Sunday, March 8, 2020

HOTEL


Bergegas kami berebut turun dari bus, setelah perjalanan yang melelahkan dari Bandung ke Surabaya. Berhamburan, segera memasuki hotel yang sudah dipesankan sebelumnya. Aku tertegun, hotel yang dibayangkan sebelumnya ternyata juah dari kenyataan. Hotelnya bernuansa oriental, dengan model kebarat-baratan, jauh dari model minimalis seperti hotel jaman sekarang.

Aku mengikuti teman-teman memasuki lobby hotel. Kami menunggu pembagian kamar  oleh panitia. Aku duduk di sofa, di pojok ruangan lobby. Sofa berwarna orange, tempatnya yang strategis, sehingga aku bisa melihat semua sudut ruangan.

Nampak panitia dan resepsionis sibuk membagi kamar. Rombongan kami ada sekitar 30 orang, 10 orang perempuan dan 20 orang laki-laki. Pembagian kamar tidaklah mudah, biasanya masing-masing sudah memiliki keinginan sendiri dan sering kali merepotkan panitia. Beberapa yang protes karena teman sekamarnya tidak sesuai keinginan. Namun pada akhirnya peserta mengikuti apa yang sudah direncanakan oleh panitia walau dengan menggerutu.

Selain rombongan kami ada beberapa rombongan tamu yang datang. Terdengar orang berbicara bahasa asing.  Ketika aku menoleh,  ternyata mereka rombongan bule. Wah, keren juga nih, banyak tamu bule, berarti hotel ini sudah standar internasional. Kataku dalam hati.

Ketika aku perhatikan, rombongan tamu hotel umumnya berumur paruh baya. Rombongan bule yang baru datang saja ada sekitar 10 orang. Usianya sekitar 60 tahunan lebih, namun nampak keceriaan di wajah mereka. Bersendau gurau dan sesekali tertawa bersama.
Diantara rombongan bule, ada satu orang pemuda yang hilir mudik. Mungkin dia yang menjadi ketua rombongan atau pemandu rombongan. Nampak sibuk memberikan intruksi dan membagikan kunci. Wah, jarang-jarang ada bule, masih muda lagi…mau ngurusin rombongan lansia, kataku dalam hati.

“Evaaaaaa…,” terdengar suara memanggilku dengan cukup keras.

“iyaaaaa……,”jawabku sambil bergegas menuju panitia.

‘Kamu dipanggil-panggil diem aja!” Kata ketua rombongan dengan nada tinggi dan raut wajah yang kesal.

“ini kunci kamarnya, nomor 5!,” ujarnya. Belum sempat aku menjawab, dia memanggil peserta lain.

“Baiklah. “ kataku,” jadi aku sekamar sama siapa?”

 “Akuuu!”, Kei menjawab dari kejauhan.

“Wah asyik nih, kita sekamar,”  kataku.

Aku dan Kei memang banyak kesamaan, suka makan baso, suka nonton film komedi, suka baca, dan  suka sama-sama telat kalau ngumpulin tugas. Perbedaanya, aku penakut sedangkan dia, tidak!

“Hayu Kei, ke kamar,” kata ku. Aku sudah ingin mandi, rasanya badan ini lengket. Keringat dan segala debu nempel sudah berjam-jam ditambah campuran bau dari berbagai sumber. Lengkap sudah.

“Duluan aja,”  ujar Kei, “aku nyari tas dulu, satu tas belum ketemu ini”

“Ok, “ kataku.

Aku langsung menanyakan kepada pelayan dimana letak kamar nomor 5. Pelayan yang dengan sabar menjawab setiap pertanyaan, nampak kewalahan karena tak hanya aku yang bertanya tetapi teman-temanku,  juga rombongan yang lain yang bersamaan datang.

“Nanti mba lurus saja, ada lorong lewat situ, kamarnya sebelah kiri ya.” Jawab pelayan menerangkan kepada kami.

Aku bergegas menuju kamar 5, mengikuti arahan dari pelayan tadi. Sambil berbincang dengan teman-teman sesama pencari kamar. Aku memperhatikan mebel yang ada di hotel, model lama, bahkan cenderung tua. Kursi-kursi  Jati, jam dinding  kuno,  alat pemutar piringan hitam dan pernak pernik lainnya tertata dengan rapi.

Aku terhenti tepat di kamar nomor 5.  Aku pamitan dengan teman-teman yang masih mencari kamar.

‘Aku duluan ya, selamat beristirahat,” kataku kepada mereka.

Aku membuka pintu kamar. Karena masih bangunan lama, pintu dibuka dengan kunci biasa. Tak menggunakan kartu yang biasa digunakan di hotel kekinian.

Sambil mengucapkan salam, aku buka pintu. Walaupun tak ada orang dalam ruangan, tetapi menjadi kebiasaanku mengucapkan salam.

Bisa ditebak, mebel di kamar seperti apa. Perabotan yang unik dan tua. Ruangan terbagi dua, pertama ruang tamu, sebelah kanan pintu terdapat sofa lengkap dengan meja. Di sebelah kiri, terdapat meja baca dengan kursi lengkap model jaman dulu. Pada dinding kiri, terpajang lukisan situasi pada jaman dahulu. Motif gordeng  sama dengan sofa, karpet yang tebal,  semua serasi dengan nuansa hijau biru.

Aku menelpon Kei, menanyakan apakah dia akan segera ke kamar. Kei ternyata masih menunggu keluarganya yang akan berkunjung.

Aku masih di depan pintu, ada perasaan ragu untuk melanjutkan langkah, sementara teman-teman juga sudah menjauh, mencari kamarnya masing-masing.  Namun ketidakenakan raga, memaksa aku untuk  segera masuk kamar.

Aku menuju ruang tempat tidur. Tempat tidur dengan ornament yang serasi dengan ruang tamu. Tepat diseberang tempat tidur, lemari yang cukup besar dan disebelahnya terpajang cermin besar berbentuk oval yang unik. Semua serasi dengan tema hotel ini.

Aku segera bebenah, siap-siap untuk mandi. Aku keluarkan baju ganti dan peralatan mandi. Ketika membuka pintu kamar mandi, wastafel, kaca,  bathtub, semua model yang belum pernah aku lihat, bahkan kran  air pun sangat unik. Mungkin hotel ini tidak pernah menggantinya, jadi masih seperti jaman dahulu.

Aku cepat-cepat mandi, air hangat dari shower langsung menyegarkan badan dan fikiranku. Selagi menikmati cucuran air dari Shower, tetiba pintu kamar mandi  ada yang mengetuk dengan keras, menggedor tepatnya.

Aku berteriak, “Keiiii…bentar yaaaa, Äku lagi mandi.” kataku

Gedoran berulang…..”ya….bentar…” kataku…

Kemudian gedoran pintu terhenti. Aku segera menyelesakan mandiku. Kebayang kasian Kei nih, sudah ingin mandi barangkali, pikirku.

Aku segera keluar kamar mandi, sambil memanggil Kei…

“Kei”…..kataku…tetapi tak satupun orang di kamar kami.

Aku Berbalik kekanan, tepat cermin yang memantulkan bayangan diriku sendiri dan membuat aku kaget!

Aku berfikir, mungkin Kei tadi kesini tetapi dia balik lagi keluar….

Aku bergegas ke pintu depan, nampak kunci pintu masih terpasang. Aku buka, tidak bisa, karena masih terkunci….

Jadi??..............
Dan aku segera berhambur keluar kamar! berlari  sambil berteriak…Keeeiiiiiiii!!!!!!…..

No comments:

Post a Comment