Pembangunan tidak lepas dari industri, baik industri
manufaktur, agroindustry, dan industri-industri lainnya. Sektor industri
menjadi primadona dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau negara. Data
menunjukkan bahwa pendapatan dari sektor industri termasuk yang tinggi. Disamping itu, industri menjadi andalan menurunkan angka
pengangguran. Beberapa industri padat karya seperti tekstil, dapat menyerap
banyak tenaga kerja. Karena itu, banyak
negara menjadikan industri sebagai prioritas kegiatan ekonominya.
Disisi lain, industri juga memberikan dampak negative
terhadap lingkungan jika dalam prosesnya tidak menerapkan prinsip-prinsip
lingkungan. Banyak ditemukan industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan
baku mutu yang ditetapkan bahkan tidak mengolah limbahnya sama sekali.
Pembangunan industri tidak bisa lagi dilakukan seperti
sekarang, konvensional dan apa adanya. Pembangunan industri perlu pemikiran
yang menyeluruh, sejak dari mana bahan baku didapatkan sampai barang tersebut
tidak digunakan kembali.
Pada awalnya, isu lingkungan dianggap akan hanya memperberat
persaingan dunia usaha. Menurut Porter (1991) pandangan yang mengganggap
bahwa ada konflik antara proteksi
lingkungan dengan persaingan di sektor ekonomi adalah salah, pandangan ini
hanya didasarkan pada persiangan yang statis.
Di negara-negara dengan aturan yang keras, mendorong
munculnya inovasi-inovasi baru, menciptakan produk-produk yang minimalis limbah
dan efisen dalam penggunaan sumberdaya. Tentu saja memberikan dampak positif
bagi efisiensi biaya perusahaan dan membuat lebih kuat dalam menghadapi
persaingan internasional.
REVOLUSI ABAD 21
Revolusi industri yang terjadi pada abad 19 telah
menumpahkan segala limbahnya ke dalam lingkungan. Selama revolusi industri
tersebut, sumberdaya dilihat sebagai suatu hal yang tidak akan pernah habisnya
dan alam dipandang sebagai sesuatu yang mudah untuk dijinakkan. Pada masanya,
semua negara maju mengeksploitasi sumberdaya alam secara maksimal. Dampaknya,
pencemaran dan kerusakan lingkungan terus meningkat dan menimbulkan berbagai
bencana.
Kesadaran akan lingkungan di masyarakat, dianggap sebagai
revolusi industri baru. Pelaku
ekonomi harus memperhatikan lingkungan, jika tidak maka produknya akan
ditinggalkan dan tidak diminati. Seiring kuatnya dorongan kearah yang lebih
ramah lingkungan, industri akan mencari cara-cara baru untuk mencapai efisiensi,
inovasi akan terus berkembang.
Selera pasar sedikit demi sedikit akan mulai mengarah
untuk kembali ke alam (back to nature).
Konsumen mulai mencari kualitas hidup dengan menerapkan konsep green consumer.
Konsumen tipe ini tidak menuntut perusahaan untuk
menerapkan konsep yang ramah lingkungan tetapi perilaku mereka yang mencoba
mendorong perusahaan-perusahaan memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan.
Misalnya mereka tidak akan mengkonsumsi produk yang dianggap tidak ramah
lingkungan dan memiliki reputasi buruk terhadap lingkungan. Mereka inilah yang
akan berpengaruh terhadap ’gaya’ perusahaan.
Industri yang memicu pengrusakan hutan dan sektor-sektor
lain yang dapat memusnahkan keberagaman hayati akan mendapat tekanan dari para
pencinta lingkungan. Misalnya pada industri kayu. Beberapa negara sepakat untuk
industry model ini harus memiliki standar tertentu yang dianggap lebih ramah
lingkungan misalnya dengan upaya pemberian label ramah lingkungan. Contoh
lainnya adalah industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan baku mutu bahkan
tidak mengolah limbahnya dan langsung dibuang ke lingkungan akan di black list sehingga tidak laku
dipasaran.
Mencontoh Sistem Alam
Sejak sekolah dasar, kita sudah belajar tentang
ekosistem. Secara sederhana, ekosistem menunjukan alam adalah sistem tertutup/siklus.
Dalam ekositem sederhana, semua saling
terkait dan saling mempengaruhi. Mahkhluk hidup tumbuh, berkembang dan
berproduksi pada akhirnya akan mati dan lenyap di telan bakteri pengurai.
TUMBUHAN
|
Hewan pemakan
daging/karnivora
|
Hewan pemakan
tumbuhan/herbivora
|
Sitem industri, merupan sistem linier. Bahan baku diproses
menghasilkan produk sampingan, produk dan limbah. Limbahlah yang kemudian sering
menjadi masalah , karena tidak diolah atau pengolahannya belum memenuhi baku
mutu yang ditetapkan.
Menurut Philip Kristanto, ada tiga tipe industri berdasarkan proses dan
produk yang dihasilkan.
Tipe I: Sistem Linier,
Pada tipe ini energi dan material masuk ke dalam sistem kemudian
menghasilkan produk, produk samping dan limbah. Karena tidak ada daur ulang
yang dilakukan maka industri seperti ini akan membutuhkan energi dan sumberdaya
yang lebih banyak.
Tipe 1 ini banyak terdapat di negara berkembang termasuk
di Indonesia. Dari pengamatan di lapangan, terdapat banyak di Jawa Barat. Industri
dengan tipe 1 dianggap boros bahan baku, energi dan biaya. Negara-negara maju
sudah banyak meninggalkan industri tipe 1.
Tipe II: Sistem yang dilakukan untuk industri yang sudah menerapkan kaidah-kaidah
lingkungan. Proses menghasilkan produk, produk sampingan dan limbah. Sebagian
limbah di daur ulang untuk digunakan kembali dan sebagian dibuang ke
lingkungan.
Di Jawa Barat, biasanya industri besar atau sudah
memiliki standar internasional. Tipe 2 lebih baik dibandingkan tipe 1.
Penggunaan bahan baku lebih efisien karena ada daur ulang. Namun masih
dihasilkan limbah sehingga butuh pengolahan sebelum dibuang ke alam.
Tipe III. Merupakan sisem produksi dengan kesetimbangan
dinamik, dimana energi dan limbahnya di daur ulang dengan baik dan digunakan
sebagai bahan baku oleh kompenen sistem industri lain. Sistem Ini merupakan
sistem industri yang tertutup secara total dan energy yang digunakan adalah energi
terbarukan.. Sistem merupakan sistem ideal yang menjadi tujuan ekologi
indsutri.
Tipe 3 sudah banyak dikembangkan terutama Negara maju dan
beberapa negara berkembang, bahwa aktivitas industri merupakan siklus tertutup,
seperti alam yang memiliki siklus tertutup, minimalisasi limbah yang dihasilkan sampai
tidak adanya limbah yang dihasilkan atau zero waste merupakan tujuan dari
sistem ini.
Tipe 3 yang kemudian dikenal sebagai ekologi Industri.
Biasanya dibangun dalam satu kawasan karena keterkaitan antara satu industri
dengan industri lainnya sehingga disebut Eco Industrial Park.
Eco Indsutrial Park
Alam adalah suatu siklus sedangkan sistem industri adalah
linier. Untuk itu, pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan akan
membutuhkan satu siklus yang meniru porses ekosistem. Untuk mencapai pola
siklus dibutuhkan rancangan ulang yang mendasar dari bisnis dan ekonomi,
mengubah pola linier menjadi pola siklus. Siklus yang sempurna, menggambarkan
keseimbangan yang dinamis dalam suatu sistem ekologi, dimana energi dan sampah
telah didaur ulang dan digunakan kembali oleh organisasi lain dan diproses
sehingga mendekati zero waste. Sistem ini dipandang sebagai sistem yang memilki
integritas yang tinggi sebagai sebuah siklus tertutup.
Pada prinsipnya EIP adalah upaya membangun suatu kawasan
industri yang berwawasan lingkungan,
mampu mendorong dan merangsang para pelaku yang terlibat di dalamnya
untuk terus berinovasi. Bila dicermati
lebih dalam, maka arahnya membuat suatu sistem industri yang lebih efisien. Hal
ini dapat dicapai, misalnya melalui penggunaan material dan energi yang lebih
efisien, menggunakan peralatan yang efisien dan juga efisiensi pada perencanaan
desain industrinya.
Namun hal yang paling mendasar adalah harus memiliki keuntungan dari sudut pandang
ekonomi. Suatu kawasan industri yang
berwawasan lingkungan tidak pernah bisa berhasil dengan baik apabila sistem
yang dikembangkan tidak menguntungkan secara ekonomi, dengan kata lain tidak
memiliki keunggulan bersaing.
Hal yang mendasar dalam menyusun EIP bagaimana membangun kawasan industri yang
memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta memiliki kemampuan untuk
menghasilkan produk yang memiliki keuntungan bersaing di pasaran. Salah satu konsep yang dikembangkan adalah waste to raw material linkage, adanya
interaksi pertukaran informasi dan inovasi baru cara-cara pengolahan limbah dan
pemanfaatan infrastruktur bersama antara para pelaku.
No comments:
Post a Comment