Friday, September 14, 2018

REVOLUSI INDUSTRI ABAD 21


Pembangunan tidak lepas dari industri, baik industri manufaktur, agroindustry, dan industri-industri lainnya. Sektor industri menjadi primadona dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau negara. Data menunjukkan bahwa pendapatan dari sektor industri termasuk  yang tinggi. Disamping itu,  industri menjadi andalan menurunkan angka pengangguran. Beberapa industri padat karya seperti tekstil, dapat menyerap banyak tenaga kerja.  Karena itu, banyak negara menjadikan industri sebagai prioritas kegiatan ekonominya.
Disisi lain, industri juga memberikan dampak negative terhadap lingkungan jika dalam prosesnya tidak menerapkan prinsip-prinsip lingkungan. Banyak ditemukan industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan bahkan tidak mengolah limbahnya sama sekali. 
Pembangunan industri tidak bisa lagi dilakukan seperti sekarang, konvensional dan apa adanya. Pembangunan industri perlu pemikiran yang menyeluruh, sejak dari mana bahan baku didapatkan sampai barang tersebut tidak digunakan kembali.
Pada awalnya, isu lingkungan dianggap akan hanya memperberat persaingan dunia usaha. Menurut Porter (1991) pandangan yang mengganggap bahwa  ada konflik antara proteksi lingkungan dengan persaingan di sektor ekonomi adalah salah, pandangan ini hanya didasarkan pada persiangan yang statis.
Di negara-negara dengan aturan yang keras, mendorong munculnya inovasi-inovasi baru, menciptakan produk-produk yang minimalis limbah dan efisen dalam penggunaan sumberdaya. Tentu saja memberikan dampak positif bagi efisiensi biaya perusahaan dan membuat lebih kuat dalam menghadapi persaingan internasional.

REVOLUSI ABAD 21
Revolusi industri yang terjadi pada abad 19 telah menumpahkan segala limbahnya ke dalam lingkungan. Selama revolusi industri tersebut, sumberdaya dilihat sebagai suatu hal yang tidak akan pernah habisnya dan alam dipandang sebagai sesuatu yang mudah untuk dijinakkan. Pada masanya, semua negara maju mengeksploitasi sumberdaya alam secara maksimal. Dampaknya, pencemaran dan kerusakan lingkungan terus meningkat dan menimbulkan berbagai bencana.
Kesadaran akan lingkungan di masyarakat, dianggap sebagai revolusi industri baru. Pelaku ekonomi harus memperhatikan lingkungan, jika tidak maka produknya akan ditinggalkan dan tidak diminati. Seiring kuatnya dorongan kearah yang lebih ramah lingkungan, industri akan mencari cara-cara baru untuk mencapai efisiensi, inovasi akan terus berkembang.
Selera pasar sedikit demi sedikit akan mulai mengarah untuk kembali ke alam (back to nature). Konsumen mulai mencari kualitas hidup dengan menerapkan konsep green consumer.
Konsumen tipe ini tidak menuntut perusahaan untuk menerapkan konsep yang ramah lingkungan tetapi perilaku mereka yang mencoba mendorong perusahaan-perusahaan memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan. Misalnya mereka tidak akan mengkonsumsi produk yang dianggap tidak ramah lingkungan dan memiliki reputasi buruk terhadap lingkungan. Mereka inilah yang akan berpengaruh terhadap ’gaya’ perusahaan.
Industri yang memicu pengrusakan hutan dan sektor-sektor lain yang dapat memusnahkan keberagaman hayati akan mendapat tekanan dari para pencinta lingkungan. Misalnya pada industri kayu. Beberapa negara sepakat untuk industry model ini harus memiliki standar tertentu yang dianggap lebih ramah lingkungan misalnya dengan upaya pemberian label ramah lingkungan. Contoh lainnya adalah industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan baku mutu bahkan tidak mengolah limbahnya dan langsung dibuang ke lingkungan akan di black list sehingga tidak laku dipasaran.

Mencontoh Sistem Alam
Sejak sekolah dasar, kita sudah belajar tentang ekosistem. Secara sederhana, ekosistem menunjukan alam adalah sistem tertutup/siklus. Dalam ekositem sederhana,  semua saling terkait dan saling mempengaruhi. Mahkhluk hidup tumbuh, berkembang dan berproduksi pada akhirnya akan mati dan lenyap di telan bakteri pengurai.


TUMBUHAN
Hewan pemakan daging/karnivora
Hewan pemakan tumbuhan/herbivora
    Siklus tertutup yang dimiliki alam, menjaga  keseimbangan alam semesta.

Sitem industri, merupan sistem linier. Bahan baku diproses menghasilkan produk sampingan, produk dan limbah. Limbahlah yang kemudian sering menjadi masalah , karena tidak diolah atau pengolahannya belum memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

Menurut Philip Kristanto, ada tiga tipe industri berdasarkan proses dan produk yang dihasilkan.
Tipe I: Sistem Linier,  Pada tipe ini energi dan material masuk ke dalam sistem kemudian menghasilkan produk, produk samping dan limbah. Karena tidak ada daur ulang yang dilakukan maka industri seperti ini akan membutuhkan energi dan sumberdaya yang lebih banyak.
Tipe 1 ini banyak terdapat di negara berkembang termasuk di Indonesia. Dari pengamatan di lapangan, terdapat banyak di Jawa Barat. Industri dengan tipe 1 dianggap boros bahan baku, energi dan biaya. Negara-negara maju sudah banyak meninggalkan industri tipe 1.

Tipe II: Sistem yang dilakukan untuk  industri yang sudah menerapkan kaidah-kaidah lingkungan. Proses menghasilkan produk, produk sampingan dan limbah. Sebagian limbah di daur ulang untuk digunakan kembali dan sebagian dibuang ke lingkungan.
Di Jawa Barat, biasanya industri besar atau sudah memiliki standar internasional. Tipe 2 lebih baik dibandingkan tipe 1. Penggunaan bahan baku lebih efisien karena ada daur ulang. Namun masih dihasilkan limbah sehingga butuh pengolahan sebelum dibuang ke alam.
                       
Tipe III. Merupakan sisem produksi dengan kesetimbangan dinamik, dimana energi dan limbahnya di daur ulang dengan baik dan digunakan sebagai bahan baku oleh kompenen sistem industri lain. Sistem Ini merupakan sistem industri yang tertutup secara total dan energy yang digunakan adalah energi terbarukan.. Sistem merupakan sistem ideal yang menjadi tujuan ekologi indsutri.
Tipe 3 sudah banyak dikembangkan terutama Negara maju dan beberapa negara berkembang, bahwa aktivitas industri merupakan siklus tertutup, seperti alam yang memiliki siklus tertutup,  minimalisasi limbah yang dihasilkan sampai tidak adanya limbah yang dihasilkan atau zero waste merupakan tujuan dari sistem ini.
Tipe 3 yang kemudian dikenal sebagai ekologi Industri. Biasanya dibangun dalam satu kawasan karena keterkaitan antara satu industri dengan industri lainnya sehingga disebut  Eco Industrial Park.

Eco Indsutrial Park
Alam adalah suatu siklus sedangkan sistem industri adalah linier. Untuk itu, pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan akan membutuhkan satu siklus yang meniru porses ekosistem. Untuk mencapai pola siklus dibutuhkan rancangan ulang yang mendasar dari bisnis dan ekonomi, mengubah pola linier menjadi pola siklus. Siklus yang sempurna, menggambarkan keseimbangan yang dinamis dalam suatu sistem ekologi, dimana energi dan sampah telah didaur ulang dan digunakan kembali oleh organisasi lain dan diproses sehingga mendekati zero waste. Sistem ini dipandang sebagai sistem yang memilki integritas yang tinggi sebagai sebuah siklus tertutup.
Pada prinsipnya EIP adalah upaya membangun suatu kawasan industri yang berwawasan lingkungan,  mampu mendorong dan merangsang para pelaku yang terlibat di dalamnya untuk terus berinovasi.  Bila dicermati lebih dalam, maka arahnya membuat suatu sistem industri yang lebih efisien. Hal ini dapat dicapai, misalnya melalui penggunaan material dan energi yang lebih efisien, menggunakan peralatan yang efisien dan juga efisiensi pada perencanaan desain industrinya.
Namun hal yang paling mendasar adalah  harus memiliki keuntungan dari sudut pandang ekonomi.  Suatu kawasan industri yang berwawasan lingkungan tidak pernah bisa berhasil dengan baik apabila sistem yang dikembangkan tidak menguntungkan secara ekonomi, dengan kata lain tidak memiliki keunggulan bersaing.
Hal yang mendasar dalam menyusun EIP  bagaimana membangun kawasan industri yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk yang memiliki keuntungan bersaing di pasaran.  Salah satu konsep yang dikembangkan adalah waste to raw material linkage, adanya interaksi pertukaran informasi dan inovasi baru cara-cara pengolahan limbah dan pemanfaatan infrastruktur bersama antara para pelaku.

No comments:

Post a Comment