Saturday, March 10, 2018

Belajar dari ANYANG RIVER GALLERY untuk CITARUM CENTRE OF EXCELLENCE


Jawa Barat sudah lama berencana membangun Citarum Centre of Excellence (CCE) atau pusat pembelajaran segala sesuatu tentang Citarum. Kondisi Citarum dan peran pentingnya, menarik semua stake holder untuk berperan aktif dalam pengelolaan Citarum. Bahkan mampu mendatangkan presiden RI untuk hadir langsung melihat kodisi hulu Citarum.
 
Bagaimana sebaiknya CCE direncanakan?apa saja materi yang akan dibahas?Bagaimana desainnya agar banyak orang yang tertarik dan menjadi tempat pembelajaran yang asik?
 
Pada tahun 2014, saya mendapat kesempatan mengunjungi Anyang River Gallery (ARG).  Tulisan ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana ARG dapat menjadi referensi CCE. 

Tulisan sebelumnya, http://efandora.blogspot.co.id/2016/12/menghidupkan-kembali-sungai-mati-sungai.html, menceritakan bagaimana upaya negara Korsel dalam memperbaiki sungai Han termasuk didalamnya anak-anak sungai Han. 

Sungai Han merupakan satu dari empat sungai besar di Korsel.  Melalui program Restorasi sungai, sungai Anyang yang merupakan anak sungai Han, menjadi target perbaikan program tersebut. 

Salah satu sudut ARG yang paling menarik. Dokpri

Mengapa S. Anyang memiliki galeri khusus? 

S. Anyang berada di kota Seoul, lokasinya yang strategis, memiliki peran penting dalam ekosistem lingkungan dan menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitarnya. Di sisi lain, sungai ini  memiliki masalah yang kompleks dan pada akhirnya menjadi sungai yang sehat dan indah.

Sejarah perbaikan Sungai Anyang terdokumentasi baik di ARG. Bagaimana kondisi awal S.Anyang yang dikenal sebagai sungai mati kemudian hidup kembali, menjadi sungai yang sehat, bersih dan bebas dari berbagai limbah dan sampah. Menjadi pusat penelitian, pembelajaran dan  rekreasi masyarakat sekitar.

Galeri ini juga menjadi tempat pembelajaran sejarah, bagaimana upaya perbaikan lingkungan yang dilakukan.
  



                              Memory of crisis dan salah satu sarana interaktif bagi pengunjung.Dokpri  

Sesampainya di ARG, kami disambut oleh pengelola ARG dan memperkenalkan seorang ibu muda. Ternyata ibu ini adalah ibu rumah tangga, beliau merupakan salah satu volunteer diantara banyak volunteer lainnya. Mereka yang peduli terhadap S.Anyang mendirikan sebuah komunitas,  yang kemudian salah satunya menjadi relawan di ARG. Komunitas ini terdiri dari berbagai kalangan, ada mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan pekerja.

Dengan bantuan media interaktif, kami mendapatkan penjelasan sejarah awal S. Anyang. Pada tahun 1960-an, S. Anyang dikenal sebagai dead river, karena tingginya pencemaran menyebabkan tak satupun makhluk hidup yang ada di sungai. Bagaimana pada masanya, S. Anyang seperti sungai-sungai di Indonesia saat ini, kotor dengan pencemaran yang tinggi. Menjadi tempat pembuangan berbagai jenis sampah. Sampah plastik, sisa makanan, bangkai binatang, kasur bahkan sepeda tak terpakai ditemukan di S. Anyang. Selain itu, berbagai limbah dari aktivitas industry dan rumah juga dibuang dengan bebasnya ke badan sungai.
                                         Pencemaran yang tinggi di sungai Anyang.Dokpri

Namun dengan program restorasi sungai, perubahan besar terjadi dan berimbas positif terhadap lingkungan sekitarnya. Sungai dan lingkungan sekitarnya menjadi bersih dan sehat.

Pembangunan infrastruktur dilakukan secara besar-besaran. Struktur sungai dan lingkungan sekitar sungai diperbaiki untuk mempeluas dan memperdalam badan sungai. Permukiman kumuh disepanjang sisi kanan kiri sungai dibongkar. Penduduk direlokasi ke rumah susun yang sudah disiapkan. 




Infrastruktur sanitasi termasuk  pengolah limbah domestik skala besar dibangun untuk mencegah agar tidak setetespun limbah yang masuk ke sungai. Begitu pula dengan industri, taka ada satupun industri yang membuang limbahnya ke sungai. Limbah harus mengikuti baku mutu yang sudah ditetapkan.

Selain itu, di beberapa segmen sungai dilakukan pemulihan air sungai, dengan teknologi tertentu mengolah air sungai sehingga kualitasnya jauh lebih baik.

Selama program berjalan, pelibatan masyarakat mendapatkan porsi besar. Sejak mulai perencanaan, masyarakat sudah diikutkan. Sosialisasi dan penyadaran arti penting sungai terus dilakukan. Bagaimana masyarakat dikenalkan kepada sungai yang merupakan bagian dari kehidupan yang ada. Anak-anak sekolah, dari semua tingkatan, diperkenalkan dengan lingkungan sungai. Mereka  dilibatkan untuk membersihkan sungai, misalnya secara rutin mereka ditugaskan membersihkan lingkungan sekita sungai dengan mengambil sampah-sampah yang ada di pinggiran sungai.   
Berbagai festival di gelar di lingkungan S. Anyang. Sebagai cara mendekatkan masyarakat dengan lingkunga sungai.
Penelitian dilakukan dengan seksama, perubahan yang terjadi pada lingkungan S.Anyang terus dilakukan. Penelitian diperlukan untuk membuktikan apakah terjadi perbaikan lingkungan setelah dilakukan berbagai program. Tumbuhan atau hewan apa saja yang ada di lingkungan sungai. 

Keberagaman ekosistem menunjukkan sehat tidaknya suatu lingkungan, semakin beragam makhluk hidup yang ada, semakin sehat lingkungan tersebut.


           Foto atas, memperlihatkan hewan dan tumbuhan apa saja yang ditemukan. Dokpri

Perjalanan perbaikan lingkungan dipamerkan dengan menarik, bagaimana lingkungan menjadi sehat, datangnya berbagai binatang dengan sendirinya, tumbuhnya tanaman-tanaman sungai bahkan binatang yang tadinya dianggap sudah punah di kawasan sungai Anyang kemudian hadir dan dapat berkembang biak.



S. Anyang berada di seberang ARG sehingga mudah mengamati. Dokpri.

ARG berada diseberang S. Anyang. Dari gedung ini kita dapat melihat kondisi S.Anyang sebenarnya.

JIka melihat sejarah perbaikan S. Anyang, pada awalnya dilakukan perubahan kontruksi sungai. Pembangunan fisik diperlukan untuk untuk membantu memulihkan kondisi S. Anyang. Setelah membaik, kondisi sungai dikembalikan ke kondisi sealamiah mungkin. Jadi bantaran sungai ditumbuhi berbagai tumbuhan liar,setelahnya dibangun taman/tempat olah raga dan setelahnya barulah jalan.



                                Di bagian atas gedung ARG, tampak S. Anyang Dok.pri



Anyang River Gallery sangat interaktif, dengan gedung yang nyaman dan cukup megah. Dokumentasi perkembangan perbaikan S.Anyang terpangpang dalam berbagai foto dan informasi. Beberapa dilengkapi dengan media interaktif,  dengan gambar dan warna yang menarik. Namun sayangnya hampir semua dalam bahasa Korea termasuk pemandunya, sehingga kami memerlukan translater.

ARG dapat menjadi salah satu referensi CCE, tentu saja disesuaikan dengan muatan lokal.  Persiapan dapat dimulai dengan mendokumentasikan berbagai program/kegiatan Citarum i yang sudah belangsung lama .Diharapkan, CCE menjadi pusat informasi dan pusat pembelajaran  pengelolaan sungai lainnya. S e m o g a

2 comments: