Friday, February 16, 2018

Suara Musik tanpa Alat



Seperti biasanya, pukul 06.30 aku sudah memarkirkan mobilku di pelataran parkir barat Gedung Sate (Gesat). Belum banyak kendaraan parkir, mungkin masih terlalu pagi. Aku dengan leluasa dapat memilih tempat parkir, tentu lokasi yang strategis menjadi pilihan. Pada siang hari, walaupun lapangan parkir sangat luas tetapi sering kali tidak cukup menampung tamu yang datang karena padatnya acara.

Karena waktu mulai kerja masih lama, berjalan pagi mengelilingi Gesat adalah pilihan tepat sebelum mulai bekerja. Udara pagi hari dapat membuat kita menjadi lebih segar dan rileks. Taman asri sekitar Gesat dengan pepohonan tertata indah, sesekali burung beterbangan mengitari taman adalah suasana ideal yang menenangkan.

Setelah berjalan santai sekitar setengah jam, kemudian aku segera berbelok ke ruang kerja. Ruangan masih sepi, baru OB saja yang sedang bersih-bersih. Aku duduk dan memperhatikan ruanganku sejenak, kalau dihitung-hitung sudah ada 4 bulan aku menempati ruangan ini. Entah sampai kapan ditugaskan disini, bisa setahun, dua tahun?hhhmmm…..

Sembari membaca berkas-berkas di atas meja. Petugas tata usaha datang dan menyampaikan surat-surat yang sebagian besar adalah tugas yang harus aku kerjakan hari ini. Aku baca surat satu persatu, adalah keharusan sebelum mengerjakan tugas lain. Disposisi  surat sering kali mendadak dan meminta pekerjaan selesai hari itu juga atau ada rapat yang harus dihadiri langsung.
Satu surat aku baca, intinya menugaskan aku untuk  mebuat paparan dan akan dibahas malam ini. Aku buka lembar berikutnya, ternyata pembahasannya dilaksankan jam tujuh malam. Baiklah, sekarang jam 9 pagi, ada beberapa jam untuk menyusun bahan sebelum didiskusikan dengan pimpinan sambil mengerjakan tugas lainnya.

Aku sampaikan bahan paparan kepada pimpian langsung, Pak Harun. Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk memperbaiki beberapa slide sebelum disampaikan ke bosnya Pak Harun, yaitu Pak Anwar.

’’jam 7 malam, kita bahas bersama Pak Anwar, tolong bawa bahannya barang kali ada perbaikan”, Pak  Harun menugaskanku untuk hadir. Akupun menyanggupinya.

Wah…..aku pulang malam lagi dong, ya sudah lah...kataku dalam hati.

Setelah shalat magrib di mushala basement Gesat, tepat jam 7 malam aku bergegas ke ruangan Pak Anwar.  Sambil melangkah, tiba dipersimpangan di lorong basment, aku teringat foto dinding yang kemarin. Aku paksakan terus melangkah, menelusuri tangga untuk naik ke lantai 2, dimana ruang rapat berada. Sepi dan sangat sepi...berkelebatan bayangan wajah wanita cantik berkebaya hijau pupus, tapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya dan berusaha untuk mengabaikannya...berhasil! akhirnya aku sampai di ruangan rapat Pak Anwar.
Aku baru sendirian di ruangan rapat. Seperti ruangan yang lain, jendela di ruangan ini juga cukup besar dan tampak jelas halaman depan Gesat. Sambil menikmati terpaan angin menuju malam, tampak langit malam yang cerah. Mobil masih banyak berlalu lalang, gedung tinggi dengan lampu yang gemerlap mengurangi keindahan lingkungan Gesat yang alami…….Ah, kenapa orang-orang menyandingkan gedung-gedung tinggi di sekitar Gesat? Seharusnya tak boleh ada gedung tinggi yang mengalahkan Gesat, biarkan Gesat berdiri gagah di kawasan Gasibu….

 ‘’Assalamualaikum, wah, bu Ife sudah hadir, ’’ Pak Harun menyapaku.

‘’Waalaikumussalam …Ya, pak, saya  nunggu dikantor, jadi bisa lebih awal disini, ‘’ jawabku

Tak berapa lama, datang para pejabat struktural lainnya. Setelah menunggu sepuluh menit, Pak Anwar datang dan menyapa kami. Rapat dimulai jam tujuh lebih lima belas menit, tak lebih dari dua jam, rapat sudah selesai. Ada beberapa point penting yang harus kami tambahkan sebelum disampaikan pada rapat besok.

"Besok, jam 8 pagi,  hasil perbaikannya sudah sampai di saya”, Pak Anwar mengingatkan kami.
“Baik pa”, berbarengan kami menjawab.

Aku bereskan laptopku, secepatnya. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam lebih, segera aku berpamitan kepada semua yang ada diruangan. Sambil menganggukan kepala, aku kemudian keluar ruang rapat Pak Anwar yang terletak di sayap Barat.

 Aula timur gesat tampak dari lantai atas. 
dokpri

Baru berapa langkah dari pintu ruang rapat, seolah-olah aku mendengar suara musik.  Aku berjalan menuju arah suara, semakin lama, suara musik itu semakin jelas....
Alunan biola dengan musik pelan, aku berusaha mencari asal mula suara....ternyata berasal dari ruang bawah,

Aku melihat  ke arah bawah, aula nampak megah terihat dari atas dengan lampu besar yang khas.....suara musik makin terdengar jelas...alunannya sangat indah namun aku tidak bisa mengenali lagu apa yang sedang dimainkan…aku mencoba mencari arah suara…tiba-tiba aku melihat bayangan di salah satu sudut aula. Seseorang dengan gemulai menari, sangat indah. Tak tampak jelas, namun gerakannya mengikuti alunan musik biola yang dimainkan. Aku terpana melihatnya. 
Jelas gerakannya adalah penari sebenarnya....Bayangan ini semakin lama, semakin jelas, mendekat ke arahku…semakin dekat…...berbalik menghadapku!.....tersenyum manis…senyum yang sepertinya sudahku kenal….perempuan berkebaya hijau pupus!!!

“Ífe, Kamu lagi ngapain di sini?”

Tiba-tiba aku tersadar. Bosku menghampiriku dengan menepuk pundakku, berbarengan dengan hilangnya suara musik.

Aku terdiam diujung lorong lantai 2, berseberangan dengan ruang rapat tadi. Cukup jauh jarak dari pintu ruang rapat dan tempat di mana aku berdiri saat ini.

“Tadi saya panggil kamu berkali-kali, kok kamu tampak bingung? Katanya mau pulang duluan, kok masih di sini? Mau ke mana? sederetan pertanyaan yang dilontarkan Pak Harun,  tak satupun aku jawab. Aku hanya tersenyum...’’Ya pak, saya mau pulang’’ jawabku.

Aku berbalik meuju tangga untuk turun, ...
’’Ya sudah, yu turun bareng, tuh semua juga sudah mau pada turun, mau pada pulang,’’ lanjut pak Harun.

Pikiranku masih berkecamuk,  mataku menangkap jelas bayangan perempuan itu tepat  mendekat ke arahku!

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah teman-temanku tak satupun mendengar suara biola? Apakah bosku juga melihat perempuan itu? Ah...aku urungkan niat  bertanya, sekarang aku harus fokus. Pulang!

baca juga;  http://efandora.blogspot.co.id/2017/03/wajah-di-foto.html

2 comments:

  1. Misteri gedung sate, cerita mengalir dan bikin merinding bu. Kereen...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...nuhun pa, masih belum secanggih pa andrie...hehehe

      Delete