Bergegas
kami berebut turun dari bus, setelah perjalanan yang melelahkan dari Bandung ke
Surabaya. Berhamburan, segera memasuki hotel yang sudah dipesankan sebelumnya.
Aku tertegun, hotel yang dibayangkan sebelumnya ternyata juah dari kenyataan. Hotelnya
bernuansa oriental, dengan model kebarat-baratan, jauh dari model minimalis seperti
hotel jaman sekarang.
Aku
mengikuti teman-teman memasuki lobby hotel. Kami menunggu pembagian kamar oleh panitia. Aku duduk di sofa, di pojok
ruangan lobby. Sofa berwarna orange, tempatnya yang strategis, sehingga aku
bisa melihat semua sudut ruangan.
Nampak
panitia dan resepsionis sibuk membagi kamar. Rombongan kami ada sekitar 30
orang, 10 orang perempuan dan 20 orang laki-laki. Pembagian kamar tidaklah
mudah, biasanya masing-masing sudah memiliki keinginan sendiri dan sering kali
merepotkan panitia. Beberapa yang protes karena teman sekamarnya tidak sesuai
keinginan. Namun pada akhirnya peserta mengikuti apa yang sudah direncanakan
oleh panitia walau dengan menggerutu.
Selain
rombongan kami ada beberapa rombongan tamu yang datang. Terdengar orang
berbicara bahasa asing. Ketika aku
menoleh, ternyata mereka rombongan bule.
Wah, keren juga nih, banyak tamu bule, berarti hotel ini sudah standar internasional.
Kataku dalam hati.
Ketika
aku perhatikan, rombongan tamu hotel umumnya berumur paruh baya. Rombongan bule
yang baru datang saja ada sekitar 10 orang. Usianya sekitar 60 tahunan lebih,
namun nampak keceriaan di wajah mereka. Bersendau gurau dan sesekali tertawa
bersama.
Diantara
rombongan bule, ada satu orang pemuda yang hilir mudik. Mungkin dia yang
menjadi ketua rombongan atau pemandu rombongan. Nampak sibuk memberikan
intruksi dan membagikan kunci. Wah, jarang-jarang ada bule, masih muda lagi…mau
ngurusin rombongan lansia, kataku dalam hati.
“Evaaaaaa…,”
terdengar suara memanggilku dengan cukup keras.
“iyaaaaa……,”jawabku
sambil bergegas menuju panitia.
‘Kamu
dipanggil-panggil diem aja!” Kata ketua rombongan dengan nada tinggi dan raut
wajah yang kesal.
“ini
kunci kamarnya, nomor 5!,” ujarnya. Belum sempat aku menjawab, dia memanggil
peserta lain.
“Baiklah.
“ kataku,” jadi aku sekamar sama siapa?”
“Akuuu!”, Kei menjawab dari kejauhan.
“Wah
asyik nih, kita sekamar,” kataku.
Aku
dan Kei memang banyak kesamaan, suka makan baso, suka nonton film komedi, suka baca,
dan suka sama-sama telat kalau ngumpulin
tugas. Perbedaanya, aku penakut sedangkan dia, tidak!
“Hayu
Kei, ke kamar,” kata ku. Aku sudah ingin mandi, rasanya badan ini lengket.
Keringat dan segala debu nempel sudah berjam-jam ditambah campuran bau dari
berbagai sumber. Lengkap sudah.
“Duluan
aja,” ujar Kei, “aku nyari tas dulu, satu
tas belum ketemu ini”
“Ok,
“ kataku.
Aku
langsung menanyakan kepada pelayan dimana letak kamar nomor 5. Pelayan yang
dengan sabar menjawab setiap pertanyaan, nampak kewalahan karena tak hanya aku
yang bertanya tetapi teman-temanku, juga
rombongan yang lain yang bersamaan datang.
“Nanti
mba lurus saja, ada lorong lewat situ, kamarnya sebelah kiri ya.” Jawab pelayan
menerangkan kepada kami.
Aku
bergegas menuju kamar 5, mengikuti arahan dari pelayan tadi. Sambil berbincang
dengan teman-teman sesama pencari kamar. Aku memperhatikan mebel yang ada di
hotel, model lama, bahkan cenderung tua. Kursi-kursi Jati, jam dinding kuno, alat
pemutar piringan hitam dan pernak pernik lainnya tertata dengan rapi.
Aku
terhenti tepat di kamar nomor 5. Aku
pamitan dengan teman-teman yang masih mencari kamar.
‘Aku
duluan ya, selamat beristirahat,” kataku kepada mereka.
Aku
membuka pintu kamar. Karena masih bangunan lama, pintu dibuka dengan kunci
biasa. Tak menggunakan kartu yang biasa digunakan di hotel kekinian.
Sambil
mengucapkan salam, aku buka pintu. Walaupun tak ada orang dalam ruangan, tetapi
menjadi kebiasaanku mengucapkan salam.
Bisa
ditebak, mebel di kamar seperti apa. Perabotan yang unik dan tua. Ruangan
terbagi dua, pertama ruang tamu, sebelah kanan pintu terdapat sofa lengkap dengan
meja. Di sebelah kiri, terdapat meja baca dengan kursi lengkap model jaman
dulu. Pada dinding kiri, terpajang lukisan situasi pada jaman dahulu. Motif
gordeng sama dengan sofa, karpet yang
tebal, semua serasi dengan nuansa hijau
biru.
Aku
menelpon Kei, menanyakan apakah dia akan segera ke kamar. Kei ternyata masih
menunggu keluarganya yang akan berkunjung.
Aku
masih di depan pintu, ada perasaan ragu untuk melanjutkan langkah, sementara
teman-teman juga sudah menjauh, mencari kamarnya masing-masing. Namun ketidakenakan raga, memaksa aku untuk segera masuk kamar.
Aku
menuju ruang tempat tidur. Tempat tidur dengan ornament yang serasi dengan
ruang tamu. Tepat diseberang tempat tidur, lemari yang cukup besar dan
disebelahnya terpajang cermin besar berbentuk oval yang unik. Semua serasi
dengan tema hotel ini.
Aku
segera bebenah, siap-siap untuk mandi. Aku keluarkan baju ganti dan peralatan
mandi. Ketika membuka pintu kamar mandi, wastafel, kaca, bathtub, semua model yang belum pernah aku lihat,
bahkan kran air pun sangat unik. Mungkin hotel ini tidak pernah
menggantinya, jadi masih seperti jaman dahulu.
Aku
cepat-cepat mandi, air hangat dari shower langsung menyegarkan badan dan
fikiranku. Selagi menikmati cucuran air dari Shower, tetiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk dengan keras, menggedor
tepatnya.
Aku
berteriak, “Keiiii…bentar yaaaa, Äku lagi mandi.” kataku
Gedoran
berulang…..”ya….bentar…” kataku…
Kemudian
gedoran pintu terhenti. Aku segera menyelesakan mandiku. Kebayang kasian Kei nih,
sudah ingin mandi barangkali, pikirku.
Aku
segera keluar kamar mandi, sambil memanggil Kei…
“Kei”…..kataku…tetapi
tak satupun orang di kamar kami.
Aku
Berbalik kekanan, tepat cermin yang memantulkan bayangan diriku sendiri dan
membuat aku kaget!
Aku
berfikir, mungkin Kei tadi kesini tetapi dia balik lagi keluar….
Aku
bergegas ke pintu depan, nampak kunci pintu masih terpasang. Aku buka, tidak
bisa, karena masih terkunci….
Jadi??..............
Dan
aku segera berhambur keluar kamar! berlari
sambil berteriak…Keeeiiiiiiii!!!!!!…..
No comments:
Post a Comment