Friday, December 23, 2016

KECANGGIHAN KOREA SELATAN dalam MENATA LINGKUNGAN (1)


Siapa yang tak kenal Korea Selatan?negara yang dahulu penuh dengan ‘gejolak’,namun dalam waktu yang singkat telah menjadi salah satu negara maju di Asia. Siapa sangka, kemajuan teknologi Korsel telah menjadi pesaing utama Jepang atau Eropa yang sudah maju terlebih dahulu. Berbagai produk elektronik Korsel sudah merambah dibanyak negara termasuk Indonesia. Dengan mudah kita bisa mendapatkan produk-produk Korea dangan harga bersaing. 
Sebagai salah satu negara maju, maka kebijakan lingkungan Korsel tidak hanya memperbaiki lingkungan tetapi Korsel telah menetapkan pembangunan berwawasan lingkungan dan menjadi salah satu negara yang berkewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca. Pada tahun 2008, Korsel mendeklarasikan  ‘Low Carbon Green Growth Is A New National Growth Paradigm That Creat New Growth Engines And Clean Jobs’.

Permasalahan Lingkungan yang Akut
Dalam sejarahnya, Korsel merupakan negara yang sering dijajah oleh Jepang. Selain sejarahnya yang rumit, Korsel juga mengalami permasalahan lingkungan yang sangat akut. Polusi yang tinggi dan kerusakan lingkungan parah terjadi di mana-mana.
Sungai menjadi tempat pembuangan sampah terpanjang. Industri dan domestik dengan bebas membuang limbahnya ke sungai. Ikan dan makhluk air lainnya tidak bisa berkembang biak bahkan mati. Daerah kumuh tersebar terutama di bantaran sungai. Semua menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat.
Gambaran tersebut adalah gambaran Korea Selatan pada tahun 1960-1980an. Walaupun sampai akhir tahun 2000 Korsel masih dihadapi pada permasalahan banjir, namun upaya yang dilakukan sejak tahun 1960an memberikan hasil nyata saat ini.


Restorasi Sungai, Kebijakan Prioritas Korsel
Diawali dengan membangun aksi konservasi sungai, kemudian dikembangkan menjadi program Restorasi di 4 sungai utama secara terintegrasi, yaitu sungai Han, Nakdong, Geun dan Yeong San. Inilah yang terkenal dengan Proyek Restorasi dan menjadi kebijakan utama Korsel dalam pembangunan berwawasan lingkungan.
Restorasi 4 sungai merupakan penerapan dari dasar kebijakan pembangunan Korsel yaitu Green Growth dengan tiga tujuan utama, yaitu;
-      Secure water,  keamanan terhadap sumber-sumber air;
-      Prevent Flood, pencegahan terhadap banjir
-   Environmental Improvement, peningkatan kualitas air, mengembalikan ekosistem perairan, membangun fasilitas terkait dengan pengelolaan DAS.


Ketiga fokus kebijakan tersebut dilakukan sejak tahun 2009 sampai saat ini dan telah menghabiskan dana sekitar 2.4 trilliun Won. Sungguh komitmen yang luar biasa

Pendekatan Teknologi dan Sains
Teknologi dan sains menjadi dasar penerapan kebijakan lingkungan Korsel, sehingga apa yang direncanakan dapat diimplementasikan dan memberikan hasil yang optimal. Ketiga fokus kebijakan di atas dijabarkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut, 


1.   Securing Water Resources and Preventing Floods,
-     membangun 16 weirs  yang berfungsi untuk mengamankan air dalam jumlah besar,   sekitar 800 juta m3 didesain berdasarkan landmark lokal, penghubung transportasi serta berfungsi sebagai pariwisata dan  lingkungan;
-   menguatkan tanggul-tanggul dan membangun bendungan-bendungan kecil sebagai upaya meningkatkan pengendalian banjir

2.    Imporving Water Quality and Restorating Aquatic Ecosystem,
-     meningkatkan fasilitas lingkungan dasar dengan mengoperasikan sebanyak 1.044 fasilitas lingkungan dasar untuk meningkatkan kualitas air (diantaranya, pengolahan limbah domestik,pertanian, industri dan sumber pencemar lainnya);
-   menciptakan ekosistem lahan basah natural sebaganyak 136 area; restore ekosistem perairan, mengembangbiakan dan menanam ikan-ikan yang hampir punah.


3.    Creating Watersheed Culture and Driving Local Growth;
-    Membangun ruang publik baru disepanjang sungai (waterfront) sebagai fasilitas    untuk rekreasi dan berolah raga;
-      mengembangkan ruang bersepeda sepanjang 1.728 km di 4 sungai utama.

Penetapan kebijakan lingkungan Korsel telah dimulai sejak tahun 1960an. Pada tahun 1977,  mulai dilaksanakan aksi pencegahan Polusi terhadap Lingkungan yang diikuti oleh aksi pengelolaan limbah dan koservasi lingkungan.

Restorasi sungai merupakan kebijakan besar yang merupakan rangkaian dari kebijakan ‘spesifik’, diantaranya adalah


Total Pollution Load Management, 
Merupakan upaya untuk menurunkan pencemaran dimulai dari sumber pencemar. Parameter yang menjadi dasar penurunan pencemaran  pada 2 parameter utama yaitu BOD (Biologycal Oxygen Demand) yaitu jumlah oksigen yang ada dalam perairan. Semakin besar nilai BOD maka semakin buruk kualitas air tersebut. 

Parameter kedua adalah T-P (Total Phospat) merupakan indikator pencemar biologi, semakin tinggi T-P maka Tingkat pencemaran semakin tinggi. Lokasi penurunan beban pencemar dilakukan pada 4 large area, 117 medium area dan 850 small areas dengan mendesain target penurunan pencemar untuk setiap titik/point.

  

Gambar di bawah ini adalah keadaan sungai Han tahun 2014.




Permukiman kumuh yang berada di sekitar pinggiran sungai Han, Kemudian dipindahkan ke apartemen/rumah susun dengan lokasi bersebrangan sungai Han.
Sbr: Foto pribadi, 2014




Penataan Sungai Han, sepadan sungai yang dimanfaatkan untuk penghijauan dan arena rekreasi masyarakat. Tampak sungai dan sekitar sungai bersih tanpa sampah dan tertata baik.
Sbr; foto pribadi, 2014

Upaya yang dilakukan membuahkan hasil, terjadi penurunan pencemaran yang tajam, sekitar 60 % pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2002.

Upaya terus dilakukan dengan pencegahan pembangunan yang sporadis, mendorong pembangunan infrastruktur yang berwawasan lingkungan; membangun platform pengelolaan DAS dengan pendekatan keilmuan; pengembangan sumberdaya manusia dan organisasi serta riset and development project yang terus dikembangkan. 

*Lanjut ke bagian 2

http://efandora.blogspot.com/2016/12/kecanggihan-korea-selatan-dalama-menata.html


No comments:

Post a Comment