Siapa yang tak kenal Korea
Selatan?negara yang dahulu penuh dengan ‘gejolak’,namun dalam waktu yang
singkat telah menjadi salah satu negara maju di Asia. Siapa sangka, kemajuan
teknologi Korsel telah menjadi pesaing utama Jepang atau Eropa yang sudah maju
terlebih dahulu. Berbagai produk elektronik Korsel sudah merambah dibanyak
negara termasuk Indonesia. Dengan mudah kita bisa mendapatkan produk-produk
Korea dangan harga bersaing.
Sebagai salah satu negara
maju, maka kebijakan lingkungan Korsel tidak hanya memperbaiki lingkungan
tetapi Korsel telah menetapkan pembangunan berwawasan lingkungan dan menjadi
salah satu negara yang berkewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca. Pada tahun
2008, Korsel mendeklarasikan ‘Low Carbon Green Growth Is A New National
Growth Paradigm That Creat New Growth Engines And Clean Jobs’.
Permasalahan
Lingkungan yang Akut
Dalam sejarahnya, Korsel
merupakan negara yang sering dijajah oleh Jepang. Selain sejarahnya yang rumit,
Korsel juga mengalami permasalahan lingkungan yang sangat akut. Polusi yang
tinggi dan kerusakan lingkungan parah terjadi di mana-mana.
Sungai menjadi tempat
pembuangan sampah terpanjang. Industri dan domestik dengan bebas membuang
limbahnya ke sungai. Ikan dan makhluk air lainnya tidak bisa berkembang biak
bahkan mati. Daerah kumuh tersebar terutama di bantaran sungai. Semua menjadi
pemandangan biasa bagi masyarakat.
Gambaran tersebut adalah
gambaran Korea Selatan pada tahun 1960-1980an. Walaupun sampai akhir tahun 2000
Korsel masih dihadapi pada permasalahan banjir, namun upaya yang dilakukan
sejak tahun 1960an memberikan hasil nyata saat ini.
Restorasi
Sungai, Kebijakan Prioritas Korsel
Diawali dengan membangun
aksi konservasi sungai, kemudian dikembangkan menjadi program Restorasi di 4
sungai utama secara terintegrasi, yaitu sungai Han, Nakdong, Geun dan Yeong
San. Inilah yang terkenal dengan Proyek Restorasi dan menjadi kebijakan utama
Korsel dalam pembangunan berwawasan lingkungan.
Restorasi 4 sungai merupakan
penerapan dari dasar kebijakan pembangunan Korsel yaitu Green Growth dengan tiga tujuan utama, yaitu;
- Secure
water, keamanan terhadap
sumber-sumber air;
- Prevent
Flood, pencegahan terhadap banjir
- Environmental
Improvement, peningkatan kualitas air, mengembalikan ekosistem perairan,
membangun fasilitas terkait dengan pengelolaan DAS.
Ketiga fokus kebijakan tersebut dilakukan sejak tahun 2009 sampai saat ini dan telah menghabiskan dana sekitar 2.4 trilliun Won. Sungguh komitmen yang luar biasa
Pendekatan
Teknologi dan Sains
Teknologi dan sains menjadi
dasar penerapan kebijakan lingkungan Korsel, sehingga apa yang direncanakan
dapat diimplementasikan dan memberikan hasil yang optimal. Ketiga fokus
kebijakan di atas dijabarkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut,
1. Securing Water Resources and Preventing
Floods,
- membangun 16 weirs yang berfungsi untuk mengamankan air dalam
jumlah besar, sekitar 800 juta m3
didesain berdasarkan landmark lokal, penghubung transportasi serta berfungsi
sebagai pariwisata dan lingkungan;
- menguatkan
tanggul-tanggul dan membangun bendungan-bendungan kecil sebagai upaya
meningkatkan pengendalian banjir
2. Imporving Water Quality and Restorating
Aquatic Ecosystem,
- meningkatkan fasilitas lingkungan dasar dengan
mengoperasikan sebanyak 1.044 fasilitas lingkungan dasar untuk meningkatkan
kualitas air (diantaranya, pengolahan limbah domestik,pertanian, industri dan
sumber pencemar lainnya);
- menciptakan ekosistem lahan basah natural
sebaganyak 136 area; restore ekosistem perairan, mengembangbiakan dan menanam
ikan-ikan yang hampir punah.
3. Creating Watersheed Culture and Driving
Local Growth;
- Membangun
ruang publik baru disepanjang sungai (waterfront) sebagai fasilitas untuk rekreasi dan berolah raga;
- mengembangkan
ruang bersepeda sepanjang 1.728 km di 4 sungai utama.
Penetapan kebijakan
lingkungan Korsel telah dimulai sejak tahun 1960an. Pada tahun 1977, mulai dilaksanakan aksi pencegahan Polusi
terhadap Lingkungan yang diikuti oleh aksi pengelolaan limbah dan koservasi
lingkungan.
Total
Pollution Load Management,
Merupakan upaya untuk
menurunkan pencemaran dimulai dari sumber pencemar. Parameter yang menjadi
dasar penurunan pencemaran pada 2
parameter utama yaitu BOD (Biologycal Oxygen Demand) yaitu jumlah oksigen yang
ada dalam perairan. Semakin besar nilai BOD maka semakin buruk kualitas air
tersebut.
Parameter kedua adalah T-P
(Total Phospat) merupakan indikator pencemar biologi, semakin tinggi T-P maka
Tingkat pencemaran semakin tinggi. Lokasi penurunan beban pencemar dilakukan
pada 4 large area, 117 medium area dan 850 small areas dengan mendesain target
penurunan pencemar untuk setiap titik/point.
Gambar di bawah ini adalah
keadaan sungai Han tahun 2014.
Permukiman kumuh yang berada
di sekitar pinggiran sungai Han, Kemudian dipindahkan ke apartemen/rumah susun
dengan lokasi bersebrangan sungai Han.
Sbr: Foto pribadi, 2014
Penataan Sungai Han, sepadan
sungai yang dimanfaatkan untuk penghijauan dan arena rekreasi masyarakat.
Tampak sungai dan sekitar sungai bersih tanpa sampah dan tertata baik.
Upaya yang dilakukan
membuahkan hasil, terjadi penurunan pencemaran yang tajam, sekitar 60 % pada
tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2002.
Upaya terus dilakukan dengan
pencegahan pembangunan yang sporadis, mendorong pembangunan infrastruktur yang
berwawasan lingkungan; membangun platform pengelolaan DAS dengan pendekatan
keilmuan; pengembangan sumberdaya manusia dan organisasi serta riset and
development project yang terus dikembangkan.
*Lanjut ke bagian 2
http://efandora.blogspot.com/2016/12/kecanggihan-korea-selatan-dalama-menata.html


No comments:
Post a Comment