa pada dasarnya semua menginginkan
lingkungan yang baik, lingkungan yang sehat. Kerjasama dan tidak adanya
‘kepentingan pribadi’ adalah kunci utama dalam memperbaiki lingkungan,
Transformasi Kota Kitakyushu membuktikan bahwa penerapan pembangunan berwawasan
lingkungan MENINGKATKAN perekonomian negara dan mewujudkan masyarakatnya yang
sejahtera bukan sebaliknya. Semoga......
No comments:
Post a Comment