Monday, December 19, 2016

MENGHIDUPKAN KEMBALI SUNGAI MATI, Sungai Anyang, Korea Selatan.



Saat ini Korea Selatan (Korsel) merupakan salah satu destinasi wisata yang paling diminati para pelancong. Keterkenalan Korsel disamping karena teknologinya yang sudah mendunia, budaya khas  dan panoramanya menjadi daya tarik tersendiri. Siapa sangka, pada tahun 1960-1980an keadaan Korsel tidak jauh berbeda dengan Indonesia saat ini, terutama di kota-kota besarnya.

Sungai Anyang
Korsel dengan luas sekitar 99.274 km2 memiliki 4 sungai besar yaitu sungai Han, Nakdong, Geum dan Sungai Yeoung. Sungai menjadi jantung dari kehidupan masyarakat, menjadi sumber air bersih, sumber air bagi industri, pertanian, peternakan dan aktivitas lainnya. Tingginya urbanisasi di kawasan perkotaan menyebabkan tekanan terhadap wilayah sekitar sungai terus bertambah. Sungai menjadi pusat permukiman kumuh, tempat sampah dan septitank terpanjang dan terbesar.

Sungai Anyang adalah salah satu anak sungai Han yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan sungai induknya. Sungai Anyang dikenal sebagai DEAD RIVER, pencemaran yang parah menyebabkan tidak satupun makhluk yang dapat hidup di Sungai Anyang. 

Namun, berkat kerjasama yang baik dan komitmen yang kuat, setelah 25 tahun,  Sungai Anyang menjadi sungai yang hidup kembali.

Sungai Mati
Selama puluhan tahun, Sungai Anyang mengalami masa-masa kritis. Sampah dan limbah memenuhi sungai. Masyarakat dengan mudahnya membuang barang-barang tak terpakai. Sungai menjadi gudang berbagai jenis sampah organik dan anorganik.
Tingginya urbanisasi dan industrialisasi di kota Seoul menyebabkan tekanan terhadap lingkungan semakin besar. Sepanjang sepadan sungai menjadi kawasan kumuh. Perumahan/permukiman dan perkantoran dengan bebasnya membuang limbah ke sungai. Industri  yang tumbuh menjadikan sungai tempat pembuangan limbah yang mudah dan gratis.


 Gambaran Sungai Anyang di Anyang River Galery, Seoul.

Tak heran jika pada masa itu, kualitas air sungai sangat buruk ditandai dengan parameter BOD (jumlah oksigen terlaut dalam air) dengan nilai sekitar 190 mg/l (mili gram per liter), semakin tinggi nilai BOD menunjukkan semakin tingginya pencemaran.  Air sungai berbusa dan berbuih, warna gelap limbah bersatu dan bercampur dengan berbagai material yang dibuang ke sungai.  

Debit air berfluktuasi sangat tinggi, pada saat musim hujan debit berlebih sehingga sering terjadi banjir sedangkan pada musim kemarau debit air sangat berkurang. Kondisi ini tentunya tak jauh berbeda dengan kondisi perairan yang ada di Indonesia.
Pencemaran dan  kerusakan ekosistem yang parah menyebabkan ikan dan binatang air lainnya tidak dapat hidup. Tidak ada tanaman yang dapat tumbuh di badan sungai dan sekitar Sungai Anyang. Tak heran kondisi ini menyebabkan lebih dari 25 tahun Sungai Anyang dikenal sebagai  SUNGAI MATI.

MENGHIDUPKAN SUNGAI MATI
Pengolahan Air Limbah menjadi Kunci Utama
Sejak tahun 1990-an upaya peningkatan kualitas sungai terus dilakukan oleh pemerintah Korsel. Dasar kebijakan yang diterapkan dengan pendekatan alam. Perhitungan yang cermat dan desain sungai mendekati keadaan alaminya.  Secara bertahap hasilnya nampak dengan penurunan nilai BOD. 

Penurunan signifikan terjadi setelah pembangunan instalasi pengolahan air limbah pada tahun 1995. Mampu menurunkan nilai BOD menjadi 50 mg/l dan terus menurun menjadi  20 mg/l pada tahun 2000. Sungguh pencapaian yang luar biasa.

Restorasi Sungai
Pada Tahun 1999 dibentuk tim khusus untuk menyelesaikan permasalah sungai Anyang. Tim bertugas menyusun rencana yang komprehensif dan sistematis terkait dengan kondisi dan karakteristik Sungai Anyang. Kegiatan yang dilakukan melalui pendekatan lingkungan

Program/kegiatan tidak hanya dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup saja tetapi  kementerian lain ikut berperan pula. Program ‘Nature-Friendly river Environment Improvement Project' dari Kementerian Kontruksi dan Transportasi,  ‘Close-To-Nature river Purification Project' dari Kementerian Lingkungan dan  ‘Ecological river Project'  oleh Pemerintah Daerah setempat merupakan program-program terintegrasi dalam upaya perbaikan Sungai Anyang

Dalam aspek legalitas, kebijakan peningkatan kualitas dan konservasi lingkungan sungai, ditambahkan pada peraturan sungai di tahun 1999 .

Penguatan dilakukan melalui program Restorasi Sungai di tahun 2004. Restorasi Sungai Anyang merupakan rencana besar,  bertujuan;
-          meningkatkan aliran sungai,
-          meningkatkan kualias air,
-          menjaga keamanan kualitas air
-          mengembalikan ekosistem sungai 
-          meningkatkan partisipasi masyarakat.  

Tahapan Mendasar
Tahapan mendasar yang diterapkan dalam pegelolaan Sungai Anyang, adalah;

1.      Mengurangi dan mengolah limbah,
·       Bertujuan untuk meningkatkan kualitas sungai Anyang dengan mengurangi dan mencegah pencemaran;
·    Pembangunan instalasi pengolah limbah rumah tangga, limbah industri dan sumber pencemar lainnya;
·      Menerapkan pengolahan air yang lebih canggih dan menghilangkan limbah logam dari sungai ;
·        pengerukan sungai untuk memperdalam dasar sungai.  

2.      Fasilitas Purifikasi sungai,  
merupakan peralatan untuk meningkatan kualitas sungai tanpa melalui saluran dengan kapasitas tertentu.
Tim terus mempublikasikan pengurangan ditergen dan  limbah minyak harus dihilangkan dan limbah makanan harus dipisahkan sehingga tidak memperberat  alat purifkasi.

Pada akhirnya, ditahun 2005 nilai BOD telah mencapai 5 mg/l. Sebagian hulu sungai sudah layak digunakan untuk berenang.



 Tampak Sungai Anyang dilihat dari gedung Anyang River Galery, Seoul


Kembalinya kehidupan Sungai Anyang ditandai dengan penemuan berbagai binatang air dan tumbuhnya  air. Perlahan, binatang yang dianggap hilang kemudian muncul , kembali kehabitat awalnya. Saat ini, Sungai Anyang sudah memiliki ekosistem yang 'lengkap'. Pada akhirnya,  Sungai Anyang mendekati kealamiahannya, binatang dan tumbuhan datang dengan sendirinya. Adanya tumbuhan dan binatang merupakan indikator sehatnya lingkungan tersebut.  Semakin beragam, maka semakin sehat lingkungannya.

Peran Penting Masyarakat
Korea Selatan, adalah Negara yang sangat konsisten menerapkan pembangunan yang berbasis lingkungan. Pencapaian ini tentu saja tidak serta merta mereka dapatkan. Proses panjang dan komitmen yang kuat dari pemerintah, masyarakat dan industry menjadi kunci dari keberhasilan kebijakan  perbaikan sungai. 

Konsep dasar dari master plan Sungai Anyang merupakan hasil diskusi panjang, antara masyarakat dan pemerintah. Dengan motto(1) Sungai Anyang yang sehat dimana ikan-ikan kecil dapat hidup di dalamnya, (2)Sungai Anyang terbebas dari banjir dan kekeringan, (3) Sungai Anyang yang menyenangkan, menjadi tempat wisata warganya, menjadi tujuan dari pemulihan Sungai Anyang.

Pengelolan Sungai Anyang merupakan pelajaran berharga bagi kita, terutama Jawa Barat yang memiliki permasalahn pencemaran dan kerusakan lingkungan yang cukup berat.  Penyelesaian tidak menjadi domain kementerian terkait atau hanya pemerintah daerah saja. Pemerintah Korsel melibatkan berbagai kementerian, pemerintah pusat memegang peran yang sangat besar. Disamping itu, pemerintah daerah juga memegang komitmen yang kuat melaksanakan program ini.

Masyarakat tidak kalah pentingnya, kesadaran akan kebutuhan lingkungan yang baik dan sehat mendorong mereka untuk ikut terlibat langsung, begitu pula dengan institusi pendidikan yang banyak membantu masyarkat dan pemerintah.

Hasilnya memang luar biasa, terbukti bahwa Sungai yang telah mati pun bisa kembali hidup, pulih seperti sebelum tercemar.

Note*
Perjalanan sejarah Sungai Anyang dapat dilihat di Anyang River Gallery, terletak di Seoul dan cukup mudah dijangkau. Dokumentasi Sungai Anyang bisa dilihat di facebook,  https://www.facebook.com/eva.fandora/media_set?set=a.10209015031363848.1073741846.1559171888&type=3

*sumber ;
- Lee, Sam-Hee and Choi, J ung-Kwon. ‘A Study on the Application and Assessment of Urban River Restoration in the Anyang River’. Agustus  2016
- Catatan pribadi, Korea Selatan. 2014.

2 comments:

  1. Cuma butuh satu generasi (25 th) ya mereka untuk menyulap sungai.. Hebat sekali. Padahal kan mesti kerjasama lintas kementerian dan antar 'Pemda' hingga ke area hulu. Salut untuk masyarakat Korsel. Moga2 kita menyusul.. :)

    ReplyDelete