Sudah lama saya tidak menulis, kejadian ini membuat saya memaksakan diri kembali untuk menulis karena banyak sekali yang bertanya bagaimana pengalaman ketika terkena dan saat terinfeksi Covid-19. Pesannya, jangan malu untuk menyampaikan bahwa kita terinfeksi dan bagi kita yang tidak terinfeksi harus sangat memahami bagaimana seharusnya kita bertindak kepada teman atau saudara kita yang terinfeksi Covid-19.
Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Saya, suami dan anak-anak juga memilik gejala yang berbeda. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan bagi kita yang tetap harus waspada bahwa Covid-19 bisa ‘hinggap’ dimana saja, kepada siapa saja, kapan saja dan memberikan dampak yang berbeda-beda.
Selasa, 8 Desember; sepulang bekerja sore hari, badan terasa tidak nyaman. Selepas magrib terasa demam, setelah minum obat flu kemudian saya memaksakan tidur. Malam itu tidur gelisah, badan terasa sakit. Saya bangun untuk minum obat flu yang kedua, kemudian berusaha tidur kembali.
Rabu, tanggal 9 Desember ; Bangun pagi, badan masih terasa tidak enak, masih terasa demam tetapi tidak separah tadi malam. Saya lebih banyak tidur, makan sudah mulai tidak berselera tetapi saya paksakan. Tenggorokan mulai terasa sakit tetapi tidak ada batuk dan hidung tidak meler.
Kamis, 10 Desember; badan masih tidak nyaman, ujung hidung sudah mulai terasa aga beku seperti lama diudara dingin (kalau orang sunda bilang baal), tetapi penciuman masih normal. Sakit tenggorokan lebih dari hari kemarin. Saya memutuskan untuk pergi ke dokter praktek di sekitar rumah.
Hari selasa sebelumnya suami berobat ke dokter yang sama. Dokter mengatakan bahwa saya terkena radang tenggorokan, diagnosa yang sama dengan suami. Saya diberikan obat flu dan antibiotik. Dokter berpesan, jika indera penciuman berkurang atau hilang untuk segera kontrol.
Jumat, 11 Desember: badan terasa panas dingin namun lebih baik dari hari sebelumnya. Tenggorokan mulai terasa lebih sakit dari hari kemarin seperti terbakar dan meluas. Hidung terasa tambah kaku, penciuman dan indera perasa masih berfungsi.
Hari ini, saya kembali ke dokter untuk memeriksakan ke dua anak saya. Anak pertama semalaman panas tinggi dan meler. Menurut hasil pemeriksaan, anak pertama terkena virus tetapi belum pasti virusnya apa, jika tiga hari masih panas maka harus uji lab atau jika hilang indera penciuman maka untuk segera kontrol. Anak ke tiga, hanya mengeluh tidak enak badan dengan ciri-ciri akan terkena flu dan mencret. Kedua anak saya diberika obat flu dan antibiotik.
Sepulang dari dokter, panas badan anak pertama tidak turun, tetap diangka 38-39 lebih. Malam hari saya sengaja pasang alarm setiap dua jam untuk mengecek kondisi anak saya. Benar saja, pada jam 12 malam panasnya lebih dari 39 padahal obat sudah diberikan sesuai aturan dan saya berikan lagi obat panas. Dua jam kemudian saya cek lagi, dan suhunya sudah turun. Sampai pagi hari sudah tidak panas lagi.Alhamdulillah.
Sabtu, 12 Desember; bangun pagi, hidung terasa tambah kaku, saya coba ambil kayu putih dan dioleskan dibawah hidung, dan tidak terbau apapun tapi panas kayu putih bisa dirasakan. Saya masih ragu, apakah ini yang dikatakan dokter? Saat itu, bibir bertambah kaku seperti ujung hidung tetapi indera perasa masih berfungsi walau sudah berkurang. Tidak ada meler sedikitpun, cenderung kering.
Pagi hari, suami mengambil hasil pemeriksaan swab yang dilakukan dua hari yang lalu dan dinyatakan positif. Innalillah wa innailaihi roojiun……
Sorenya saya kontrol ke dokter yang sama, betul saja, dokter mengatakan kemungkinan besar saya dan anak-anak juga terinfeksi. Dokter kemudian mengontak puskesmas setempat dan menyuruh kami menunggu petugas puskesmas akan datang dan memeriksa keadaan semua. Dokter memberikan vitamin-vitamin.
Saya merasa lemas, pikiran campur aduk, apa yang harus dilakukan? Bagaimana dengan orang-orang sekitar saya? bagaimana anak-anak kalau kondisinya memburuk dan berbagai fikiran buruk lainnya menambah kegalauan.
Sesampai dirumah, kecemarasan semikin bertambah karena suami nampak lemas sekali, raut muka pucatnya nampak kentara. Keluhan suami saat itu diare, lemas, pusing dan ada batuk.
Saya segera mengabarkan ke teman-teman di kantor. Saya disarankan untuk swab di labkesa milik pemprov Jabar. Tak lama berselang saya dikontak juga oleh Tim Penanganan Covid-19 Pemprov yang menawarkan untuk dijemput dan berobat di Rumah Sakit Al Ikhsan. Suami memutuskan untuk menunggu tim puskesmas saja sesuai dengan anjuran dokter praktek.
Tim Covid-19 Jabar terus menanyakan kabar,termasuk salah satu dokter yang bertugas di BPSDM juga menanyakan kondisi suami yang saat itu CTnya 20. Menurut beliau seharusnya suami dirawat.
Minggu, 13 Desember; saya masih merasakan hal yang sama, tenggorokan makin terasa sakit seperti terbakar dan semakin meluas , tangan kanan dan jemari semakin kaku dan kemampuan berfikir menjadi berkurang. Kadang saya harus diam dahulu untuk memutuskan atau mengerjakan sesuatu.
Kami memutuskan untuk mengikuti saran tim Covid-19 Pemprov, dijemput menggunakan ambulance ke rumah sakit Al Ihksan (Rumah sakit milik pemerintah provinsi) dengan supir menggunakan APD lengkap. Akhirnya kami mengalami, dijemput ambulance dangan APD lengkap…..
Sesampai di ruang IGD khusus penanganan Covid-19, kami diperiksa darah dan rontgen. Alhamdulillah hasil pemeriksaan semuanya baik. Dokter memperbolehkan kami untuk isolasi mandiri di rumah dan diberikan obat dan vitamin, vitamin C dan vitamin D, antibiotic dan zinc. Karena hari minggu, rumah sakit tidak bisa memeriksa melakukan swab.
Sepulang dari Al ikhsan suami masih nampak lemas. Alhamdulillah anak-anak sudah tidak panas lagi, anak yang pertama dan ketiga masih diare. Sejak hari itu, kami lebih banyak istirahat. Saya mengerjakan pekerjaan rumah sebisanya, ketika sudah mulai tidak kuat , saya akan istirahat dan tidur untuk beberapa saat.
Malam hari, badan terasa semakin tidak enak, hidung dan mulut semakin kaku dan tenggorokan semakin sakit.
Senin, 14 Desember: berdasarkan saran dari tim pemprov, saya dan keluarga untuk dilakukan swab di labkes pemprov. Namun hari itu, badan terasa lemas, kepala pening dan sebagian jari jemari dan tangan kanan sudah mulai kaku. Indera penciuman saya sudah tidak berfungsi. Saya tidak kuat untuk menyetir sendiri, akhirnya kami putuskan untuk swab di puskesmas lingkungan rumah.
Saya dan anak-anak diswab di puskesmas. Tim swab puskemas, dikoordinasikan oleh seorang bidan namanya bidan Leni. Kami diswab oleh 3 orang ibu-ibu muda dengan pakain APD lengkap. Dan saya sangat kagum dengan mereka, dengan fasilitas minim mereka mempertaruhkan kesehatannya untuk warga yang akan berobat.
Selasa, 15 Desember; kepala masih terasa berat dan badan terasa panas dingin dan linu, tenggorokan terasa terbakar semakin parah. Tiba-tiba lantai seperti bergoyang dan saya harus berpegangan. Setiap dua jam sekali saya minum madu tanpa minum air putih. Perih terasa ditenggorokan tetapi kemudian lebih enak. Saya tidak bisa berpikir jernih, sering tetiba lupa apa yang akan dilakukan. Gerakan dan berfikir semakin lambat. Saya mulai diare, sakit perut seperti melilit dan buang air beberapakali. Maaf, dengan kotoran berlendir dan berbusa. Alhamdulillah diare hanya tiga hari, dan hari Jumat sudah normal kembali.
Ada satu pekerjaan besar diakhir tahun 2020. Saya memaksakan untuk menjadi moderator diacara Webinar dan meminta teman untuk bersiap jika terjadi sesuatu pada saya. Saat acara, ada waktu saya tidak bisa mengingat nama narsum yang sedang presentasi padahal sebelumnya selalu diucapkan. Lupa sama sekali dan saya harus melihat catatan untuk ingat kembali. Alhamdulillah tugas selesai.
Rabu, 16 dan kamis 17 Desember, kondisi masih sama dengan hari selasa, ini mungkin puncak-puncaknya. Saya lebih sering istirahat, tidur untuk memulihkan kondisi setelah memastikan keperluan suami dan anak sudah selesai.
Anak-anak sudah membaik, anak pertama tidak lagi diaere sejak hari kamis 17 Desember tetapi anak kedua dan ketiga masih mencret tetapi tidak ada panas sejak awal.
Hari jumat, 18 Desember; kami sudah mulai membaik, suami sudah bisa beraktivitas diluar kamar. Saya sendiri masih merasa pusing tetapi sudah mulai berkurang. Lemas masih sering terasa dan datangnya tiba-tiba.
Hari ini, kami dikabari hasil hasil swab yang dilakukan di Puskesmas . Hasilnya, saya dan anak-anak dinyatakan positif namun hasilnya tidak melampirkan CT. Saya kemudian konsul ke tim dokter pemprov dan akhirnya kami harus diswab ulang untuk mengetahui nilai CT. Hari itu juga kami berangkat ke labkesda untuk diswab.
Hari minggu, 20 Desember, kami mendapatkan obat-obatan dari tim dokter BPSDM diantaranya, vitamin dan antivirus. Suami mendapatkan obat lebih awal dengan tambahan obat karena masih ada batuk.
Karena di weekday, hasil swab yang dilakukan di labkesda pemprov, baru kami terima di hari selasa malam tanggal 23 Desember. Nilai CT saya, 27, suami 26, anak yang kecil dinyatakan negative dan dua anak sy CT nya masih di bawah 25. Saya langsung konsulkan dengan dokter pemprov. Sarannya, anak yang kecil untuk diungsikan dari rumah dan yang lain jika terjadi keluhan segera melapor.
Sampai hari kamis, 25 Desember Saya masih sering merasa lelah, dan datangnya tiba-tiba, sakit kepala dan pusing sudah tidak ada. Hidung, mulut dan tangan serta jemari sudah tidak kaku. Indera perasa sudah lebih baik dari sebelumnya, indera penciuman sudah bisa mencium bau menyengat tertentu.
Hari ini, sabtu, 26 Desember, kami semakin membaik dan keluhan sudah semakin berkurang. Suami sudah berkativitas biasa. Untuk Saya, indera penciuman belum sempurna tetapi sudah bisa mencium aroma yang menyengat, indera perasa belum kembali sempurna seperti sebelum terinfeksi tapi sudah membaik dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kejadian ini menjadi
pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kami mendapat gejala yang
berbeda-beda. Suami sampai hari ini, indera penciumannya dan indera perasanya tidak
terganggu. Anak saya, indera penciuman terganggu sekitar 5 hari dari sejak
turunnya demam, anak kedua saya lemas dan dan tidak seceria biasanya, dan anak
ke tiga saya tidak ada perubahan yang signifikan atau keluhan yang berarti .
Menurut saya, pengobatan awal memberikan dampak penting bagi kami, pemeriksaan ke dokter praktek dengan obat pereda flu, mampu mengurangi sebagian gejala infeksi Covid-19. Sebagai tambahan, saya rutin minum madu, suami saya selain madu rutin menghirup kayu putih yang dimasukkan ke hidung dan menghisap uap air panas yang ditetesi kayu putih.
Kami mendapatkan berbagai tips bagaimana mengatasi Covid-19. Terus terang, untuk saya sendiri kerepotan, saya lebih banyak menggunakan waktu untuk istirahat. Tidur adalah istirahat yang paling efektif. Madu benar-benar membantu saya menguatkan stamina. Makan sama sekali tidak enak, tapi harus dipaksakan, apapun makanannya yang penting bisa menambah energi.
Semua itu adalah ikhtiar kita untuk kesembuhan dan berdoa adalah kepastian yang harus kita lakukan, InsyaaAlloh menjadi amal kebaikan bagi kita. Aamiin…
Semoga lekas sembuh bu eva beserta Keluarga nya dan Semoga semuanya sehat kembali.
ReplyDeleteTerimakasih sharing ilmu dan pengalaman nya, semoga menjadi amal ibadah dan bermanfaat buat kami.
aamiin...Hatur nuhun
DeleteMasya Allah.. perjuangan seorang istri dan ibu bagi anak2 nya.. dikala dirinya sendiri mengalami sakit masih harus memikirkan suami dan anaknya agar tetap bisa bertahan.... semangat bu Eva.. Allah pasti akan menyembuhkan ibu sekeluarga... aamiin YRA...
ReplyDeleteAamiin...hatur nuhun ya
DeleteMasya Allah...sehat sehat sehat....enggal damang kak Eva sekeluarga❤️π€²π€
ReplyDeleteAamiin...Hatur nuhun ya
DeleteEpppa sayang..
ReplyDeleteSemoga semuanya semakin pulih yaaa..
God bless u all..
Aamiin...nuhuuuunnnnn
Deleteterima kasih sudah sharing Teh, sangat bermanfaat sekali dan utk meningkatkan kewaspadaan
ReplyDeletesemoga cepat pulih...
Aamiin....iya..harus sll waspada ya
DeleteSemoga pulih kembali dan sehat selalu ya, bu Eva dan keluarga.
ReplyDeleteaamiin....nuhun ya
DeleteCepet pulihbu evaaaa
ReplyDeleteAamiin....nuhuuun yaaa
DeleteSemoga pulih kembali, sehat selalu bu Eva dan keluarga
ReplyDeleteAamiin...Nuhuuun yaaa
Deleteget well soon... Aamiinn
ReplyDeleteAamiin...hatur nuhun pak
DeleteYa Allah segera pulihkan kesehatanya...Aamiin
ReplyDeleteAamiin....Hatur nuhuuuun ya
DeleteBarakallah Buat TeTeteh sekeluarga...
ReplyDeleteSyafaqallah, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya.
Aamiin...hatur nuhun kang
DeleteSemoga segera pulih dan sehat kembali.
ReplyDeleteAamiin..Hatur nuhuuuun
DeleteSubhanallah mamah hebat, terima kasih sudah berbagi pengalaman. Semoga segera sehat kembali semuanya. Aamiin ya Robbal alaamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah...Aamiin...hatur nuhun ya
DeleteSemoga Bu Eva dan keluarga segera sehat kembali, terimakasih sharing nya ya bu
ReplyDeleteAamiin...hatur nuhuuuun ya
DeleteTerima kasih bu Eva shering pengalaman..semoga semuanyabcepet sembuh kembali.
ReplyDeleteAamiin...Hatur nuhuuun ya
DeleteKami turut mendoakan agar kesehatan bu eva & kel. semakin membaik dan normal kembali. Tetap semangat..ππ»
ReplyDeleteAamiin...hatur nuhun
DeleteSemoga cepat sehat ibu eva dan keluarga.aamiin
ReplyDeleteAamiin....hatur nuhun
DeleteSemoga ibu Eva dan keluarga cepat sembuh,sabar ya bu...
ReplyDeleteAamiin YRA.
Aamiin..hatur nuhun ya
DeleteSyafakillah... cepet sehat lagi yaaa... utk semuanya... smg Alloh memberikan kekuatan dan kesabaran... aamiin...
ReplyDeleteAamiin..YRA..nuhuun
DeleteBu eva.. luar biasa perjuangannya saat mengalami fisik terganggu msh berfikur utk tugas & tanggung jawabnya sbg seorang ibu dan sbg PNS dlm kondisi sakit msh melaksanakan tugasnya.. semoga semua perjuangannya di balas dgn betibu kebaikan dr Alloh swt.. cepet sembuh ya bu eva & kel...
ReplyDeleteAamiin...Alhamdulillah...dikasih kemudahan sama Allah SWT..hatur nuhun
DeleteAlhamdulillah ibu Eva kembali sehat semoga untuk selanjutnya tdk terpapar lagi Covid-19, kesabaran ibu luar biasa
ReplyDeleteAamiin..YRA..nuhuuun ya
DeleteEnggal damang eva
ReplyDeleteaamiin....nuhuun ya
DeleteMudah2an lekas sembuh bu eva dan keluarga.. Sehat2 ya bu.. ππ
ReplyDeleteAamiin...nuhun nais..
DeleteSemoga segera pulih seperti sedia kala ya bu..
ReplyDeleteAamiin..YRA...nuhuuun ya
DeleteLuar biasa, bu eva hebat sekali, di sikon ibu yg sakit ibu masih mngurus suami, anak2 dan pkerjaan, smga bu eva sklrg segera pulih kmbali kesehatan nya dan selalu dalam lindungan Allah swt..Aamiin yra
ReplyDeleteAlhamdulillah....Aamiin....Alloh yang memberikan kemudahan...hatur nuhun ya
DeleteTerima kasih bu sharing tulisannya. Bs menjadi pelajaran bwt kami yg msh hrs kerja kkntr tp selalu was2. Semoga ibu dan keluarga bs pulih seperti sediakala sehat seterusnya.Aamiin Yaa Rabbal Alamin
ReplyDeletesama-sama...semoga bermanfaat ya...semoga kita semua sll dilindungi Alloh SWT...Aamiin YRA
Delete