Seperti
biasanya, pukul 06.30 aku sudah memarkirkan mobilku di pelataran parkir barat Gedung
Sate (Gesat). Belum banyak kendaraan parkir, mungkin masih terlalu pagi. Aku
dengan leluasa dapat memilih tempat parkir, tentu lokasi yang strategis menjadi
pilihan. Pada siang hari, walaupun lapangan parkir sangat luas tetapi sering
kali tidak cukup menampung tamu yang datang karena padatnya acara.
Karena
waktu mulai kerja masih lama, berjalan pagi mengelilingi Gesat adalah pilihan
tepat sebelum mulai bekerja. Udara pagi hari dapat membuat kita menjadi lebih
segar dan rileks. Taman asri sekitar Gesat dengan pepohonan tertata indah,
sesekali burung beterbangan mengitari taman adalah suasana ideal yang menenangkan.
Setelah
berjalan santai sekitar setengah jam, kemudian aku segera berbelok ke ruang
kerja. Ruangan masih sepi, baru OB saja yang sedang bersih-bersih. Aku
duduk dan memperhatikan ruanganku sejenak, kalau dihitung-hitung sudah ada 4
bulan aku menempati ruangan ini. Entah sampai kapan ditugaskan disini, bisa
setahun, dua tahun?hhhmmm…..
Sembari
membaca berkas-berkas di atas meja. Petugas tata usaha datang dan menyampaikan
surat-surat yang sebagian besar adalah tugas yang harus aku kerjakan hari ini.
Aku baca surat satu persatu, adalah keharusan sebelum mengerjakan
tugas lain. Disposisi surat sering kali mendadak dan meminta pekerjaan selesai hari itu juga atau
ada rapat yang harus dihadiri langsung.
Satu
surat aku baca, intinya menugaskan aku untuk mebuat paparan dan akan dibahas malam ini. Aku
buka lembar berikutnya, ternyata pembahasannya dilaksankan jam tujuh malam. Baiklah,
sekarang jam 9 pagi, ada beberapa jam untuk menyusun bahan sebelum didiskusikan
dengan pimpinan sambil mengerjakan tugas lainnya.
Aku
sampaikan bahan paparan kepada pimpian langsung, Pak Harun. Setelah berdiskusi,
kami sepakat untuk memperbaiki beberapa slide sebelum disampaikan ke bosnya Pak Harun, yaitu Pak Anwar.
’’jam
7 malam, kita bahas bersama Pak Anwar, tolong bawa bahannya barang kali ada
perbaikan”, Pak Harun menugaskanku untuk
hadir. Akupun menyanggupinya.
Wah…..aku
pulang malam lagi dong, ya sudah lah...kataku dalam hati.
Setelah
shalat magrib di mushala basement Gesat, tepat jam 7 malam aku bergegas ke
ruangan Pak Anwar. Sambil melangkah,
tiba dipersimpangan di lorong basment, aku teringat foto dinding yang kemarin. Aku paksakan terus melangkah, menelusuri tangga untuk naik ke lantai 2, dimana ruang rapat berada. Sepi dan
sangat sepi...berkelebatan bayangan wajah wanita cantik berkebaya hijau pupus, tapi aku berusaha
untuk tidak mengingatnya dan berusaha untuk mengabaikannya...berhasil! akhirnya
aku sampai di ruangan rapat Pak Anwar.
Aku
baru sendirian di ruangan rapat. Seperti ruangan yang lain, jendela di ruangan
ini juga cukup besar dan tampak jelas halaman depan Gesat. Sambil menikmati
terpaan angin menuju malam, tampak langit malam yang cerah. Mobil masih banyak
berlalu lalang, gedung tinggi dengan lampu yang gemerlap mengurangi keindahan lingkungan Gesat yang alami…….Ah, kenapa orang-orang menyandingkan gedung-gedung
tinggi di sekitar Gesat? Seharusnya tak boleh ada gedung tinggi yang
mengalahkan Gesat, biarkan Gesat berdiri gagah di kawasan Gasibu….
‘’Assalamualaikum, wah, bu Ife sudah hadir, ’’ Pak Harun menyapaku.
‘’Waalaikumussalam
…Ya, pak, saya nunggu dikantor, jadi
bisa lebih awal disini, ‘’ jawabku
Tak
berapa lama, datang para pejabat struktural lainnya. Setelah menunggu
sepuluh menit, Pak Anwar datang dan menyapa kami. Rapat dimulai jam tujuh
lebih lima belas menit, tak lebih dari dua jam, rapat sudah selesai. Ada
beberapa point penting yang harus kami tambahkan sebelum disampaikan pada rapat
besok.
"Besok,
jam 8 pagi, hasil perbaikannya sudah
sampai di saya”, Pak Anwar mengingatkan kami.
“Baik
pa”, berbarengan kami menjawab.
Aku
bereskan laptopku, secepatnya. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam lebih, segera
aku berpamitan kepada semua yang ada diruangan. Sambil menganggukan kepala, aku
kemudian keluar ruang rapat Pak Anwar yang terletak di sayap Barat.
Aula timur gesat tampak dari lantai atas.
dokpri
Baru
berapa langkah dari pintu ruang rapat, seolah-olah aku mendengar suara musik. Aku berjalan
menuju arah suara,
semakin lama, suara musik itu semakin jelas....
Alunan biola dengan musik pelan, aku berusaha mencari asal mula suara....ternyata berasal dari ruang bawah,
Alunan biola dengan musik pelan, aku berusaha mencari asal mula suara....ternyata berasal dari ruang bawah,
Aku melihat ke arah bawah, aula nampak megah terihat dari atas dengan lampu besar yang khas.....suara musik makin terdengar jelas...alunannya sangat indah namun aku tidak bisa mengenali lagu apa yang sedang dimainkan…aku mencoba mencari arah suara…tiba-tiba aku melihat bayangan di salah satu sudut aula. Seseorang dengan gemulai menari, sangat indah. Tak tampak jelas, namun gerakannya mengikuti alunan musik biola yang dimainkan. Aku terpana melihatnya.
Jelas gerakannya adalah penari sebenarnya....Bayangan ini semakin lama, semakin jelas, mendekat ke arahku…semakin dekat…...berbalik menghadapku!.....tersenyum manis…senyum yang sepertinya sudahku kenal….perempuan berkebaya hijau pupus!!!
“Ífe,
Kamu lagi ngapain di sini?”
Tiba-tiba
aku tersadar. Bosku menghampiriku dengan menepuk pundakku, berbarengan dengan
hilangnya suara musik.
Aku
terdiam diujung lorong lantai 2, berseberangan dengan ruang rapat tadi.
Cukup jauh jarak dari pintu ruang rapat dan tempat di mana aku berdiri saat ini.
“Tadi
saya panggil kamu berkali-kali, kok kamu tampak bingung? Katanya mau pulang
duluan, kok masih di sini? Mau ke mana? sederetan pertanyaan yang dilontarkan Pak
Harun, tak satupun aku jawab. Aku hanya
tersenyum...’’Ya pak, saya mau pulang’’ jawabku.
Aku
berbalik meuju tangga untuk turun, ...
’’Ya
sudah, yu turun bareng, tuh semua juga sudah mau pada turun, mau pada pulang,’’
lanjut pak Harun.
Pikiranku
masih berkecamuk, mataku menangkap
jelas bayangan perempuan itu tepat mendekat ke arahku!
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah teman-temanku tak satupun mendengar suara biola? Apakah bosku juga melihat perempuan itu? Ah...aku urungkan niat bertanya, sekarang aku harus fokus. Pulang!
baca juga; http://efandora.blogspot.co.id/2017/03/wajah-di-foto.html
Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah teman-temanku tak satupun mendengar suara biola? Apakah bosku juga melihat perempuan itu? Ah...aku urungkan niat bertanya, sekarang aku harus fokus. Pulang!
baca juga; http://efandora.blogspot.co.id/2017/03/wajah-di-foto.html

Misteri gedung sate, cerita mengalir dan bikin merinding bu. Kereen...
ReplyDeleteAlhamdulillah...nuhun pa, masih belum secanggih pa andrie...hehehe
Delete